Transformasi 45 Tahun, China Sulap Shenzen dari Desa Nelayan Menjadi Kota Teknologi

China menyulap Shenzen dari sebuah desa Nelayan yang berbatasan dengan Hong Kong menjadi kota cerdas dengan pelbagai fitur teknologi canggih di dalamnya.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 27 Juli 2025, 15:38 WIB
Landskap Kota Shenzen (Foto: Muhammad Radityo/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Hanya dalam 45 tahun, China menyulap Shenzen dari sebuah desa Nelayan yang berbatasan dengan Hong Kong menjadi kota cerdas dengan pelbagai fitur teknologi canggih di dalamnya. Mobil listrik, Artificial Intelligence (AI), koneksi internet super cepat dan beragam perusahaan teknologi terkemuka yang kini menguasai pasar dunia, seperti BYD.

Tim Liputan6.com bersama belasan jurnalis dari seluruh Asia Tenggara (ASEAN) berkesempatan mengenal Shenzen lebih dekat dalam acara ASEAN Media Capacity Building pada 17 Juli 2025.

Destinasi pertama adalah markas BYD. Di sana, kami diperlihatkan sejarah dari mobil listrik yang tengah naik daun di pasar global. Mungkin banyak yang belum tahu, awal lahirnya BYD adalah proyek baterai di tahun 1994.

Kemunculan BYD Bermula dari Proyek Baterai

Shenzhen BYD Battery (Foto: Muhammad Radityo/Liputan6.com)

Saat itu, Wang Chuanfu bersama tim kecilnya memulai Shenzhen BYD Battery Co., Ltd. di Buji Town, Longgang District, Shenzhen. Fokusnya ada pada baterai nikel-kadmium (NiCd) untuk perangkat elektronik.

“BYD tidak memulai proyeknya langsung pada kendaraan listrik seperti yang dikenal hari ini,” kata representatif resmi BYD yang memandu.

Namun BYD berekspansi, dari yang semula hanya baterai untuk perangkat elektronik, merambah ke bidang transportasi, seperti monorail dan mobil listrik.

Selama 30 tahun beroperasi, banyak inovasi yang sudah dikembangkan, seperti Blade Battery, DM‑i hybrid system, e‑platform, hingga prototipe mobil mewah YangWang U8/U9, Denza, juga e-Seed GT.

“Ada mobil yang bisa menari,” ujar Pholpat Salayaknond salah satu jurnalis dari Auto Life Thailand usai menjajal YangWang U9.

Berkenalan dengan Robot Humanoid

Robot Humanoid di Markas UBTech (Foto: Muhammad Radityo/Liputan6.com)

Kecanggihan perusahaan teknologi di Shenzen tidak berhenti di BYD. Berikutnya, China Daily sebagai fasilitator dalam perjalanan kali ini mengajak kami ke Markas UBTech untuk bermain bersama robot humanoid.

Robot humanoid adalah robot teknologi berbasis AI yang bertujuan memudahkan hidup manusia di era modern. Mulai dari mengangkat barang berat, bekerja di pabrik secara tak henti, hingga menjadi teman belajar yang edukatif.

Panda robot menjadi humanoid pertama yang menyambut kedatangan kami di Markas UBTech. Bukan sebatas pajangan, namun dia juga dapat menampilkan berbagai atraksi memukau.

“Namanya Youyou. salah satu robot humanoid unggulan. Dia bisa menari, menulis, melakukan gerakan tai chi. dan bergaya love dengan tangannya saat diajak berfoto,” kata tim pemandu dari UBtech.

Robot berikutnya yang ditampilkan adalah Alpha Mini. Beda dengan Youyou, seperti namanya, robot ini berukuran kecil dan memiliki fungsi sebagai edukasi bagi anak-anak. Bisa menjadi teman bernyanyi dan mampu atraksi tari.

“Robot Alpha Mini UBTECH memiliki sejumlah keunggulan dalam hal interaksi dan pendidikan. Robot humanoid ini dirancang untuk menjadi perangkat interaktif dan dapat diprogram, cocok untuk pembelajaran pemrograman dan tujuan hiburan bagi anak-anak,” tutur sang pemandu.

