Mahakam Ulu Krisis: Sungai Surut, Harga Beras Tembus Rp 1 Juta per 25 Kg

Kemarau yang melanda Kabupaten Mahakam Ulu menyebabkan Sungai Mahakam surut dan berdampak pada harga kebutuhan pokok melambung drastis, memperparah beban hidup warga di wilayah yang terisolasi akses logistiknya.

oleh Abdul JalilDiterbitkan 28 Juli 2025, 13:40 WIB
Desa Long Apari di Mahakam Ulu menjaga kelestarian alam dengan mengelola hutan adat secara turun-temurun, sebagai bagian dari warisan leluhur yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Liputan6.com, Mahakam Ulu - Harga kebutuhan pokok melambung, stok menipis, dan warga kesulitan BBM. Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menetapkan status siaga darurat kekeringan untuk wilayah Kecamatan Long Apari yang kini terdampak krisis akibat kemarau.

Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Kecamatan Long Apari. Keputusan ini diambil setelah kondisi di tiga kampung yakni Long Apari, Noha Tivab, dan Noha Silat menunjukkan dampak serius akibat kekeringan dan kemarau.

“Harga sembako seperti beras dan gas melonjak tajam. Beras 25 kilogram kini dijual hingga Rp1 juta, sementara gas 12 kg menyentuh Rp800 ribu. Ini sudah masuk kategori darurat logistik,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Mahakam Ulu, Agus Darmawan, dalam rapat koordinasi daring, Jumat (25/7/2025) malam.

Ia menambahkan, BBM juga langka. Warga hanya boleh membeli 5–15 liter per keluarga, dengan harga per liter mencapai Rp25 ribu. Di tengah keterbatasan ini, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan bronkitis turut meningkat, terutama menyerang anak-anak.

Camat Long Apari, Petrus Ngo yang mewakili suara warga, menjelaskan kemarau menyebabkan Sungai Mahakam surut drastis. Hal ini berdampak langsung pada distribusi barang. Buruknya infrastruktur ke kawasan pedalaman di Kalimantan Timur memang seperti membuat bencana rutin bagi sebagian wilayah di kabupaten ini. Bayangkan, setiap tahun, setiap musim kemarau selalu terjadi bencana seperti ini.

Ada jalan darat, namun hanya orang nekat yang mau melintasinya. Seluruh aktivitas masyarakat, aksesnya hanya bisa melalui jalur Sungai Mahakam. “Transportasi hanya bergantung pada sungai. Ketika air surut, pasokan bahan pokok dan BBM tersendat. Harga-harga naik tajam,” ujar Petrus Ngo.

Dia memerinci bahwa harga beras yang kian tak masuk akal seperti Beras Kura-Kura dan Raja Lele dijual Rp1 juta per 25 kg. Bahkan, stoknya hanya tinggal belasan karung. Gula pasir mencapai Rp35 ribu per kilogram, sementara BBM eceran di kisaran Rp25–35 ribu per liter.

Kepala Bagian Ekonomi Sumber Daya Alam (EKOSDA) Mahakam Ulu menawarkan solusi cepat melalui pengaktifan subsidi ongkos angkut (SOA). “Kami akan menyosialisasikan mekanisme pengajuan subsidi angkut kepada pelaku usaha agar distribusi logistik bisa berjalan lebih lancar ke wilayah terdampak,” katanya.

Dinas PUPR pun menetapkan Kampung Long Pakaq sebagai titik droping logistik karena lebih mudah dijangkau dari Long Apari. “Kami juga siagakan alat berat di beberapa jalur rusak untuk membantu distribusi darat,” kata Kepala Dinas PUPR.

Gerak Cepat Cari Solusi

Beginilah kondisi jalan di Kabupaten Mahakam Ulu yang menghubungkan Kecamatan Long Bagun dengan Kecamatan Long Apari. Sulitnya akses distribusi barang membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan langka.

Dari sisi pertahanan, perwakilan Koramil Long Apari menyatakan siap membawa persoalan ini ke komando atas untuk permohonan bantuan helikopter. “Kami akan usulkan bantuan heli guna mempercepat pengiriman bahan pokok ke tiga kampung terdampak,” ujar perwakilan Kodim 0912 Kutai Barat.

Sementara itu, Polres Mahakam Ulu menyarankan pembangunan gudang logistik di daerah perbatasan sebagai antisipasi bencana tahunan. “Gudang ini penting untuk mempercepat distribusi dan mengurangi beban warga ketika terjadi krisis, baik kekeringan maupun banjir,” jelas Kepala Bagian Operasi Polres Mahakam Ulu.

Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPP) menyatakan akan mendistribusikan 1,4 ton beras Bulog ke Long Apari dan 3,9 ton ke Long Pahangai pada Minggu (27/7/2025). “Kami sudah punya program beras murah, tapi kendalanya di biaya transportasi. Jika ongkos angkut tidak disubsidi, program tak bisa berlanjut,” kata perwakilan DKPP.

Wakil Bupati Mahakam Ulu, Yohanes Avun, memerintahkan OPD terkait untuk segera merespons situasi ini dengan langkah-langkah nyata. “Segera buat SK penetapan siaga darurat, permudah pengurusan SOA, dan tetapkan titik droping barang di Long Pakaq. Jangan persulit pelaku usaha. Kita harus bergerak cepat,” tegas Yohanes.

Ia juga meminta agar Kodim segera menindaklanjuti usulan heli dan Dinas PUPR memprioritaskan perbaikan akses darat secara bertahap. Rapat Koordinasi Multisektor Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan itu ditutup dengan seruan untuk bergerak cepat. Pemerintah daerah didorong segera menetapkan status resmi dan menyusun langkah konkret lintas sektor agar warga tidak semakin terpuruk.

Dengan harga pangan yang melambung, air bersih yang langka, akses logistik terputus, serta memburuknya kondisi kesehatan anak-anak, situasi di Long Apari dan kampung sekitarnya bukan lagi sekadar bencana musiman. Jika tak segera ditangani, kekeringan ini berpotensi berkembang menjadi krisis kemanusiaan di jantung Perbatasan Indonesia – Malaysia di Mahakam Ulu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya