Gen Z dan Milenial Suka Wajah Baru Blok M Hub, Lebih Nyaman, Menarik, dan Terintegrasi

Transformasi kawasan Blok M Hub menjadi bagian penguatan Blok M sebagai salah satu sentra ASEAN, yang sejalan dengan konsep Jakarta Kota Global dan Berbudaya.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 25 Juli 2025, 09:00 WIB
Wajah baru terowongan Mal Blok M yang kini jadi Blok M Hub. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berinovasi menghadirkan ruang kota yang modern, inklusif, dan terintegrasi. Salah satu langkah strategis yang menjadi sorotan publik adalah revitalisasi kawasan terminal dan Mall Blok M, Jakarta Selatan, yang legendaris. Dengan sentuhan baru, kawasan ini kini bernama Blok M Hub.

Transformasi kawasan Blok M Hub menjadi bagian penguatan Blok M sebagai salah satu sentra ASEAN, yang sejalan dengan konsep Jakarta Kota Global dan Berbudaya. Bukan hanya sentra budaya dan ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu pusat interkoneksi antarmoda, ruang publik yang nyaman dengan aksesibilitas bagi pejalan kaki, sehingga menjadikan Jakarta lebih inklusif dan modern.

Wajah baru terowongan Mal Blok M yang kini jadi Blok M Hub. (Liputan6.com/Veronica Hadi)

Wajah baru kawasan Blok M yang segar, modern, dan ramah bagi seluruh kalangan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat luas, baik warga Jakarta maupun dari daerah penyangga Ibu Kota. Salah satunya, Rahman (29 tahun), seorang karyawan swasta asal Pamulang, Tangerang Selatan, yang rutin melewati Blok M. Menurutnya, perbedaan paling mencolok dari Blok M Hub adalah desain dan suasananya.

"Dulu sebelum 2024, kawasan ini sepi dan kesannya agak seram. Tapi, sekarang beda banget, dari bangunan, interior, semuanya lebih menarik dan lebih hidup lagi," kata Rahman di kawasan Blok M Hub, kepada Liputan6.com, Kamis (24/7/2025). 

Wajah baru Blok M Hub. (Dok. Pemprov DKI Jakarta)

Rahman melihat kawasan Blok M mengalami transformasi menyeluruh, tak hanya dari sisi tampilan fisik, tetapi juga fungsi transportasi publik.

"Sekarang mobilitas lebih simpel. Jadi  transit buat yang naik Transjakarta, MRT, atau ke mall. Semuanya lebih cepat dan terhindar dari macet," ujar Rahman.

Lebih lanjut, Rahman mengapresiasi rencana pemerintah yang menjadikan Blok M Hub sebagai ruang terbuka publik untuk generasi muda.

Wajah baru terowongan Mal Blok M yang kini jadi Blok M Hub. (Liputan6.com/Veronica Hadi)

Kehadiran Blok M Hub yang memberi warna baru dalam aktivitas anak muda juga disambut gen Z, Abel asal Depok.

"Sekarang lebih enak, sudah terintegrasi. Buat rekreasi, tempat kumpul-kumpul. Biasanya cuma di M Bloc aja. Dengan adanya Blok M Hub ini nambah opsi buat anak muda," kata Abel.

Menurutnya, Blok M Hub menjanjikan lebih dari sekadar ruang transit, tetapi menjadi tempat nongkrong, pusat kuliner, serta ruang ekspresi budaya. "Culture banget. Blok M sekarang kayak Hongdae-nya Jakarta,” ungkap Abel sambil tersenyum.

Peluang Baru Bagi UMKM

Wajah baru terowongan Mal Blok M yang kini jadi Blok M Hub. (Liputan6.com/Veronica Hadi)

Transformasi kawasan Blok M Hub membawa dampak positif bagi para pelaku usaha yang telah lama bertahan di kawasan tersebut. 

"Sekarang pengunjung lebih banyak karena akses transportasinya lebih mudah. Dari Bogor ke Jakarta dan sebaliknya jadi lebih lancar," kata Ibu Ade (57 tahun) saat ditemui di kiosnya. Ia menjadi satu dari sedikit pedagang lama yang tetap bertahan, bahkan saat pandemi COVID-19 melanda yang menyebabkan banyak kios tutup.

Menurut Ibu Ade, perubahan ini tak hanya membawa wajah baru bagi Blok M, tetapi juga memberikan peluang lebih bagi para pelaku UMKM. 

“Yang pasti pengunjung bertambah, apalagi saat akhir pekan, paling ramai itu Sabtu dan Minggu. Paling banyak ya anak-anak muda yang ke sini,” tutur Ibu Ade sembari berharap terus ada peningkatan fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung dan pedagang.

Senada, Store Manager Filosofi Kopi, Dendy, mengakui revitalisasi Blok M memberi angin segar bagi dunia bisnis lokal. Kawasan ini kini dipenuhi pendatang dari luar Jakarta, bahkan dari mancanegara yang datang untuk staycation, mencari makanan viral, hingga mengunjungi lokasi syuting film Filosofi Kopi.

“Banyak juga turis-turis dari luar negeri yang ingin tahu seperti apa Blok M itu. Seperti apa Jakarta Selatan, bagaimana kehidupan malamnya, atau bahkan dari pagi sampai malam,” kata Dendy.

Peningkatan pengunjung terasa signifikan, khususnya pada akhir pekan. Sejak revitalisasi, hari-hari biasa seperti Senin pun mulai ramai.

"Paling ramai biasanya hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tapi sejak direvitalisasi, hari Senin juga mulai ramai, terutama sore hari dan jam makan siang karena banyak karyawan kantor di sekitaran Jakarta Selatan yang datang ke sini,” ujarnya.

Gubernur Jakarta Pramono Anung. (Dok. Pemprov DKI Jakarta)

Gubernur Jakarta Pramono Anung meyakini kawasan Blok M Hub akan menjadi masa depan Jakarta, memperkuat posisinya sebagai kota global yang kaya sejarah, budaya, dan inovasi yang terus tumbuh.

"Kawasan Blok M diharapkan bisa menjadi wajah baru Jakarta yang mewujudkan semangat kota global, dengan menampilkan kekayaan budaya dan produk unggulan dari negara-negara ASEAN," kata Gubernur Pramono di Blok M Hub beberapa waktu lalu.

Wajah baru terowongan Mal Blok M yang kini jadi Blok M Hub. (Liputan6.com/Veronica Hadi)

Blok M Hub dipilih sebagai pusat aktivitas ASEAN karena lokasinya yang strategis dan didukung infrastruktur memadai. Nantinya pemerintah menggabungkan tiga taman, yaitu Ayodya, Langsat, dan Leuser menjadi taman utama ASEAN yang buka 24 jam.

Sebagai Transit-Oriented Development (TOD) yang inklusif, pemerintah telah melakukan penataan trotoar dan menambah layanan Transjabodetabek menuju Blok M seperti Rute S61: Alam Sutera-Blok M, T31: PIK2-Blok M, dan P11: Bogor-Blok M. Terbaru, Pemprov juga akan meresmikan rute Transjakarta Blok M-Ancol.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya