Krisis Iklim Bikin Krisis Pangan: Harga Sayur, Beras, hingga Cokelat Meroket

Para peneliti mencatat bahwa cuaca ekstrem yang menyebabkan lonjakan harga pangan juga dapat memperburuk inflasi secara keseluruhan. Kondisi ini berpotensi memicu keresahan politik dan pergolakan sosial di berbagai negara.

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 23 Juli 2025, 17:30 WIB
Karena, biasanya jelang hari besar keagamaan terjadi lonjakan permintaan bahan pokok yang diikuti dengan kenaikan harga. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem telah mendorong kenaikan harga berbagai bahan pokok secara global, sekaligus menimbulkan ancaman yang lebih luas bagi masyarakat.

Studi terbaru yang dipimpin oleh Maximillian Kotz dari Pusat Superkomputer Barcelona mengungkapkan bahwa lonjakan harga pada sejumlah komoditas mulai dari sayuran di California hingga kopi di Brasil dipicu oleh kondisi cuaca yang begitu ekstrem hingga melampaui seluruh catatan historis sebelum 2020.

Mengutip CNN, Rabu (23/7/2025), studi-studi sebelumnya telah menyoroti dampak jangka panjang suhu tinggi terhadap biaya produksi pangan, terutama melalui penurunan hasil panen dan gangguan rantai pasokan.

Namun, penelitian terbaru yang dirilis pekanini menyoroti dampak jangka pendek yaitu menganalisis 16 kasus di 18 negara di seluruh dunia yang mana harga pangan melonjak akibat cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, dan curah hujan tinggi yang terjadi antara tahun 2022 hingga 2024.

Harga sayuran di California dan Arizona melonjak 80 persen pada November 2022 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh panas ekstrem dan kekurangan air yang melanda wilayah barat Amerika Serikat selama musim panas 2022.

 

Kubis, Beras hingga Kakao

Berbagai jenis sayur-sayuran segar (Foto Dok: Freepik/KamranAydinov).

Harga kubis di Korea Selatan melonjak 70 persen pada September dibandingkan tahun sebelumnya, sebagai dampak dari gelombang panas hebat yang melanda negara tersebut pada bulan Agustus.

Harga minyak zaitun melonjak hingga 50 persen di Eropa pada Januari 2024 setelah kekeringan berkepanjangan melanda Italia dan Spanyol pada 2022 dan 2023. Sementara itu, salah satu kekeringan terparah dalam satu dekade terakhir di Meksiko juga menyebabkan kenaikan harga buah dan sayur sebesar 20 persen pada bulan yang sama.

Harga beras di Jepang melonjak hingga 48 persen pada September 2024 akibat gelombang panas yang menjadi salah satu yang terparah sejak pencatatan suhu regional dimulai pada 1946, menyamai kondisi ekstrem yang juga terjadi pada musim panas 2023.

Ghana dan Pantai Gading, yang menyumbang hampir 60 persen produksi kakao dunia, mengalami gelombang panas pada awal 2024. Menurut ilmuwan, suhu meningkat hingga 4 derajat Celsius akibat perubahan iklim, dan menyebabkan lonjakan drastis harga kakao global hingga 280 persen pada April tahun tersebut.

 

Risiko Malnutrisi

Anak balita ketika akan ditimbang, diukur tinggi badan di Puskesmas, Kaduhejo, Pandeglang (14/9). Tidak hanya penduduk Asmat di Papua, penduduk Kaduhejo, Pandeglang, sekitar 80 km dari Ibukota Jakarta, juga terindikasi masalah malnutrisi. (Foto:Istimewa)

Makanan sehat biasanya lebih mahal dibandingkan pilihan yang kurang sehat, sehingga lonjakan harga pangan kerap memaksa rumah tangga berpenghasilan rendah mengurangi konsumsi buah dan sayur. Studi terbaru memperingatkan bahwa kenaikan harga akibat cuaca ekstrem dapat memicu risiko kesehatan seperti malnutrisi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Para peneliti mencatat bahwa cuaca ekstrem yang menyebabkan lonjakan harga pangan juga dapat memperburuk inflasi secara keseluruhan. Kondisi ini berpotensi memicu keresahan politik dan pergolakan sosial di berbagai negara.

"Sampai kita mencapai emisi nol bersih, cuaca ekstrem hanya akan bertambah buruk, dan sudah merusak tanaman serta menaikkan harga pangan di seluruh dunia," ujar Kotz, yang juga bekerja di Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam di Jerman, dalam siaran pers tentang studi tersebut.

“Masyarakat mulai menyadari hal ini, dengan kenaikan harga pangan menjadi dampak perubahan iklim kedua yang mereka rasakan dalam hidup mereka, setelah panas ekstrem itu sendiri.”

 

Volatilitas Jadi Lumrah

Temuan ini semakin memperkuat literatur yang berkembang mengenai dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian global, ujar Tim Benton, profesor ekologi populasi dari Universitas Leeds, Inggris, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

"Kekurangan pasokan pasti berdampak pada pasar, menaikkan harga bagi mereka yang membeli makanan. Sayangnya, dampak pada harga pangan ini diperparah oleh dunia yang semakin tegang dan penuh persaingan, di mana perdagangan global sudah tertekan akibat konflik atau sengketa perdagangan," ujarnya.

"Ke depannya, kita semakin menghadapi dunia di mana volatilitas menjadi hal yang lumrah, yang mengakibatkan krisis 'biaya hidup' permanen. Semakin lama kita gagal mengatasi perubahan iklim dengan urgensi yang dibutuhkan, semakin besar dampaknya terhadap kita semua," tambahnya.

Studi ini dipublikasikan menjelang konferensi Stocktake KTT Sistem Pangan PBB yang akan digelar di Addis Ababa, Ethiopia, pada hari Minggu. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin dunia dijadwalkan membahas berbagai ancaman yang dihadapi sistem pangan global.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya