8 Bayi yang Berasal dari Gabungan DNA 3 Orang Berhasil Lahir Sehat

Teknologi DNA canggih ini dirancang untuk membantu perempuan yang berisiko tinggi menurunkan penyakit mitokondria kepada anaknya.

oleh Dyah Puspita WisnuwardaniDiperbarui 18 Juli 2025, 17:04 WIB
Ilustrasi bayi laki-laki, perempuan. (Image by pvproductions on Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Delapan bayi di Inggris baru saja lahir sehat berkat teknologi DNA modern yang memungkinkan mereka terbebas dari penyakit mitokondria—kelainan genetik langka yang bisa berakibat fatal. Metode ini memanfaatkan DNA dari tiga orang sekaligus, yakni dari ibu, ayah, dan seorang donor perempuan.

Teknik canggih ini dirancang untuk membantu perempuan yang berisiko tinggi menurunkan penyakit mitokondria kepada anaknya. Penyakit ini memengaruhi bagian penting sel, yaitu mitokondria, yang bertugas menghasilkan energi. Jika mitokondria rusak, dampaknya bisa serius, mulai dari kelemahan otot, kejang, keterlambatan perkembangan, hingga kematian organ vital.

DNA dari Tiga Orang, Bagaimana Bisa?

Secara umum, DNA manusia diwarisi dari ayah dan ibu, dan sebagian besar terkonsentrasi di inti sel. Namun, sekitar 1% DNA lainnya terletak di mitokondria—struktur kecil di luar inti sel. Pada beberapa perempuan, mitokondria membawa mutasi genetik berbahaya yang dapat diturunkan ke anak.

Untuk mencegah hal ini, para peneliti melakukan teknik yang disebut mitochondrial donation. Caranya, materi genetik inti dari sel telur ibu dipindahkan ke sel telur donor yang sehat, yang mitokondrianya bebas dari mutasi. Sel telur ini kemudian dibuahi dengan sperma ayah. Hasilnya adalah embrio dengan DNA utama dari orang tua kandung dan mitokondria sehat dari donor—itulah mengapa disebut “DNA dari tiga orang”.

Menurut laporan di New England Journal of Medicine, dari 22 prosedur yang dilakukan, delapan bayi telah lahir dalam kondisi sehat, dan satu kehamilan masih berlangsung. Prosedur ini hanya diperbolehkan secara legal di Inggris dan Australia, dan belum diizinkan di banyak negara lain, termasuk Amerika Serikat.

“Ini adalah tonggak penting,” ujar Dr. Zev Williams, kepala Pusat Fertilitas Universitas Columbia, yang tidak terlibat langsung dalam studi ini, dilansir CNBC News

“Teknologi ini memperluas pilihan reproduksi dan memberi harapan bagi banyak pasangan.”

 

 

Masih Perlu Dipantau Jangka Panjang

Para ahli menekankan bahwa meskipun hasil awal menjanjikan, bayi-bayi ini tetap perlu dipantau dalam jangka panjang. Salah satu dari delapan bayi diketahui memiliki kadar mitokondria abnormal yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan.

“Meski jumlahnya tidak cukup tinggi untuk menyebabkan penyakit, tetap perlu diawasi seiring pertumbuhan bayi,” kata Robin Lovell-Badge, ilmuwan dari Francis Crick Institute.

Lovell-Badge juga menegaskan bahwa kontribusi DNA dari donor sangat kecil dan tidak memengaruhi sifat atau kepribadian anak. “Materi genetik dari sel telur donor hanya sekitar 1%. Bahkan, dalam transplantasi sumsum tulang, kita menerima lebih banyak DNA orang lain,” ujarnya.

 

 

Bukan Untuk Semua Orang

Teknik ini tidak diperuntukkan bagi semua pasangan. Penggunaannya dibatasi hanya untuk perempuan yang benar-benar berisiko tinggi menurunkan penyakit mitokondria, dan harus disetujui oleh Otoritas Fertilisasi dan Embriologi Manusia (HFEA)—badan pengatur kesuburan di Inggris.

“Metode ini hanya digunakan untuk segelintir perempuan yang tidak bisa menghindari risiko penyakit genetik dengan cara lain,” kata Andy Greenfield, pakar kesehatan reproduksi dari Universitas Oxford.

Ia menyebut laporan kelahiran bayi-bayi ini sebagai pencapaian besar, mengingat teknik ini pertama kali disahkan 10 tahun lalu.

 

 

Harapan Baru bagi Keluarga

Salah satu suara paling kuat yang mendukung penelitian ini adalah Liz Curtis, pendiri Lily Foundation. Putrinya, Lily, meninggal pada usia 8 bulan akibat penyakit mitokondria.

“Diagnosis itu mengubah dunia kami. Tidak ada obat, tidak ada harapan,” katanya. “Kami bahkan tidak tahu pasti apa itu penyakit mitokondria atau bagaimana pengaruhnya terhadap Lily.”

Kini, ia bekerja mendampingi keluarga lain yang mengalami situasi serupa. Curtis menyebut penelitian ini sebagai harapan baru.

“Ini sangat menggembirakan bagi keluarga yang tak punya banyak pilihan dalam hidup mereka,” tuturnya.

Sejauh ini, 35 pasangan di Inggris telah mendapat izin menjalani prosedur ini. Meski belum tersedia luas, teknologi ini menjadi angin segar bagi mereka yang selama ini hidup dalam bayang-bayang penyakit genetik langka.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya