Terikat Skema B2B, Pertamina Tak Bisa Bocorkan Detail Impor Energi dari AS

Pertamina beberapa waktu lalu telah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa mitra di AS. Namun sejauh ini belum bisa diungkapkan isi dari perjanjian tersebut.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 16 Juli 2025, 16:15 WIB
VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso saat press conference yang berlangsung di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Kamis 27 Maret 2025. (Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menyampaikan, perundingan dagang antara Indonesia-Amerika Serikat (AS) untuk melakukan impor energi pada komoditas minyak mentah dan LPG bersifat business to business (B2B).

Alhasil, Pertamina belum bisa membocorkan detail terkait negosiasi impor minyak mentah dan LPG tersebut. Meskipun perseroan telah menjalin kesepakatan awal dengan beberapa mitra strategis dari Amerika Serikat.

"Kita belum bisa sebutkan, karena terkait dengan non disclosure agreement. Karena ada agreement di antara kita, bahwa memang kita kan B2B. Beda dengan G2G skemanya," ujar Fadjar di Grha Pertamina, Jakarta, Rabu (16/7/2025).

"Jadi kalau business to business memang ada beberapa skema yang kita juga tidak bisa sebutkan detail," dia menegaskan.

Fadjar mengatakan, Pertamina beberapa waktu lalu telah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa mitra di AS. Berupa optimalisasi pengadaan feedstock atau minyak mentah untuk kilang-kilang milik Pertamina di Indonesia.

"Jadi, kita sudah dengar bersama statemen dari Pemerintah Amerika Serikat bahwa sudah tercapai kesepakatan tarif antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat," ungkap dia.

 

 

57% LPG Impor dari AS

Pendangkalan alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai menjadi penyebab Kapal Tanker Pengiriman BBM gagal sandar di pelabuhan dan menghambat pasokan distribusi BBM di Bengkulu, sehingga Pertamina lakukan alih suplai dari berbagai Terminal BBM terdekat di luar Bengkulu melalui jalur darat.

Adapun saat ini, Pertamina telah memiliki kerjasama rutin dengan Amerika Serikat untuk suplai komoditas minyak dan gas bumi (migas). Semisal untuk impor LPG, di mana perseroan mendatangkan sebanyak 57 persen daripadanya dari Negeri Paman Sam.

"LPG kan per tahun 2024 kita sudah melakukan pengadaan, porsinya 57 persen dari seluruh komposisi LPG impor," jelas Fadjar.

"Jadi artinya memang sudah dominan, tapi optimalisasi untuk peningkatan juga terbuka. Tergantung nanti kita ikuti proses bersama-sama dengan pemerintah untuk negosiasi," urainya.

 

Impor LNG Belum Masuk Hitungan

Kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS). Dok PIS

Kendati begitu, komoditas gas alam cair alias LNG sejauh ini belum masuk hitungan untuk bisa diimpor dari Amerika Serikat. "Sampai saat ini yang terbatas masih minyak mentah dan LPG," ucap Fadjar.

Untuk eksekusi, impor energi dari AS rencananya akan dilakukan secara bertahap. Menunggu hasil final dari tim delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

"Bertahap ya. Kemarin kan baru MoU, setelah ini ada tahapan-tahapan juga yang harus kita lakukan. Tentu bersama mitra dan juga di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian," tutur Fadjar.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya