Gempa M5,2 Guncang Teluk Tomini, Badan Geologi ESDM: Dipicu Subduksi Sangihe

Kondisi (morfologi) wilayah tersebut pada umumnya berupa dataran pantai yang berbatasan dengan morfologi berombak dan bergelombang, sedangkan pegunungan menempati wilayah tengah daratan.

oleh Arie NugrahaDiterbitkan 02 Agustus 2025, 10:17 WIB
Gempa bumi berkekuatan M5.2 pada kedalaman 114 Km di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan kajian teknis gempa bumi berkekuatan M5.2 pada kedalaman 114 Km di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, pukul 05.13 WIB, Jumat (1/8/2025) akibat adanya asosiasi dengan Subduksi Sangihe dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault) pada kedalaman menengah.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid mengatakan, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 123.14° BT dan 0.17° LS, berjarak sekitar 72 Km Timur laut Pulau Puah, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami," ujar Wafid dalam keterangannya ditulis Sabtu (2/8/2025).

Wafid mengatakan lokasi terdekat dari pusat gempa bumi yaitu Kabupaten Banggai, Kabupaten Tojo Una-una, dan Kabupaten Gorontalo. 

Kondisi (morfologi) wilayah tersebut pada umumnya berupa dataran pantai yang berbatasan dengan morfologi berombak dan bergelombang, sedangkan pegunungan menempati wilayah tengah daratan. 

"Wilayah ini tersusun oleh endapan Kuarter yang terdiri dari endapan pantai, endapan sungai dan batuan rombakan gunungapi muda, batuan sedimen Tersier dan Batuan Pra Tersier," jelas Wafid. 

Wafid menyebutkan endapan Kuarter dan batuan yang telah mengalami pelapukan pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan berpotensi memperkuat efek guncangan gempa bumi. 

Selain itu pada morfologi perbukitan bergelombang hingga pegunungan yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan, berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh goncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.

"Masyarakat diharapkan melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah terjadi gempa bumi serta mengamati dan mematuhi rambu evakuasi. Masyarakat diimbau menjauhi daerah tebing yang berpotensi terjadi gerakan tanah, terutama saat terjadi hujan," ungkap Wafid.

 

Pengaruh Material Batuan

ilustrasi gempa | pixabay.com

 

Kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya. 

Wilayah tersebut tambah Wafid, secara umum tersusun oleh tanah keras (kelas C), sedangkan daerah pantai didominasi oleh tanah sedang (kelas D) dan tanah lunak (kelas E).   

"Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak diikuti oleh bahaya ikutan, seperti retakan tanah, penurunan lahan, likuefaksi dan longsoran. Bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi," kata Wafid. 

Menurut informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 123.14° BT dan 0.17° LS, berjarak sekitar 72 Km Timur laut Pulau Puah, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan magnitudo M5.2 pada kedalaman 114 Km, dengan parameter update magnitudo M5.0,  pada koordinat 123.14° BT dan 0.16° LS. 

Sedangkan berdasarkan informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 123.093° BT dan 0.19° LS dengan magnitudo M5.1 pada kedalaman 120.1 Km. 

Data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, menyebutkan lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 123.19° BT dan 0.11° LS, dengan magnitudo 5.3mb pada kedalaman 128 Km. 

 

Antisipasi Gempa Bumi

Jika Anda berada dalam situasi guncangan akibat gempa, berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan sesudah gempa bumi:

 

Sebelum Terjadi Gempa:  

- Untuk memastikan keamanan tempat tinggal Anda, pastikan bahwa struktur dan letak rumah dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempa, seperti longsor atau likuefaksi. Lakukan evaluasi dan renovasi ulang terhadap struktur bangunan Anda agar terhindar dari bahaya gempa bumi.

- Penting untuk mengenali lingkungan tempat Anda bekerja: perhatikan letak pintu, lift, serta tangga darurat. Ketahui juga di mana tempat paling aman untuk berlindung.

- Mempelajari manfaat P3K dan alat pemadam kebakaran.

- Pastikan selalu menyiapkan nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempa bumi.

- Atur perabotan di rumah Anda agar menempel kuat pada dinding. Hal itu disarankan agar benda tersebut tak mudah jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempa bumi.

- Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah. Cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gempa terjadi

- Untuk barang yang mudah terbakar, sebaiknya disimpan pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran.

- Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila tidak sedang digunakan.

- Pastikan Anda selalu siap dengan alat-alat penting seperti Kotak P3K, senter/lampu baterai, radio, makanan suplemen dan air.

 

Saat Terjadi Gempa:

- Ketika Anda merasakan gempa dan sedang berada dalam bangunan, lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja, cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan guncangan. Jika memungkinkan, lari ke luar gedung untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman.

- Jika berada di luar bangunan atau area terbuka, hindari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, dan pohon. Perhatikan juga tempat Anda berdiri, hindari apabila terjadi rekahan tanah.

- Jika gempa terjadi ketika Anda sedang mengendarai mobil, segera keluar, turun dan menjauh dari mobil. Hindari juga kendaraan Anda jika terjadi pergeseran atau kebakaran.

- Jika gempa terjadi ketika Anda berada di area pantai, jauhi pantai dan cari medan yang tinggi untuk menghindari bahaya tsunami.

- Jika Anda tinggal di daerah pegunungan, apabila terjadi gempa bumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.

 

Setelah Terjadi Gempa:

- Jika gempa terjadi ketika Anda berada di dalam bangunan, keluar dari bangunan tersebut dengan tertib. Tidak disarankan untuk keluar melalui tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa. Periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K, telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau orang disekitar Anda.

- Setelah terjadi gempa, segera periksa lingkungan sekitar Anda. Pastikan tidak terjadi kebakaran. Selain itu, disarankan juga untuk memeriksa aliran dan pipa air, untuk menghindari hal-hal yang membahayakan.

- Hindari bangunan yang sudah terkena gempa karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan.

- Jangan berjalan di daerah sekitar gempa, guna menghindari bahaya susulan.

- Dengarkan informasi mengenai gempa bumi dari radio untuk mencari informasi apabila terjadi gempa susulan. Jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak diketahui jelas sumbernya.

- Mengisi angket yang diberikan oleh instansi terkait untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang terjadi. 

- Jangan panik dan jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.  

Infografis Gempa Megathrust Bayangi Jakarta (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya