Transaksi Derivatif Kripto Tembus Rp 6.475 Triliun, Bagaimana Potensi di Indonesia?

Head of Product Marketing Pintu Iskandar Mohammad menuturkan, perdagangan derivatif kripto di Indonesia masih memiliki ruang besar untuk terus tumbuh.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 23 Juli 2025, 19:00 WIB
Ilustrasi bitcoin (Foto: Kanchanara/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar terus memecahkan rekor harga tertinggi sepanjang masanya pada Juli 2025, dengan menyentuh harga USD 123.000.

Secara global per 15 Juli 2025, total trading volume pada perdagangan derivatif kripto mencapai USD 397,14 miliar atau sekitar Rp 6.475 triliun.

Senada, transaksi derivatif kripto di Indonesia menurut data bursa kripto CFX pada Mei 2025 lalu baru mencapai Rp 9,61 triliun. Kendati begitu, Head of Product Marketing Pintu Iskandar Mohammad optimistis perdagangan kripto di Tanah Air bakal terus melesat. 

"Perdagangan derivatif kripto di Indonesia masih memiliki ruang yang besar untuk terus bertumbuh. Kami yakin pertumbuhan volume perdagangan derivatif kripto di Indonesia akan terus bertumbuh," ujarnya, Rabu (23/7/2025).

Menurut dia, antusiasme pasar terhadap investasi dan trading aset kripto memperlihatkan tren yang positif. Terlihat dari melonjaknya jumlah pengguna aktif platform Pintu Futures yang naik hingga 44,94 persen secara kuartalan (qtq).

Melihat tingginya minat terhadap crypto futures trading atau derivatif, Pintu lantas menginisiasi futures trading competition. Dengan hadiah mulai dari Rp 85 juta dalam bentuk stablecoin USDT.

"Lebih dari 150 token dapat diperdagangkan dalam kompetisi tersebut. Semisal BTC, Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP (XRP), Pepe (PEPE), hingga Dogecoin (DOGE) bisa menjadi salah satu token pilihan yang diperdagangkan dengan menggunakan leverage 25x," tutur Iskandar.

Robert Kiyosaki: Ini Saat yang Tepat Mulai Beli Bitcoin, Tapi Jangan Serakah

Ilustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Sebelumnya, penulis buku keuangan populer Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali menyuarakan pandangannya soal Bitcoin. Melalui akun media sosial X (dulu Twitter), ia mengingatkan bahwa "gelembung akan segera pecah", yang menurutnya justru menjadi peluang emas untuk membeli aset seperti emas, perak, dan Bitcoin.

Kiyosaki mengatakan jika harga Bitcoin dan aset safe haven lainnya turun akibat koreksi besar, itu adalah "kabar baik". Alasannya sederhana: saat harga turun, ia bisa membeli lebih banyak. Hal ini ia sebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengakumulasi aset bernilai.

“Ketika gelembung pecah, kemungkinan besar emas, perak, dan Bitcoin juga akan ikut terkoreksi,” tulisnya dikutip dari cryptopotato, Rabu (23/7/2025).

“Dan itu kabar baik, karena saya akan beli lagi," tambah dia. 

Komentarnya muncul seminggu setelah ia memuji pencapaian Bitcoin yang sempat tembus di atas USD 120.000, yang menurutnya adalah kabar baik bagi mereka yang sudah memiliki BTC, tetapi sayangnya belum dinikmati oleh mereka yang belum mulai investasi.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Tetap Berhati-hati

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Meski optimis, Kiyosaki juga mengimbau investor untuk berhati-hati. Ia menyarankan untuk tidak terlalu agresif dalam membeli, dan mulai dari nominal kecil, bahkan dari pecahan terkecil Bitcoin, yaitu satoshi.

“Jika Anda belum punya Bitcoin… saya sarankan mulai dari jumlah kecil. Mulailah dari satoshi.”

Ia juga menyindir para analis yang menurutnya kerap membuat prediksi menakutkan soal kejatuhan pasar kripto, menyebut mereka sebagai pembuat konten clickbait. Namun, menariknya, beberapa kalangan juga mengingatkan bahwa prediksi Kiyosaki sendiri soal crash pasar sudah beberapa kali meleset sejak 2011, menurut data dari Brew Markets.

Bitcoin Masih Tangguh Meski Ada Rotasi ke Altcoin

Terlepas dari komentar Kiyosaki, Bitcoin masih menunjukkan performa tangguh. Data dari CoinMarketCap menunjukkan bahwa dominasi Bitcoin mencapai 60%, meski ada sedikit penurunan selama seminggu terakhir akibat rotasi modal ke altcoin—fenomena yang dikenal sebagai altseason.

Beberapa altcoin memang mencatat kenaikan lebih tinggi dalam waktu singkat. Namun, belum ada tanda-tanda siklus besar kripto mendekati puncaknya. Sejauh ini, 30 indikator siklus pasar utama yang biasa digunakan trader untuk mendeteksi puncak belum menunjukkan sinyal yang kuat.

Di tengah kondisi ini, investor institusi, ritel, bahkan pemerintah terus menempatkan dana besar ke aset kripto, membuat Bitcoin dan pasar kripto secara umum mencetak rekor baru di berbagai lini.

 

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya