Bubbor Paddas, Warisan Gurih Pedas dari Dapur Melayu Menyatukan Rasa Nusantara

Keistimewaan bubur ini bukan hanya pada rasa pedasnya yang khas, tetapi juga pada filosofi dan sejarah yang melatarinya

oleh Panji PrayitnoDiterbitkan 18 Juli 2025, 17:00 WIB
Menyantap bubbor paddas (kemdikbud.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Di balik kepulan uap dan aroma yang menggoda dari semangkuk bubur hangat, tersembunyi kisah panjang tentang warisan kuliner, identitas budaya, dan tradisi yang menyatukan beragam wilayah di Indonesia dan Malaysia.

Bubur Pedas atau dalam pelafalan lokal disebut Bubbor Paddas bukanlah sekadar hidangan sederhana dari bahan-bahan lokal, melainkan sajian tradisional yang mencerminkan kekayaan rasa dan semangat kebersamaan dari masyarakat Melayu.

Hidangan ini menembus batas-batas geografis dan kultural, hadir dalam berbagai variasi di tanah air dan negeri tetangga, serta menyimpan makna khusus dalam momentum kebersamaan seperti bulan Ramadhan.

Keistimewaan bubur ini bukan hanya pada rasa pedasnya yang khas, tetapi juga pada filosofi dan sejarah yang melatarinya menghidupkan kembali nilai gotong-royong, kehangatan keluarga, dan hubungan lintas etnis dalam masyarakat multikultural.

Bubbor Paddas memiliki akar kuat dalam budaya Melayu, terutama dari komunitas Melayu Sambas di Kalimantan Barat, Melayu Deli dan Melayu Langkat di Sumatera Utara, hingga masyarakat Melayu di Tambelan, Kepulauan Riau. Bahkan di Sarawak, Malaysia, bubur pedas menjadi makanan wajib yang kerap hadir di meja iftar saat bulan suci Ramadhan tiba.

Setiap wilayah menyuguhkan versinya sendiri dengan sentuhan lokal yang unik, tetapi benang merahnya tetap sama: bubur ini adalah simbol kehangatan dan kekayaan rasa. Uniknya lagi, dalam komunitas Tionghoa lokal, khususnya dari suku Hakka, bubur pedas dikenal sebagai Lat Moi, yang secara harfiah berarti bubur pedas.

Ini menunjukkan bahwa pengaruh bubur pedas telah menembus batas etnis dan menjadi bagian dari lintasan budaya yang lebih luas sebuah bukti bahwa makanan dapat menjadi jembatan pemersatu antar komunitas. Secara umum, bubur pedas diracik dari beras yang digiling kasar atau disangrai, lalu dimasak bersama sayuran lokal seperti daun kesum, daun pakis, kangkung, rebung muda, dan daun kunyit.

Bumbu rempahnya yang melimpah seperti serai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, cabai, dan lada hitam memberikan karakteristik rasa yang tajam, kompleks, dan hangat di tenggorokan. Di beberapa daerah, bubur ini juga diperkaya dengan kacang tanah goreng tumbuk, ikan teri, bahkan daging cincang atau udang kecil kering sebagai tambahan protein.

Tradisi Sosial

Proses memasaknya sering kali dilakukan secara kolektif, terutama menjelang waktu berbuka puasa, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar memasak, melainkan bagian dari tradisi sosial yang mempererat tali persaudaraan dan semangat gotong royong di kampung-kampung Melayu.

Yang menarik, eksistensi Bubbor Paddas tidak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat, bahkan di tengah gempuran kuliner modern. Di Tambelan, misalnya, hidangan ini masih menjadi makanan wajib saat pertemuan keluarga besar atau acara adat tertentu.

Di Kalimantan Barat, terutama di daerah Sambas, bubur pedas menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Melayu Sambas, kerap disajikan dalam hajatan, kenduri, hingga pembukaan acara adat.

Bahkan di kota-kota besar seperti Pontianak dan Medan, restoran-restoran khas Melayu masih mempertahankan menu ini demi menjawab kerinduan masyarakat urban akan cita rasa kampung halaman.

Dari warung kecil hingga hotel berbintang, semangkuk bubur pedas tetap mampu menghadirkan nostalgia dan kenyamanan tersendiri bagi siapa saja yang menyantapnya. Di dalamnya terdapat kekayaan yang tak hanya berasal dari bahan-bahan dapur, tapi juga dari nilai-nilai hidup yang diwariskan turun-temurun.

Ia menjadi saksi bisu dari interaksi budaya antara suku Melayu, Tionghoa, dan etnis lokal lainnya, serta bukti nyata bahwa sebuah masakan tradisional mampu menyeberangi lautan dan generasi.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, Bubbor Paddas tetap berdiri teguh sebagai simbol identitas dan kelezatan yang tak lekang oleh waktu sebuah mahakarya kuliner dari peradaban Melayu yang layak untuk terus dirayakan dan dijaga keberadaannya.

Penulis: Belvana Fasya Saad

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya