Niat Menolong Berujung Pengungkapan, Kisah Warga Patuk Bongkar Peredaran Obat Terlarang

Kecelakaan tunggal di Patuk membuka tabir peredaran obat terlarang. Seorang pemuda diamankan warga usai kedapatan membawa ratusan butir obat berbahaya dalam dua tas.

oleh HendroDiterbitkan 28 Juli 2025, 23:00 WIB
Bungkusan plastik berisi puluhan paket obat terlarang yang ditemukan warga di dalam tas selempang milik seorang pemuda usai mengalami kecelakaan tunggal di dekat Jembatan Kedung Kandang, Patuk, Gunungkidul.

 

Liputan6.com, Gunungkidul - Suasana di sekitar Jembatan Kedung Kandang, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Gunungkidul, Minggu siang (27/7/2025), tiba-tiba geger. Seorang pria ditemukan tergeletak tak berdaya di pinggir jalan setelah mengalami kecelakaan tunggal

Melihat itu, seorang pedagang angkringan berinisial SW yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian, awalnya mengira peristiwa itu hanya kecelakaan biasa. Ia mendapat kabar dari tetangganya bahwa ada pemuda yang jatuh dari sepeda motor, tampak sempoyongan, dan terluka. Tanpa pikir panjang, SW bergegas meninggalkan dagangannya dan mendatangi lokasi.

"Saya lihat anak muda itu jatuhnya cukup keras, kena pembatas selokan. Posisi tubuhnya lunglai, wajahnya kepanasan, kayak orang mabuk," ungkap SW.

Didorong rasa kemanusiaan, SW dan beberapa warga lain berusaha menolong pemuda tersebut. Mereka mengangkat tubuhnya menuju pos ronda agar bisa berteduh dan diberi pertolongan pertama. Namun karena tubuh korban cukup berat, SW mengaku sempat menyeretnya hingga ke pos. Di tengah kepanikan itu, tas selempang milik korban tertinggal di lokasi kecelakaan.

Saat kembali ke lokasi untuk mengambil tas korban terbersit niatan SW untuk mencari identitas korban. Namun yang ia temukan jauh dari dugaan.

"Saya buka tas selempangnya, harapannya ada dompet atau KTP. Tapi malah nemu kresek hitam berisi plastik-plastik kecil. Setelah saya buka, isinya kayak obat, banyak banget," ujarnya.

Kaget dan mulai curiga, SW langsung mencoba menghubungi aparat. Upaya menelepon Polsek Patuk tak berhasil, namun ia tidak menyerah. Ia kemudian mengontak seorang anggota Polres Gunungkidul yang tinggal di dusun tetangga, serta menghubungi seorang anggota Jogo Boyo Kalurahan Putat.

Tak lama kemudian, aparat kampung dan warga berkumpul di pos ronda. Pemuda yang semula tak sadarkan diri mulai siuman dan diinterogasi secara ringan. Jawabannya membuat semua orang terhenyak, ia mengaku menjual setiap paket obat itu seharga Rp10.000.

Dari hasil penghitungan, terdapat 36 paket kecil dalam tas selempang yang diduga merupakan obat terlarang. Tapi kejutan belum selesai.

Setelah kondisi korban sedikit stabil, ia dibawa ke klinik terdekat untuk mendapat penanganan medis. Di sana, warga dan petugas Jogo Boyo membuka satu tas lain yang sebelumnya belum sempat diperiksa—tas gendong milik pemuda tersebut.

"Kami pikir tas selempangnya aja yang mencurigakan, eh ternyata di tas gendongnya isinya lebih gila lagi," tutur salah satu warga yang ikut mengantar.

Sekitar 800 butir obat-obatan yang diduga berbahaya ditemukan di dalam tas gendong tersebut. Seluruhnya tersusun rapi dalam kemasan plastik, siap edar. Tak ingin ambil risiko, warga dan aparat kampung segera membawa pelaku beserta barang bukti ke Polres Gunungkidul.

"Begitu tahu jumlah obatnya sebanyak itu, saya langsung bilang: ini bukan anak mabuk biasa. Ini pengedar," ungkap SW.

 

Kata Polisi

Pihak kepolisian pun membenarkan adanya penyerahan pelaku dan barang bukti. Dikonfirmasi pada Senin pagi (28/7/2025), Kepala Unit Narkoba Polres Gunungkidul AKP Budi Karyanto menyatakan bahwa kasus ini sedang ditangani intensif.

“Benar, saat ini pelaku sudah kami amankan. Barang bukti sedang kami dalami, termasuk identitas pelaku dan kemungkinan keterlibatan jaringan lain. Masih kita kembangkan,” ujar AKP Budi.

Pengungkapan ini menjadi peringatan bahwa peredaran obat terlarang telah menyusup hingga ke wilayah pedesaan. Yang mengejutkan, penangkapan ini bukan hasil operasi aparat, melainkan dimulai dari naluri kemanusiaan seorang warga biasa.

“Ada rasa ngeri juga, ternyata orang yang kita tolong itu pengedar. Tapi saya tetap bersyukur, mungkin ini jalan Tuhan agar peredaran obat ini bisa terhenti,” tutup SW.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya