Berkat Duo Miliarder Indonesia, Como 1907 jadi Saingan Terberat Juventus soal Ini

Setelah diakuisisi oleh dua miliarder bersaudara asal Indonesia, Como yang dulunya hanyalah tim kecil kini bertransformasi menjadi salah satu kekuatan tangguh di Serie A, siap bersaing dengan klub-klub papan atas Italia.

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 09 Agustus 2025, 21:00 WIB
Como 1907 - Ilustrasi Logo Como 1907 (Bola.com/Rosa Anggraeni)

Liputan6.com, Jakarta Hanya dalam kurun enam bulan, klub Italia Como 1907 telah menggelontorkan lebih dari USD 100 juta atau sekitar Rp65,2 triliun (estimasi kurs Rp16.400/USD) di bursa transfer. Suntikan dana besar dari pemiliknya, seorang miliarder asal Indonesia, membuat Como bertransformasi menjadi salah satu tim tangguh di Serie A.

Pada bursa transfer musim panas ini saja, Como menghabiskan USD 63 juta atau sekitar Rp1,03 triliun untuk mendatangkan lima pemain baru.

Rinciannya, USD 26,5 juta (sekitar Rp431,66 miliar) untuk Jesus Rodriguez dari Real Betis, USD 21 juta (sekitar Rp341,88 miliar) untuk Martin Baturina dari Dinamo Zagreb, serta USD 15,5 juta (sekitar Rp252,34 miliar) untuk mempermanenkan kontrak Alex Valle, Ignace Van der Brempt, dan Fellipe Jack yang sebelumnya berstatus pinjaman.

Gelontoran dana besar membuat Como menempati posisi ketiga sebagai klub dengan pengeluaran terbesar di Serie A pada musim panas ini. Mereka berada di bawah Juventus yang mengeluarkan USD 87 juta (sekitar Rp1,42 triliun) dan Atalanta dengan USD 73 juta (sekitar Rp1,19 triliun), berdasarkan data Transfermarkt.

Pada bursa transfer Januari lalu, Como bahkan menjadi klub dengan pengeluaran tertinggi, yakni USD 58 juta atau sekitar Rp944,41 miliar. Jika digabungkan, dalam dua periode bursa transfer yang hanya berjarak enam bulan, mereka telah menghabiskan total USD 121 juta atau sekitar Rp1,97 triliun, jumlah yang tergolong besar bahkan untuk klub papan atas.

Namun, pengucuran dana Como tampaknya belum akan berhenti. Klub tersebut dikabarkan tengah membidik Alvaro Morata, Jayden Addai, serta seorang bek tengah kidal.

 

 

 

Hartono Bersaudara

FOTO4: Atlet bridge Indonesia, Bambang Hartono memberi keterangan pers di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (22/8). Menurut laman Forbes pada Maret 2018, bos Djarum Group ini memiliki kekayaan sebesar USD 16,7 miliar. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Langkah agresif ini tentu memunculkan pertanyaan: mengapa klub yang sebelumnya tidak pernah menjadi kekuatan besar di sepak bola Italia begitu royal berinvestasi? Jawabannya ada pada sosok pemilik Como.

Klub ini berada di bawah naungan Djarum, konglomerat asal Indonesia yang memiliki portofolio bisnis di sektor perbankan, real estat, teknologi, hingga tembakau.

Djarum dipimpin oleh Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, dua miliarder bersaudara yang menempati peringkat ke-71 dan ke-76 dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes, dengan kekayaan masing-masing mencapai USD 26,5 miliar (sekitar Rp431,22 triliun) dan USD 25,5 miliar (sekitar Rp414,95 triliun).

Hartono bersaudara mengakuisisi Como pada 2019 hanya dengan harga USD 220.000 (sekitar Rp3,58 miliar) saat klub tersebut masih berkompetisi di Serie D. Sejak diakuisisi, Como menjelma menjadi salah satu proyek paling ambisius di sepak bola Eropa.

Mereka berhasil promosi ke Serie C pada 2020, naik ke Serie B pada 2021, lalu menembus Serie A pada 2024. Musim lalu, Como finis di peringkat ke-10 Serie A, melampaui klub-klub ternama seperti Torino, Genoa, Verona, dan Cagliari.

 

Kebangkitan Como

Pelatih kepala Como asal Spanyol, Cesc Fabregas, bereaksi dari area teknis selama pertandingan Seri A Italia antara Inter Milan dan Como di Stadion San Siro di Milan pada 23 Desember 2024. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Pendekatan Hartono bersaudara tergolong unik. Setiap musim, mereka mengucurkan puluhan juta dolar untuk membiayai klub tanpa mengandalkan pinjaman. Selain itu, mereka juga berinvestasi dalam renovasi Stadion Giuseppe Sinigaglia dan pembangunan pusat olahraga baru.

Kebangkitan Como tidak hanya berkat modal finansial. Beberapa legenda sepak bola juga memegang peran penting di balik layar. Cesc Fabregas, mantan juara Piala Dunia dan dua kali Piala Eropa bersama Spanyol, telah menjadi pelatih Como sejak 2023. Ada pula Thierry Henry, eks bintang Arsenal dan Barcelona, serta Dennis Wise, mantan kapten Chelsea, yang pernah menempati posisi strategis di klub sebelum meninggalkan jabatannya pada 2024, seperti dilaporkan The Sun.

Meski Como belum pernah mengangkat trofi di level tertinggi sepak bola Italia, kombinasi kekuatan finansial Hartono bersaudara dan peran strategis Fabregas memberi harapan bahwa catatan tersebut bisa berubah dalam waktu dekat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya