Liputan6.com, Labuan Bajo Bank Indonesia (BI) akan meluncurkan sistem identifikasi keuangan digital bernama Payment ID pada 17 Agustus 2025.
Sistem ini merupakan bagian dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 yang bertujuan mengintegrasikan seluruh aktivitas pembayaran individu menggunakan kode unik berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Advertisement
“Payment ID akan menjadi fondasi dari sistem pembayaran yang transparan dan bertanggung jawab,” kata Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Dudi Dermawan, dalam Editors Briefing di Labuan Bajo, ditulis Minggu (20/7/2025).
Pantau Pendapatan, Transaksi Gopay hingga Kredit
Dengan Payment ID, semua informasi keuangan masyarakat seperti rekening bank, kartu kredit, dompet elektronik (termasuk Gopay, OVO, dan lainnya), hingga pinjaman daring akan digabung dalam satu sistem.
“Payment ID ini sangat powerful,” ujar Dudi.
Sistem ini juga memungkinkan otoritas memantau profil keuangan seseorang secara menyeluruh: dari pendapatan, pengeluaran, utang, hingga investasi.
Dalam proses pengajuan kredit, bank hanya perlu meminta persetujuan melalui ponsel. Jika disetujui, bank akan mendapatkan akses ke profil keuangan lengkap melalui BI-Payment Info. “Nanti begitu saya klik OK, nanti bank akan mengalihkannya ke BI-Payment Info,” jelas Dudi.
Jaminan Privasi, Hanya Bisa Diakses dengan Izin
BI menegaskan sistem ini dibangun dengan prinsip kehati-hatian tinggi. Data pribadi hanya dapat diakses dengan izin pemiliknya melalui notifikasi.
“Kami sangat berhati-hati. Transparansi ini bisa disalahgunakan. Kami harus menjaga kepercayaan publik,” tegas Dudi.
Dalam uji coba awal yang digunakan untuk memverifikasi penerima bantuan sosial (bansos), sistem menemukan salah satu individu memiliki empat rekening dengan total mutasi hingga Rp10 juta.
“Kalau dia sebagai penerima bansos, itu adalah kewenangan dari pemerintah,” tambah Dudi.
Deteksi Fraud dan Nilai Kesehatan Keuangan
Dari sisi teknis, Payment ID berfungsi sebagai identifikasi unik, alat autentikasi transaksi, serta kunci untuk menghubungkan data profil dengan aktivitas finansial.
Sistem ini juga dapat mendeteksi potensi fraud dan menilai kesehatan keuangan individu secara lebih akurat dibanding Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
“Jika besar pasak daripada tiang, kondisi keuangan pemilik Payment ID tersebut bisa dibilang tidak sehat,” jelas Dudi.
Payment ID juga menjadi kunci penting dalam membentuk profil pelaku sistem pembayaran secara menyeluruh dan terintegrasi.