Hari Hepatitis Sedunia: Kisah Mereka yang Melawan dan Tak Menyerah

Angka kasus hepatitis di Indonesia masih memprihatinkan.

oleh SupriatinDiperbarui 28 Juli 2025, 19:16 WIB
Ilustrasi Hepatitis akut (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta-  "Sudah delapan tahun saya berjuang melawan Hepatitis B," ucap Ria (33) sambil membalik halaman buku, duduk di teras rumah menemani anaknya bermain.

Kalimat itu meluncur tenang, meski menyimpan kisah panjang dan tak mudah. Ria tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya sebulan setelah pernikahan. 

Pada September 2017, dokter menyatakan dia positif Hepatitis B, tepat setelah sang suami, Amil (38), mengalami gejala mata menguning, tubuh lemas, dan muntah-muntah. Ria dan Amil menikah pada Agustus 2017. 

Pemeriksaan darah memastikan Amil terinfeksi Hepatitis B. Ria, yang merasa baik-baik saja tanpa gejala, ikut memeriksakan diri. Hasilnya mengejutkan, positif juga.

“Darah saya seketika berdesir. Bisa jadi saya yang menulari ke suami, karena sebelumnya dia sehat,” kenangnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Bogor, Jawa Barat, Minggu (27/7/2025).

Ria tak tahu kapan tepatnya dia tertular. Namun, dia menduga awal mula terjadi pada 2016, saat mengikuti kursus bahasa di Kediri, Jawa Timur. Dia sempat dirawat karena demam dan muntah-muntah hebat. Saat itu, dokter menyebut ada virus di tubuhnya, tapi tak pernah dijelaskan lebih lanjut.

Pengobatan Terkendala Dana

Sejak dinyatakan positif Hepatitis B, Ria tak pernah benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang penyakit itu. Dia terlihat sehat dari luar, namun di dalam tubuhnya, virus terus bekerja diam-diam, melemahkan imun, mengganggu aktivitas, dan membebani pikirannya setiap hari.

Bersama sang suami, Ria memilih untuk bertahan. Mereka tak menyerah, meski perjalanan tak mudah. Pada 2019, Ria sempat menjalani pengobatan medis. Namun, langkah itu terhenti di tengah jalan. Biaya yang tak sedikit membuat mereka harus memilih, kesehatan atau kebutuhan sehari-hari.

Ria lalu beralih ke pengobatan tradisional. Dia berusaha keras menjaga tubuhnya, tapi kondisi fisiknya tak lagi sekuat dulu. Kini, tubuhnya mudah lelah, sering sakit, dan sangat rentan terhadap infeksi.

“Kadang saya hanya bisa tiduran seharian, karena badan seperti habis diperas,” tuturnya.

Harapan Menipis di Tengah Perjuangan Melawan Hepatitis B

Enda (37), juga berjuang melawan Hepatitis B dalam lima tahun terakhir. Tubuh yang dulu bugar dan berisi, kini tinggal tulang dan kulit.

“Kadang saya mikir, apa masih bisa umur panjang kalau hati saya sudah rusak,” ucap Enda pelan, menatap kosong ke kejauhan. Hepatitis merupakan penyakit yang menyerang hati. 

Seperti banyak penderita lainnya di daerah terpencil, Enda tak punya banyak pilihan. Pengobatan medis hanya sebatas harapan yang mahal. Rumah sakit berjarak jauh dari tempat tinggalnya di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT). Biaya transportasi saja sudah membuatnya berpikir dua kali, belum lagi biaya pemeriksaan dan obat.

Akhirnya, Enda memilih pengobatan tradisional, meski dia sadar itu hanya menenangkan, bukan menyembuhkan. Dia tak lagi banyak berharap, hanya berusaha menjalani hari demi hari semampunya.

“Sekarang pasrah saja. Kalau memang waktunya dipanggil Tuhan, apa boleh buat,” katanya lirih.

Data Kasus Hepatitis

Angka kasus hepatitis di Indonesia masih memprihatinkan. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sebanyak 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi Hepatitis B pada 2023. Temuan ini berasal dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI), yang menggambarkan betapa seriusnya ancaman penyakit ini.

Secara regional, Asia Tenggara menjadi kawasan dengan beban besar. Pada April 2024, tercatat 61,4 juta orang di Asia Tenggara menderita hepatitis B kronik. Sementara di tingkat global, jumlah penderita hepatitis B mencapai 254 juta orang per 2022, menjadikannya salah satu penyakit menular paling masif di dunia.

Hepatitis C juga tak kalah mengkhawatirkan. Di Indonesia, sekitar 2,5 juta orang terinfeksi berdasarkan data Kemenkes tahun 2013. Di seluruh dunia, penderita hepatitis C kronik mencapai 50 juta orang.

Hari ini, 28 Juli 2025, merupakan Hari Hepatitis Sedunia. Peringatan ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit hepatitis.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya