Sikap Kontroversial Gerald Vanenburg usai Final Piala AFF U-23 2025 Jadi Sorotan Media Korea Selatan

Pelatih Timnas Indonesia U-23, Gerald Vanenburg, menjadi pusat perhatian usai menolak jabat tangan dengan pelatih Vietnam di Final Piala AFF U-23 2025, memicu reaksi keras media internasional.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 01 Agustus 2025, 20:00 WIB
Pelatih Timnas Indonesia U-23 Gerald Vanenburg. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Liputan6.com, Jakarta - Final Piala AFF U-23 2025 mempertemukan Indonesia dan Vietnam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Selasa (29/7/2025). Laga ini berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Vietnam.

Gol tunggal Nguyen Cong Phuong pada menit ke-37 memastikan Vietnam meraih gelar juara. Kekalahan ini tidak hanya membuat Timnas Indonesia U-23 harus puas menjadi runner-up di kandang sendiri, tetapi juga memicu drama di pinggir lapangan yang melibatkan pelatih Gerald Vanenburg.

Insiden pasca-pertandingan yang melibatkan Gerald Vanenburg menjadi perbincangan hangat di berbagai media. Pelatih asal Belanda itu terekam kamera menunjukkan sikap yang mengejutkan terhadap pelatih lawan. Peristiwa ini dengan cepat menyebar dan menarik perhatian publik serta media internasional.

Sorotan utama tertuju pada perilaku Gerald Vanenburg yang dianggap tidak sportif. Momen tersebut menjadi puncak kekecewaan bagi skuad Garuda Muda dan para pendukungnya, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai etika dalam dunia olahraga profesional.


Insiden Penolakan Jabat Tangan Gerald Vanenburg

Gerald Vanenburg dan Kim Sang-sing di pinggir lapangan pada final Piala AFF U-23 2025. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Gerald Vanenburg menjadi sorotan tajam setelah terekam menolak berjabat tangan dengan pelatih Vietnam, Kim Sang-sik, sesaat setelah pertandingan berakhir. Sebuah video yang viral menunjukkan Kim Sang-sik mendekati Vanenburg untuk bersalaman, namun Vanenburg melambaikan tangannya dengan sikap tidak ramah. Kejadian ini membuat pelatih asal Korea Selatan itu langsung memalingkan muka dengan ekspresi tidak senang dan terkejut.

Meskipun menunjukkan sikap penolakan terhadap Kim Sang-sik, Gerald Vanenburg terlihat tetap bersalaman dengan para pemain Vietnam U-23. Kontrasnya perilaku ini semakin memperkuat dugaan adanya masalah pribadi atau kekecewaan mendalam yang dirasakan oleh Vanenburg.

Insiden ini segera menarik perhatian media internasional dan menjadi berita utama. Media Korea Selatan, Sports Chosun, menyoroti perilaku Vanenburg dengan tajam, menyebutnya sebagai 'perilaku tidak pantas' dan mempertanyakan 'sopan santun macam apa ini'. Mereka juga melaporkan bahwa tindakan Vanenburg menjadi 'perbincangan hangat' setelah pertandingan.

Media Vietnam, Dantri (Dan trí), juga melaporkan insiden tersebut secara detail. Mereka mengutip video viral yang memperlihatkan Gerald Vanenburg tampak marah dan menolak berjabat tangan dengan Kim Sang-sik, mengindikasikan adanya ketegangan di antara kedua pelatih.

Lanjut Baca:

Spekulasi mengenai penyebab ledakan emosi Gerald Vanenburg mengarah pada insiden kontroversial yang terjadi di pinggir lapangan selama pertandingan. Beberapa pihak menduga bahwa sikap Vanenburg dipicu oleh strategi pelatih Kim Sang-sik yang menyebabkan botol-botol air tumpah di dekat area teknis Vietnam. Insiden ini diduga merupakan taktik untuk menunda lemparan ke dalam yang dilakukan oleh pemain Indonesia, Robi Darwis. Kejadian botol air ini memicu teguran dari wasit dan bahkan membuat pelatih Kim Sang-sik sempat menerima kartu kuning dari wasit Koji Takasaki. Kim Sang-sik dianggap sengaja menghalangi Robi Darwis saat bersiap melakukan lemparan ke dalam, yang bisa saja memicu frustrasi bagi tim Indonesia dan Gerald Vanenburg. Meskipun demikian, Kim Sang-sik membantah tuduhan tersebut, mengklaim aksinya hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum pemain Vietnam. Ia beralasan cuaca panas membuat timnya membutuhkan banyak asupan cairan agar tetap bugar, menepis tudingan sengaja mengganggu Garuda Muda. Media Vietnam, Dantri, menilai bahwa reaksi keras Gerald Vanenburg kemungkinan besar dipicu oleh insiden kontroversial ini. Mereka mengindikasikan bahwa akumulasi kekecewaan dan insiden di lapangan menjadi penyebab utama sikap Vanenburg pasca-pertandingan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya