Liputan6.com, Paris - Pihak berwenang mengumumkan pada Kamis (7/8/2025), kebakaran hutan di wilayah selatan Prancis yang berbatasan dengan Laut Mediterania kini telah dapat dikendalikan. Kebakaran menewaskan satu orang dan menghancurkan ribuan hektare tanah serta puluhan rumah di selatan negara itu.
Sekitar 2.000 petugas pemadam kebakaran dikerahkan di Departemen Aude di selatan Prancis untuk mengendalikan api yang mulai berkobar pada Selasa (5/8). Tiga belas orang terluka, dua di antaranya serius.
Advertisement
"Api sudah terkendali," kata Lucie Roesch, sekretaris jenderal prefektur Aude seperti dilansir France24.
Para petugas pemadam kebakaran di lokasi kebakaran di Departemen Aude menyebutnya sebagai pekerjaan klasik namun dalam skala luar biasa, dengan banyak waktu dihabiskan untuk menangani sisa-sisa api yang masih aktif.
Kondisi cuaca belakangan lebih menguntungkan setelah dua hari angin kencang dan berubah-ubah yang sempat menyulitkan prediksi perkembangan kebakaran.
"Namun, kebakaran ini belum akan dinyatakan padam selama beberapa hari," kata Prefek Departemen Aude Christian Pouget. "Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan."
Seorang perempuan berusia 65 tahun, yang menolak untuk dievakuasi, ditemukan tewas di rumahnya yang hangus, sementara 13 orang terluka, 11 di antaranya adalah petugas pemadam kebakaran.
Perdana Menteri Francois Bayrou, yang melakukan kunjungan ke wilayah yang terdampak pada Rabu, menyebut kebakaran hutan kali ini merupakan bencana dalam skala tidak tertandingi.
Menteri Transisi Ekologi Prancis Agnes Pannier-Runacher menggarisbawahi kebakaran ini sebagai yang terburuk sejak 1949 dan menghubungkannya dengan perubahan iklim.
"Ini adalah kebakaran yang jelas merupakan akibat dari perubahan iklim dan kekeringan di wilayah ini," ujarnya dalam wawancara di radio France Info.
Kebakaran dilaporkan menghanguskan sekitar 17.000 hektare lahan.
Departemen Aude, khususnya, telah menyaksikan peningkatan luas area yang terbakar dalam beberapa tahun terakhir, diperburuk oleh rendahnya curah hujan dan hilangnya kebun anggur, yang dulunya membantu memperlambat laju kebakaran.