Lilik Suci, reporter dari Metro Xinwen yang memiliki kemampuan berbahasa mandarin menjajal langsung berinteraksi dengan Alpha Mini dengan memberi perintah agar robot tersebut mengeluarkan kemampuannya.

“Lucu banget, robotnya bikin gemas bisa menyanyi dan menari,” seru Lilik.

Puas bermain dengan robot humanoid, kami bergeser menuju Nanshan Energy Ecological Park.

 

Pabrik Pengolah Sampah Modern

Nanshan Energy Ecological Park (Foto: Muhammad Radityo/Liputan6.com)

Sejatinya, tempat ini adalah panrik pengolahan sampah domestik bagi warga setempat. Bedanya, karena Shenzen adalah kota pintar maka segala sesuatunya harus dengan teknologi. Termasuk soal sampah.

Jangan bayangkan Nanshan Energy Ecological Park seperti tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang bau dan becek, karenq pemandangan itu tidak akan dijumpai.

Berdasarkan informasi, ada 2.300 ton sampah per hari yang berasal dari dari Nanshan, dengan tambahan dari distrik Futian dan Luohu. Ribuan ton sampah itu kemudian diolah menjadi Pembangkit listrik tenaga sampah berteknologi tinggi. Dengan menggunakan sistem pemurnian gas buang tujuh tahap, maka emisi dihasilkan jauh di bawah ambang batas nasional bahkan dari standar EU.

“Kontrol dari kerja pengelolaan sampah di sini sangat modern, sebab dipantau menggunakan internet of things (IoT), AI dan big data. Sehingga semua perkembangan tersaji secara real time,” ujar tim dari Nanshan Energy Ecological Park menjelaskan.

Usai mengetahui cara pengolahan sampah di Shenzen bekerja, rombongan media diajak ke ruang pameran seni yang bahannya berasal dari sampah yang sudah dipisahkan dan diolah sehingga menciptakan berbagai bentuk karya seni.

Bukan tanpa tujuan, hadirnya pameran seni dari sampah untuk membuktikkan bahwa Shenzen mampu menjadi kota dengan nol limbah sisa. Karena material yang sudah menjadi ampas tetap dapat dimanfaatkan menjadi karya seni yang indah.

10 Prinsip Kota Shenzen

Landskap Kota Shenzen (Foto: Muhammad Radityo/Liputan6.com)

Menurut Direktur Jenderal Kantor Urusan Luar Negeri Shenzhen, Cao Saixian, terdapat 10 prinsip yang menjadi kunci keberhasilan kota ini. Pertama, waktu adalah uang, efisiensi adalah hidup.

“Artinya, waktu dan efisiensi adalah dua hal yang dipegang teguh oleh masyarakat di Shenzen,” kata Cao saat menjumpai para jurnalis ASEAN Media Capacity Building Workshop saat jamuan makan siang, pada Kamis (17/7/2025).

Selanjutnya, Cao mengatakan adalah berani. Berani dimaksud adalah berani menjadi yang pertama dan terdepan. Ketiga tidak ada omong kosong alias tidak basa-basi, semua yang diinginkan langsung dikerjakan.

“Prinsip keempat adalah keterbukaan dan perubahan adalah, kelima adalah mau menyambut dunia dan tidak ada jarak antara Shenzhen terhadap dunia,” ungkap Cao.

Keenam adalah solidaritas antar sesama. Cao menyebut, kotanya memiliki 4 juta sukarelawan yang tidak sungkat membantu bagi masyarakat lain yang membutuhkan.

“Prinsip ketujuh adalah menjamin kehidupan budaya warga Shenzhen. Kedelapan adalah cinta membaca, karena warga Shenzen mempunyai kesukaan membaca yang tinggi,” jelas Cao.

Kesembilan, Cao mengatakan prinsip saling terbuka. Ketika ada seorang pendatang ke Shenzen maka dia sudah dianggap sebagai Shenzener atau warga Shenzen. Terakhir, adaah inovasi. Shenzen telah melahirkan banyak perusahaan yang awalnya merintis namun dapat menjelma menjadi raksasa dunia.

“Kuncinya jika gagal hal itu bukan masalah, teruslah kembali mencoba, tidak akan ada yang menertawakan di Shenzen. Banyak kegagalan artinya banyak kesempatan untuk kembali memulai,” Cao menandasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya