Deretan Saham Ini Dapat Dicermati Investor pada Pekan Awal Agustus 2025

Sepanjang Juli 2025, IHSG mengalami kenaikan sekitar 8%, menandakan optimisme pasar yang tinggi. Namun, analis mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap potensi koreksi di bursa saham Indonesia saat ini.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 04 Agustus 2025, 12:30 WIB
IHSG hari ini dibuka di posisi 7.552,49, naik dari perdagangan sebelumnya yang ada di angka 7.537,76. Pada pukul 09.15 WIB, IHSG bergerak melemah. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 7.000 dan sempat mencapai 7.537 meskipun secara teknikal sudah memasuki area overbought. Sepanjang Juli 2025, indeks ini mengalami kenaikan sekitar 8%, menandakan optimisme pasar yang tinggi. Namun, analis mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap potensi koreksi.

Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan kewaspadaan perlu ditingkatkan karena dalam sepekan terakhir IHSG sempat melemah tipis 0,08%. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp16,4 triliun di pasar reguler.

Kendati demikian, IHSG masih mampu menunjukkan ketangguhan. Indeks ini sempat menguji level resistansi penting namun tetap bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20), yang menjadi indikator bahwa sentimen optimis investor tetap solid.

Pada pagi ini, mengutip data RTI, Senin (4/8/2025), IHSG hari ini dibuka di posisi 7.552,49, naik dari perdagangan sebelumnya yang ada di angka 7.537,76. Pada pukul 09.15 WIB, IHSG bergerak melemah dengan turun 60 poin atau 0,80% ke posisi 7.479,67.

Indeks LQ45 juga jatuh 0,84% ke posisi 789,76. Sebagian besar indeks saham acuan terbakar. Hanya satu indeks yang mampu bertahan di zona hijau yaitu IDXMESBUMN.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pasar

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sejumlah faktor global dan domestik memengaruhi pergerakan IHSG belakangan ini. Dari sisi global, penurunan harga komoditas seperti minyak mentah, nikel, dan batu bara menjadi tekanan tersendiri.

Harga nikel merosot karena pasokan berlebih dan rendahnya permintaan dari China. Sementara itu, harga minyak sempat turun dipicu oleh kenaikan cadangan dan produksi minyak di Amerika Serikat.

Dari sisi kebijakan moneter global, meskipun The Fed menahan suku bunga, data inflasi terbaru menunjukkan tren yang melandai. Hal ini meningkatkan ekspektasi pasar bahwa pemangkasan suku bunga bisa dilakukan pada kuartal IV-2025.

"Hal ini menunjukkan adanya slow economic growth, maski masih akan banyak perusahaan yang melaporkan laporan keuangannya," ujar David dalam keterangan tertulis, Senin (4/8/2025).

Di level domestik, sektor sawit mendapat angin segar dari kebijakan India yang menurunkan tarif impor CPO dari 20% menjadi 10%. Dengan kebijakan ini, ekspor sawit Indonesia ke India diprediksi bisa kembali tembus 5 juta ton tahun ini, yang berpotensi mendongkrak kinerja emiten-emiten sawit nasional.

 

Rekomendasi Saham IPOT Pekan Ini

Pengunjung beraktivitas di depan layar monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Melihat dinamika pasar pekan ini (4–8 Agustus 2025), David menyoroti sektor perbankan mengalami perlambatan pertumbuhan laba, bahkan beberapa bank besar mencatat penurunan.

Menurutnya, ini mengindikasikan laju pertumbuhan ekonomi yang melambat, walaupun masih banyak emiten yang akan merilis laporan keuangan kuartalan.

Sebagai respons atas situasi ini, IPOT memberikan rekomendasi saham, yaitu:

LSIP

Buy LSIP (Current Price 1.335, Entry 1.335, Target Price 1.450 (8,61%), Stop Loss 1.285 (-3,75%) dan Risk to Reward Ratio 1:2,3). LSIP merupakan salah satu andalan di sektor sawit.

Dengan pertumbuhan laporan keuangan yang solid, LSIP akan diuntungkan dengan kebijakan baru di sektor sawit. Di sisi lain, meskipun 2 hari terakhir harga saham LSIP terkoreksi, trend LSIP masih bergerak bullish dan bertahan di atas MA20.

PGEO

Buy PGEO (Current Price 1.685, Entry 1.685 Target Price 1.825 (8,31%), Stop Loss 1.610 (-4,45%) dan Risk to Reward Ratio 1:1,9). Sektor clean energy masih akan menjadi judul utama pasar modal sampai tahun 2025.

Meskipun sektor batu bara & nikel tertekan, sensitivitas langsung terhadap harga komoditas fosil relatif kecil. Secara teknikal PGEO masih terus bergerak dalam trend bullish dan terus bertahan di atas MA20.

EXCL

Buy EXCL (Current Price 2.570, Entry 2.570, Target Price 2.700 (5,06%) Stop Loss 2.510 (-2,33%) Risk dan to Reward Ratio 1:2,2).

Industri telekomunikasi Indonesia merupakan salah satu yang paling dinamis di Asia Tenggara. Pangsa pasar juga masih sangat melimpah dan secara teknikal pergerakan EXCL masih sangat menarik, ada potensi reversal untuk melanjutkan kenaikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya