Liputan6.com, Jakarta- Kematian Arya Daru Pangayunan (39) masih menjadi teka-teki besar. Diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) itu ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di kamar indekosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025). Kematian yang langsung memicu spekulasi, dari dugaan pembunuhan hingga skenario rumit lainnya.
Dua puluh hari telah berlalu. Polisi sudah memeriksa 24 saksi, menelusuri 20 rekaman CCTV, serta menyisir barang bukti dari lokasi kejadian. Namun, publik belum juga mendapat kepastian. Apa sebenarnya yang terjadi pada Arya Daru?
Advertisement
Di tengah ketidakpastian itu, Komisioner Kompolnas, Choirul Anam menyebut kepingan misteri mulai terangkai. Temuan penting seperti tas pribadi, jejak digital komunikasi, serta hasil autopsi menjadi titik awal untuk mengurai benang kusut kasus ini.
"Menurut kami, dengan pendekatan scientific dan komparasi yang detail, peristiwa ini sebenarnya sudah terang," kata Anam, Senin (28/7/2025).
Tas Berisi Laptop Ditemukan
Satu hari setelah jasad Arya Daru ditemukan, polisi menemukan dua tas miliknya. Letak tas itu tak jauh dari tangga darurat di lantai 12 gedung Kemlu. Tas-tas itu ditemukan pada 9 Juli 2025, namun baru diungkap ke publik Senin kemarin.
Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Reonald Simanjuntak menjelaskan, dua tas itu terdiri dari ransel dan tas belanja.
Tas ransel berisi laptop. Sementara tas belanja berisi celana, kemeja, hingga kaos yang baru dibeli di Grand Indonesia (GI).
Dalam tas Arya Daru juga ditemukan obat dan rekam medis dari sebuah rumah sakit umum di Jakarta, tertanggal Juni 2025. Namun, Reonald menolak mengungkap jenis obat dan penyakit Arya Daru.
"(Riwayat sakit) enggak bisa saya kasih tahu ya, karena itu masuk ke privasi," ujarnya.
Reonald menduga, Arya Daru naik ke rooftop gedung Kemlu menggunakan tangga darurat dari lantai 12. Dugaan itu muncul karena akses lift di gedung tersebut hanya berhenti sampai lantai 12.
Jejak Digital
Selain tas berisi laptop, polisi juga telah berhasil mengamankan potongan penting dari jejak digital sang diplomat muda. Meskipun, ponsel Arya Daru belum juga ditemukan.
Dari perangkat lain milik Arya Daru, penyidik mengakses salinan percakapan WhatsApp dan email sebelum dia ditemukan tewas misterius.
Rekam jejak digital itu kini sedang dicocokkan dengan riwayat obrolan Arya bersama sang istri dan beberapa rekannya. Hasil sementara ada kecocokan.
“Semua data dikombinasikan, mulai dari WA istri, WA teman, hingga pihak-pihak yang terakhir berinteraksi dengan korban. Sinkron,” ungkap Reonald.
Penyelidikan tak berhenti di dunia maya. Polisi juga berhasil melacak data pemesanan taksi yang mengantar Arya ke lokasi terakhirnya. Bahkan, sopir taksi yang mengantar Arya telah dimintai keterangan langsung.
"Sopir taksi itu juga, sopir taksi yang mendapatkan orderan yang untuk mengantarkan orderan itu juga sudah diambil keterangan," ujar Reonald.
Hasil Labfor Sudah Keluar
Tiga hari lalu, polisi mengaku telah mengantongi hasil uji laboratorium forensik (labfor) terkait kematian misterius Arya Daru. Namun, hingga kini, hasil penting itu belum dibuka ke publik.
"Untuk hasil labfor sudah keluar, nanti akan disampaikan saat rilis resmi," kata Reonald.
Menurut Reonald, hasil labfor itu belum bisa berdiri sendiri. Penyidik masih perlu menyinkronkannya dengan barang bukti lain agar gambaran utuh bisa didapat. Semua potongan harus cocok sebelum fakta dibuka ke publik.
“Sekarang masih proses sinkronisasi dan pengumpulan alat bukti, agar bisa mengungkap fakta sebenarnya,” lanjutnya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa pengusutan kematian Arya Daru dilakukan dengan pendekatan scientific crime investigation. Polisi, kata dia, memilih bergerak cermat dan hati-hati, tak ingin terburu-buru menyimpulkan sebuah kasus yang begitu sensitif.
Kronologi Penemuan Mayat Arya Daru
Jenazah Arya Daru ditemukan di dalam kamar kos Guest House Gondia, Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025).
Penemuan jasad Arya Daru berawal dari kecurigaan istrinya yang tak kunjung mendapatkan kabar sang suami. Istri Arya Daru lalu meminta penjaga kos untuk memeriksa kamar korban.
"Ada permintaan istri korban, dari malam harinya kepada penjaga kos untuk mengecek ke kamar korban karena istri korban tidak dapat menghubungi korban, karena handphone korban mati," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Kamis (24/7/2025).
"Setelah dimintai tolong oleh istri korban, penjaga kos melaporkan kepada pemilik kos untuk membuka pintu. Dan penjaga kos mengajak salah satu penghuni lain FM untuk membuka atau mengecek kondisi kamar," sambung dia.
Dia menjelaskan, kamar korban bernomor 105 di Guest House Gondia. Saat itu, kamar korban dalam kondisi terkunci dari dalam baik melalui kunci manual, slot, maupun akses kunci pribadi yang hanya dipegang oleh korban.
Untuk masuk ke dalam, penjaga kos dan penghuni lain berinisial FM mencongkel jendela terlebih dulu, lalu membuka slot pengaman dan kunci manual dari dalam.
"Jadi, penjaga kos dan saksi penghuni kos lainnya, FM, berupaya masuk ke dalam kamar korban dengan mencongkel jendela, kemudian membuka slot dari dalam, membuka kunci manual, akhirnya pintu berhasil dibuka," ucap dia.
Saat ditemukan, korban dalam posisi terbaring di atas tempat tidur dengan kepala dililit lakban warna kuning.
"Korban ditemukan dalam kondisi wajah tertutup plastik, kemudian terlilit lakban berwarna kuning di tempat tidurnya. Kemudian tertutup selimut, korban di atas tempat tidurnya ditemukan dengan keadaan menggunakan kaos dan celana pendek," ujar dia.