Liputan6.com, Jakarta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan total aset Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) menembus Rp 1.049,15 triliun sampai Mei 2025.
Angka aset ini terbesar bersumber dari PVML konvensional sebesar Rp 931,38 triliun dan syariah sebesar Rp 117,77 triliun. "Hal menarik adalah ternyata di PVML ini sebagian besar uang disalurkan ke pembiayaan," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga PVML OJK Agusman di Jakarta, Selasa (22/7/2025) lalu.
Advertisement
Dia mengatakan jika di industri PVML memang benar-benar utuh diberikan untuk membantu masyarakat. Adapun penyaluran pembiayaan disebutkan mencapai Rp 951,89 triliun. Ini terdiri dari pembiayaan konvensional Rp 840,45 triliun dan syariah Rp 111,44 triliun. Selama ini jumlah pelaku industri PVML mencapai 744, yang terdiri dari 645 konvensional dan 99 syariah.
Disebutkan perusahaan pembiayaan masih menjadi tulang punggung industri PVML. Dengan nilai aset mendekati 60% dari Rp 1.049,15 triliun mencapai Rp 587 triliun. Dari jumlah pelaku sebanyak 145.
Dia pun merinci aset per sektor di mana perusahaan pembiayaan sebesar Rp 587,55 triliun, perusahaan pembiayaan infrastruktur Rp 14,35 triliun, perusahaan modal ventura Rp 27,02 triliun dengan jumlah pelaku 51.
Kemudian aset sektor lembaga keuangan mikro sebesar Rp 1,61 triliun dengan jumlah pelaku 245, aset pinjaman daring (daring) sebesar Rp 9,67 triliun dengan jumlah pelakuk 96, aset Pergadaian senilai Rp 124,44 triliun dengan jumlah pelaku 201, LPEI senilai Rp 46,72 triliun, SMI sebesar Rp 117,15 triliun, SMF senilai Rp 53,81 triliun, PNM sebesar Rp 55,4 triliun dan BP Tapera sebesar Rp 11,35 triliun.
Hal Mempengaruhi Perlambatan Pertumbuhan
Selain menjelaskan besaran aset, Agusman menjabarkan berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi sektor PVML yang pertumbuhannya melambat. Seperti pada industri pembiayaan, faktor yang mempengaruhi yakni, ketidakpastian kondisi geopolitik dan ekonomi global mendorong perusahaan meningkatkan pengelolaan manajemen risiko sehingga penyaluranpembiayaan melambat dan kurang masif.
"Sebagian besar portofolio PP masih terpusat di sektor otomotif. Penurunan penjualan kendaraan bermotor berpotensi menyebabkan pertumbuhanindustri pembiayaan pun ikut terhambat," jelas dia.
Kemudian pada industri perusahaan modal venturan, hal yang mempengaruhi perlambatan pertumbuhan antara lain, Iklim usaha yang lesu, fenomena tech winter yang terjadi secara global mendorong strategi bisnis PMV yang sebagian besar melakukan penyertaan kepada perusahaan start up bergeser dan mencari potensi pasar lain yang dapat diperhitungkan keberlanjutannya.
Selain itu, akses Pendanaan Terbatas;Beberapa PMV mengubah strategi dari penyertaan modal (Venture Capital Corporation/VCC) menjadi pembiayaan melalui pembelian surat utang/sukuk(Venture Debt Corporation/VDC.
Pindar hingga Pergadaian
Pada industri pindar, beberapa faktor terkait dengan perubahan TWP90 antara lain kemampuan platform memfasilitasi penyaluran dana sehingga dapat memengaruhi outstanding pendanaan dan besarnya pendanaan yang masuk dalam periode macet. Serta, kualitas credit scoring kepada calon penerima pinjaman. Dan kualitas proses collection pinjaman yang sedang berjalan.
“ Industri Pindar diperkirakan akan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun 2025, didukung dengan penguatan antara lain pengaturan dan pengawasan industri Pindar, meskipun menghadapi berbagai tantangan seperti risiko kredit serta dinamika ekonomi global dan domestik,” lanjut Agusman.
Pada industri pergadaian swasta tetap dibutuhkan masyarakat sebagai alternatif pembiayaan mikro yang cepat, terutama untuk kebutuhan darurat. Dikatakan bagi pergadaian swasta, akses pendanaan lebih terbatas dibanding PT Pegadaian (Persero), sehingga menghambat ekspansi.