Waspada, Ini 10 Pekerjaan Paling Rentan Tergusur AI

Di tengah pesatnya perkembangan AI, banyak pekerjaan berisiko tergantikan. Meski begitu, manusia tetap memiliki keunggulan melalui keterampilan seperti empati, kepemimpinan, dan kecerdasan emosional. Artikel ini membahas pekerjaan paling rentan terhadap AI dan cara agar tetap relevan di dunia kerja yang terus berubah.

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 07 Agustus 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi bekerja ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta Sudah menjadi rahasia umum bahwa kecerdasan buatan telah merevolusi cara orang mencari informasi, berinteraksi dengan rekan kerja, hingga menyusun daftar tugas mingguan. Teknologi ini juga memiliki potensi besar untuk mengubah peran dalam pekerjaan bahkan berisiko menghilangkannya sepenuhnya.

Contohnya bisa dilihat dalam laporan terbaru dari Microsoft berjudul “Bekerja dengan AI: Mengukur Implikasi Pekerjaan dari AI Generatif,” yang membahas bagaimana pekerja mulai mengadopsi AI serta dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap pekerjaan mereka.

Microsoft mengungkapkan bahwa banyak pekerjaan kantoran berpotensi terganggu karena kecerdasan buatan mampu menangani sebagian besar tugas yang biasa dilakukan dalam peran tersebut. Tim peneliti dari perusahaan teknologi itu menganalisis 200.000 percakapan anonim yang telah dilindungi privasinya antara pengguna di AS dan chatbot mereka, Bing Copilot, selama periode Januari hingga September 2024.

“Kami menemukan bahwa aktivitas kerja paling umum yang membutuhkan bantuan AI adalah pengumpulan informasi dan penulisan, sementara aktivitas paling umum yang dilakukan AI sendiri adalah penyediaan informasi dan bantuan, penulisan, pengajaran, dan pemberian nasihat,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

Merujuk pada temuan tersebut, berikut ini adalah 10 jenis pekerjaan dengan tingkat paparan teknologi paling tinggi dan paling rentan terhadap dampak AI:

  1. Penerjemah dan Juru Bahasa
  2. Sejarawan
  3. Petugas Penumpang
  4. Perwakilan Penjualan Layanan
  5. Penulis dan Pengarang
  6. Perwakilan Layanan Pelanggan
  7. Pemrogram Alat Pengontrol Numerik Komputer (CNC)
  8. Operator Telepon
  9. Agen Tiket dan Petugas Perjalanan
  10. Penyiar Siaran dan DJ Radio

“Penerjemah dan Juru Bahasa berada di urutan teratas, dengan 98 persen aktivitas kerja mereka tumpang tindih dengan tugas-tugas Kopilot yang sering dilakukan dengan tingkat penyelesaian dan skor cakupan yang cukup tinggi,” demikian menurut laporan tersebut.

“Pekerjaan lain dengan skor penerapan yang tinggi mencakup pekerjaan yang berkaitan dengan penulisan/penyuntingan, penjualan, layanan pelanggan, pemrograman, dan administrasi," lanjut laporan tersebut.

Laporan itu juga mengidentifikasi jenis pekerjaan yang paling tidak terpengaruh oleh AI. Sebagian besar berasal dari bidang medis dan pekerjaan kerah biru, yang umumnya menuntut keterlibatan fisik atau interaksi langsung. Di antaranya termasuk profesi seperti ahli flebotomi dan asisten perawat, hingga teknisi kapal dan tukang reparasi ban.

 

Cara untuk Tetap Bertahan

Ilustrasi berinteraksi ©Ilustrasi dibuat AI

Laporan Microsoft ini bukan berarti robot akan mengambil alih pekerjaan Anda dalam waktu dekat. Namun, agar tetap kompetitif di tengah dinamika pasar kerja yang terus berubah, penting bagi Anda untuk memahami teknologi AI dan cara menggunakannya secara strategis demi kemajuan perusahaan. Hal ini sejalan dengan saran dari Jensen Huang, salah satu pendiri sekaligus CEO Nvidia, yang menyatakan bahwa Anda harus mempelajari semua yang Anda bisa tentang perangkat AI dan bagaimana Anda dapat memanfaatkannya untuk menguntungkan perusahaan Anda.

“Semua pekerjaan akan terdampak, dan langsung. Hal ini tidak dapat dipungkiri,” ujar Huang, 62 tahun, dalam Konferensi Global Milken Institute 2025 pada 6 Mei. Nvidia, perusahaan yang ia pimpin dan kini bernilai USD 4,2 triliun atau sekitar Rp68,79 kuadriliun (dengan estimasi kurs Rp16.400/USD) merancang berbagai chip komputer yang menjadi tulang punggung teknologi AI terkemuka saat ini. “Anda tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI, tetapi Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang yang menggunakan AI.”

Beberapa perusahaan seperti Shopify, Duolingo, dan Fiverr telah mendorong bahkan mewajibkan sebagian atau seluruh karyawannya untuk menggunakan AI dalam menjalankan tugas mereka. Pendiri sekaligus CEO Duolingo, Luis von Ahn, dan CEO Shopify, Tobias Lütke, juga menyatakan bahwa mereka hanya akan merekrut tenaga kerja baru untuk posisi yang tidak bisa diotomatisasi.

 

Keterampilan

Gak harus jawab cepat, yang penting kamu yakin sama apa yang kamu sampaikan (copyright Freepik)

Meski chatbot kini mampu menyelesaikan berbagai tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia, ada sejumlah keterampilan yang tetap tak tergantikan seperti empati, rasa ingin tahu, kecerdasan sosial dan emosional, kepemimpinan, serta kemampuan membangun relasi.

Menurut dosen bisnis Stanford, Robert E. Siegel, pengembangan keterampilan-keterampilan ini menjadi kunci untuk bisa bertahan dan berkembang di era kecerdasan buatan.

“Revolusi AI itu nyata, dan alih-alih takut, kita seharusnya melihatnya sebagai peluang untuk berevolusi dan berkembang,” tulis Siegel dalam artikelnya dikutip dari CNBC Make It, Rabu (6/8/2025).

“Dengan mengembangkan keterampilan manusia, memahami ekosistem industri, merangkul perubahan, dan berfokus pada hubungan internal dan eksternal, Anda dapat membangun karier yang tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang pesat di era AI.”

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya