Harga Minyak Anjlok Dipicu Keputusan OPEC+ Tingkatkan Produksi

Harga minyak dunia merosot setelah OPEC+ sepakat untuk kembali meningkatkan produksi. Keputusan ini memicu kekhawatiran pasar akan kelebihan pasokan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 Agustus 2025, 08:20 WIB
Kedua kontrak harga minyak mentah yang jadi patokan telah turun sekitar USD 2 lebih rendah pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya. Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin kemarin. Penurunan harga minyak ini terjadi setelah kelompok OPEC+ menyepakati kenaikan produksi besar-besaran untuk bulan September.

Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap mencermati perkembangan sanksi Amerika Serikat (AS) dan Eropa terhadap Rusia.

Mengutip CNBC, Selasa (5/8/2025), harga minyak mentah Brent berjangka turun 91 sen (1,31%) dan ditutup pada USD 68,76 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 1,04 (1,54%) menjadi USD 66,29 per barel.

Kedua kontrak ini telah turun sekitar USD 2 lebih rendah pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya.

Pada hari Minggu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC+) dan para sekutunya menyepakati peningkatan produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari untuk bulan September. Keputusan ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk kembali merebut pangsa pasar yang hilang.

Langkah ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan menandai pembalikan total dari pemotongan produksi terbesar yang pernah dilakukan OPEC+, yang mencapai sekitar 2,5 juta barel per hari atau setara 2,4% dari permintaan global.

Analis dari Goldman Sachs memperkirakan, peningkatan pasokan riil dari delapan negara anggota OPEC+ yang telah menaikkan produksi sejak Maret akan mencapai 1,7 juta barel per hari. Hal ini terjadi karena anggota lain justru memangkas produksi setelah sebelumnya mengalami kelebihan produksi.

 

Dampak Tarif Trump dan Saksi ke Rusia

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Di sisi lain, investor juga memantau dampak tarif baru AS terhadap ekspor dari puluhan mitra dagang. Selain itu, ancaman sanksi AS lebih lanjut terhadap Rusia terus menjadi sorotan.

Presiden Trump mengancam akan memberlakukan tarif sekunder sebesar 100% kepada pembeli minyak mentah Rusia sebagai upaya untuk menekan Moskow agar menghentikan perang di Ukraina.

Terkait hal tersebut, analis PVM, Tamas Varga, menyatakan bahwa harga minyak dalam jangka menengah akan dipengaruhi oleh perpaduan antara tarif dan geopolitik.

"Lonjakan harga apa pun yang dipicu oleh sanksi energi diperkirakan hanya akan bersifat sementara," tambahnya.

 

Efek Mulai Terlihat

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Efek dari sanksi AS ini mulai terlihat. Menurut sumber perdagangan pada Jumat lalu, setidaknya dua kapal yang mengangkut minyak Rusia menuju kilang di India dialihkan ke tujuan lain.

Analis ING mencatat bahwa jika kilang-kilang India berhenti membeli minyak Rusia, pasokan minyak mentah sekitar 1,7 juta barel per hari akan terancam.

Namun, dua sumber dari pemerintah India membantah hal tersebut. Kepada salah satu media internasional pada hari Sabtu, mereka menegaskan bahwa India akan tetap membeli minyak dari Rusia, mengabaikan ancaman yang dilontarkan oleh Trump.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya