Kesepakatan Tarif Trump Untungkan Indonesia, Kok Bisa?

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, tarif 19% untuk Indonesia lebih rendah dari negara lain.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 07 Agustus 2025, 16:15 WIB
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: tangkapan layar/Arief Rahman)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kesepakatan tarif resiprokal Amerika Serikat bisa untungkan Indonesia. Barang asal AS akan lebih murah di pasar nasional, sementara produk RI bisa bersaing di Negeri Paman Sam.

Purbaya mengatakan tarif 19 persen buat produk RI dan 0 persen untuk produk AS bukan suatu masalah. Ada dua hal yang disorotinya: pertama, bedanya produk ekspor RI ke AS dan produk yang di impor; kedua, harga barang dari AS menjadi lebih murah di Tanah Air.

"Barang-barangnya beda, barang-barang yang dari Amerika ekspor ke sini, kita enggak bisa produksi. Jadi yang di sana kita bandingkan dengan negara lain, yang di sini kita bandingkan dengan produksi kita. Sama enggak dengan Amerika? Kelihatannya beda," ungkap Purbaya dalam LPS Financial Festival 2025, Kamis (7/8/2025).

Dia memberi sedikit contoh barang AS yang masuk ke Indonesia. Misalnya, sepeda motor merek Harley Davidson yang bisa saja menjadi lebih murah ketika masuk ke Indonesia imbas kesepakatan tarif tadi. "Tapi dari si persaingan enggak ada masalah, malah kita bisa dapat barang lebih murah," katanya.

Sementara itu, tarif 19 persen buat barang Indonesia ke pasar AS juga tak dipandang pusing olehnya. Menurut dia, tarif itu tetap lebih murah ketimbang negara mitra dagang AS lainnya.

"Jadi harus kita perhatikan negara itu dapat tarif berapa ke Amerika, dan sekarang kita lebih rendah atau jauh lebih rendah dari yang dikenakan Amerika ke negara yang tadi. Jadi perang tarif ini menguntungkan," tuturnya.

Negosiasi Tarif

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (7/8/2025). (Liputan6.com/Maulandy) 

Diberitakan sebelumnya, Negosiasi final tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) masih terus berlanjut. Masih ada peluang tarif sejumlah komoditas asal Indonesia turun lebih rendah dari 19 persen.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan negosiasi tarif masih berjalan. Dia berharap proses negosiasi ini bisa rampung sebelum 1 September 2025.

"Jadi, sekarang prosesnya masih berjalan ya. Memang yang resiprokal kan kita dapat 19 persen itu berlaku 7 hari setelah tanggal 31 Juli kan kalau di pengumumannya, dan sekarang proses negosiasi juga masih berjalan sebenarnya mudah-mudahan sebelum 1 September sudah selesai," tutur Budi dalam Konferensi Pers Kinerja Ekspor Semester I 2025, di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (4/8/2025).

Negosiasi Lanjutan

Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas ekspor perdana 8.872 pasang produk alas kaki buatan CV Rumah Jeddiah senilai USD 38 ribu, atau sekitar Rp618 juta, ke Kuwait hari ini, Selasa, (3/6/2025) di Surabaya, Jawa Timur.

Kendati begitu, Budi enggan bicara mengenai komoditas yang akan dikenakan tarif 19 persen ke pasar Amerika Serikat. Dia tetap membuka peluang adanya penurunan tarif lebih rendah untuk sebagian komoditas.

Lantaran, masih ada negosiasi yang berjalan. Utamanya, bagi barang-barang yang tidak diproduksi di Amerika Serikat.

"Untuk komoditas, mungkin belum saya sampaikan dulu ya komoditas apa. Tapi paling tidak di dalam proses negosiasi nanti kita juga ingin mendapatkan penurunan tarif seperti komoditas yang tidak dimiliki atau tidak diproduksi oleh Amerika," tuturnya.

Antisipasi Pesaing RI

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso mulai ancang-ancang antisipasi pesaing produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS). Menyusul rencana tarif resiprokal baru yang akan berlaku dalam waktu dekat.

Budi menyampaikan saat ini sedang menghitung potensi produk RI ke pasar AS atas tarif baru yang telah disepakati. Termasuk mengintip negara-negara pesaing produk serupa di pasar tersebut.

"Kita juga sudah mulai mengintip dari 10 produk ekspor kita, produk utama kita, siapa pesaingnya, pesaing dari 10 produk itu berapa dapat tarif resiprokal dan saya pikir kita masih kompetitif dengan tarif-tarif yang diberikan kepada pesaing kita," kata Budi dalam Konferensi Pers Kinerja Ekspor Semester I, di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (4/8/2025).

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya