Liputan6.com, London - Seorang perempuan asal Inggris berhasil mengungkap penipuan mengejutkan yang dilakukan mantan pasangannya demi menghindari kewajiban membayar tunjangan anak senilai lebih dari Rp2 miliar.
Chelsea Miller (31) menemukan bahwa Sheldon B., ayah biologis anaknya, telah bekerja sama dengan karyawan laboratorium DNA untuk memalsukan hasil tes paternitas, dikutip dari laman Odditycentral, Sabtu (19/7/2025).
Advertisement
Kisah pilu ini berawal pada 2022, hanya tiga hari setelah Miller melahirkan anak laki-laki mereka, Louie. Tanpa diduga, Sheldon memutuskan hubungan dan mulai menyangkal bahwa dirinya adalah ayah dari Louie. Ia menuntut dilakukan tes paternitas.
Jika hasilnya menunjukkan bahwa ia bukan ayah biologis Louie, Sheldon bisa menghindari membayar tunjangan anak senilai 94.000 Pound Sterling atau sekitar Rp2 miliar.
Hasil tes DNA awal ternyata menyatakan Sheldon bukan ayah dari Louie. Miller yang sejak awal yakin siapa ayah anaknya, tidak menerima begitu saja hasil tersebut.
Ia kemudian meminta bantuan mantan ibu mertuanya, Katie, untuk menjalani tes DNA terpisah melalui laboratorium lain. Hasilnya menunjukkan bahwa Louie adalah cucu biologis Katie, membuktikan bahwa Sheldon memang ayah kandungnya.
Tekanan bukti yang kuat memaksa Sheldon mengakui bahwa ia telah memalsukan hasil tes. Ia diketahui meminta bantuan bibinya, yang punya kenalan di laboratorium DNA, agar bisa menghindar dari tanggung jawab sebagai ayah. Pria yang membantunya, Robert P., akhirnya mengaku telah menukar sampel DNA Sheldon dengan miliknya sendiri untuk memanipulasi hasil tes. Meski tidak ditemukan bukti bahwa Robert menerima bayaran, tindakan ini tetap melanggar hukum.
Dijatuhi Hukuman
Akibat perbuatannya, Sheldon dan kaki tangannya dinyatakan bersalah atas konspirasi untuk melakukan penipuan. Keduanya dijatuhi hukuman penjara—Sheldon selama 50 minggu dan Robert selama 33 minggu.
Chelsea Miller menyampaikan kekecewaannya atas kejadian tersebut, terutama terhadap pihak laboratorium yang terlibat dalam rekayasa tes.
“Tingkat ketidakprofesionalan dan pelanggaran kepercayaan dalam kasus ini sungguh tidak dapat diterima. Pasien berhak merasa aman dan dihormati saat menerima layanan, apalagi dalam situasi sensitif seperti ini,” ujarnya kepada The Sun.
Kasus ini menjadi pengingat betapa pentingnya integritas dalam dunia medis dan hukum, serta betapa mahalnya harga sebuah kebohongan.