Liputan6.com, Jakarta PSIM Yogyakarta akhirnya kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia dan akan ambil bagian dalam BRI Super League musim 2025/2026. Kehadiran klub legendaris asal Kota Gudeg ini disambut antusias oleh pecinta sepak bola nasional.
Tak hanya karena status mereka sebagai juara Liga 2 (Championship) musim lalu, tetapi juga karena langkah strategis mereka dalam membangun tim yang kompetitif.
Advertisement
Berbekal semangat kebangkitan dan target untuk tidak sekadar 'numpang lewat' di liga utama, manajemen Laskar Mataram menunjukkan keseriusan.
Mereka aktif di bursa transfer dan membangun fondasi tim dengan komposisi pemain berpengalaman dan muda berbakat. Dukungan fanatik dari Brajamusti dan The Maident juga jadi kekuatan tersendiri yang mengiringi kiprah PSIM di pentas elite.
Tak mengherankan jika PSIM jadi salah satu tim promosi yang paling dinanti aksinya musim ini. Mereka tak hanya membawa nama besar sejarah, tapi juga proyek ambisius yang ingin menjadikan Mandala Krida sebagai benteng yang disegani di BRI Super League.
PSIM Serius Bangun Tim Kompetitif
Langkah awal PSIM dalam membentuk tim tangguh terlihat dari rekrutmen pemain yang punya jam terbang tinggi di kasta atas. Nama Reva Adi Utama, eks kapten Persebaya Surabaya, jadi simbol pengalaman di lini belakang.
Kehadirannya membawa ketenangan dan kepemimpinan dalam skuat yang masih relatif baru di level tertinggi. Di lini tengah, PSIM sukses menggaet Ze Valente, gelandang kreatif yang musim lalu jadi andalan Persik Kediri.
PSIM juga memoles tim dengan deretan pemain yang bersinar di Liga 2 musim lalu. Salah satu rekrutan menarik adalah Deri Corfe, winger asal Inggris yang tampil apik bersama Persiraja Banda Aceh.
Ia diharapkan menjadi senjata andalan dari sisi sayap. Tak kalah penting, PSIM juga memboyong Rahmatsho Rahmatzoda, bek tangguh yang musim lalu membela Persijap Jepara dan berperan besar dalam promosi tim asal Jepara tersebut.
Dengan komposisi yang memadukan pengalaman dan potensi, PSIM berharap mampu bersaing, bukan sekadar bertahan di kasta tertinggi. Mereka tidak ingin mengulang kisah klasik tim promosi yang cepat kembali turun kasta.