Liputan6.com, Jakarta - Jika kamu merasa belum mencapai semua target musim panas tahun ini, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Sebab, bisa jadi beberapa hari terakhir ini memang lebih singkat dari biasanya -- secara harfiah.
Selama sebagian besar sejarah umat manusia, kita mengukur waktu berdasarkan pergerakan matahari -- yaitu dari terbit hingga terbenamnya.
Advertisement
Namun, ketika teknik ini dibandingkan dengan sistem jam atom super-presisi yang digunakan saat ini, terungkap bahwa panjang satu hari di Bumi sebenarnya bervariasi dalam skala milidetik, dikutip dari laman scientificamerican, Senin (4/8/2025).
Dan musim panas ini, beberapa faktor menyebabkan hari-hari tertentu, termasuk 5 Agustus 2025, menjadi lebih singkat lebih dari satu milidetik dibandingkan rata-rata puluhan tahun terakhir.
Meski perubahan ini sangat kecil dan tidak akan memengaruhi rutinitas kita secara nyata, para ilmuwan di berbagai belahan dunia justru sangat serius dalam melacak perubahan rotasi Bumi ini. Salah satunya adalah Christian Bizouard, seorang astronom dari Paris Observatory yang juga menjadi ilmuwan utama di Earth Orientation Center milik International Earth Rotation and Reference Systems Service.
"Ini fenomena kecil," ujarnya.
"Tidak ada yang luar biasa."
Tapi bagi sistem navigasi satelit seperti GPS, yang bergantung pada posisi Bumi yang sangat presisi hingga ke tingkat meter, ketelitian waktu ini sangat krusial.
Mengapa Rotasi Bumi Bisa Berubah?
Rotasi Bumi sebenarnya tidak sepenuhnya konstan. Jika Bumi adalah benda padat yang sempurna di ruang hampa, maka kecepatannya tidak akan berubah. Namun kenyataannya, Bumi adalah sistem kompleks dengan berbagai komponen yang saling memengaruhi, seperti inti Bumi, atmosfer, dan bahkan Bulan.
Peran Inti Bumi
Di bawah lapisan kerak yang kita pijak, terdapat inti Bumi—sebagian cair, sebagian padat. Inti ini tersusun dari logam cair seperti besi dan nikel yang terus bergerak dan menghasilkan medan magnet Bumi.
Menurut Duncan Agnew, ahli geofisika dari Scripps Institution of Oceanography, gerakan cairan logam di inti Bumi ini bisa memperlambat atau mempercepat rotasi planet. Dalam beberapa dekade terakhir, inti Bumi diketahui mengalami perlambatan, dan sebagai kompensasinya, bagian luar Bumi justru berputar sedikit lebih cepat. Inilah salah satu alasan mengapa dalam beberapa tahun terakhir, hari-hari di Bumi menjadi sedikit lebih singkat -- dan juga mengapa sejak 2016 kita belum lagi menambahkan "leap second" atau detik kabisat.
Atmosfer dan Musim Panas
Atmosfer juga memainkan peran penting dalam kecepatan rotasi Bumi. Angin kencang yang disebut jet stream, terutama di belahan bumi selatan, mengalir dari barat ke timur dan mempengaruhi momentum rotasi planet. Jet stream cenderung melambat saat musim panas di belahan bumi utara, sehingga untuk menyeimbangkan sistem, rotasi Bumi menjadi sedikit lebih cepat.
Inilah sebabnya mengapa hari-hari dengan rotasi tercepat biasanya terjadi pada bulan Juli dan Agustus—di puncak musim panas belahan bumi utara.
Gaya Tarik Bulan
Bulan juga punya pengaruh jangka panjang terhadap rotasi Bumi. Tarikan gravitasinya menyebabkan pasang surut air laut, yang menciptakan gesekan antara air laut dan dasar samudra. Gesekan ini, meskipun sangat kecil, secara perlahan memperlambat rotasi Bumi dari waktu ke waktu.
Namun, dalam skala mingguan, Bulan bisa mempercepat rotasi Bumi secara sementara. Karena orbit Bulan sedikit miring terhadap ekuator Bumi, tonjolan pasang surut (baik di air maupun di daratan padat) ikut bergerak ke utara dan selatan seiring siklus orbit Bulan. Ketika massa tonjolan ini mendekati sumbu rotasi Bumi, maka kecepatan rotasi meningkat sedikit -- seperti seorang skater yang mempercepat putaran dengan menarik lengannya ke dalam.
Hari-hari Tercepat di Tahun 2025
Gabungan semua faktor ini -- inti Bumi, atmosfer, dan Bulan -- membuat rotasi Bumi menjadi sistem yang sangat dinamis. Meski sulit diprediksi secara jangka panjang, para ilmuwan masih mencoba membuat estimasi tahunan. Dan tahun ini, mereka memprediksi bahwa 5 Agustus 2025 akan menjadi hari terpendek, dengan durasi sekitar 1,5 milidetik lebih pendek dari 86.400 detik yang dianggap sebagai panjang satu hari standar.
Hari-hari lainnya yang diperkirakan mengalami hal serupa adalah 22 Juli dan kemungkinan 18 Agustus. Sebagai perbandingan, rekor hari tercepat dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada 5 Juli 2024, ketika Bumi menyelesaikan rotasinya 1,66 milidetik lebih cepat dari biasanya.