Hidup Erika Berakhir Di Tempat Sampah

Bocah pengungsi Maluku berumur delapan tahun diperkosa dan dibunuh di Bitung, Sulawesi Selatan. Tersangka Jemi Korslet pernah bertindak serupa 16 tahun silam. Pelaku sering bertindak kasar setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.

oleh Liputan6Diterbitkan 25 Agustus 2003, 23:16 WIB
Liputan6.com, Bitung: Nasib buruk seolah tak henti-hentinya menguntit keluarga Ervin Ragane. Setelah terusir dari kampung halaman dan mengungsi di Bitung, Sulawesi Utara, Ervin kembali dirundung malang. Putri Ervin, Erika Ragane tewas dibunuh. Saat ditemukan, Erika terkubur di tempat sampah dengan kondisi hangus terbakar dan tubuh terbelah dua [baca: Bocah Delapan Tahun Diperkosa dan Dibunuh]. Tak cuma itu, belakangan tim forensik menyatakan, korban diperkosa sebelum dihabisi nyawanya.

Peristiwa tragis ini bermula saat Erika dinyatakan menghilang, akhir bulan silam. Gadis berusia delapan tahun itu tak pernah kembali ke lokasi pengungsian Eks Mega Belia, Stadion Dua Saudara, Bitung, sejak pulang sekolah. Berhari-hari, Ervin bersama sejumlah kerabat dan teman mencari Erika dengan perasaan was-was. Upaya mereka berhasil dua pekan kemudian. Namun, Erika tak bernyawa lagi. Jenazah Erika ditemukan sekitar 15 meter dari sebuah sekolah dasar swasta tempat korban menuntut ilmu di Desa Manembo Nembo. Potongan sepatu dan seragam putih yang dikenakan Erika ditemukan di sekitar lokasi.

Ervin tak menyangka putri satu-satunya itu menemui ajal begitu cepat. Masih teringat di benak ayah tiga anak ini, lincahnya Erika di saat-saat terakhir. "Terakhir itu waktu besok mau kejadian. Dia minta duit sama om-nya untuk beli kue satu. Itu saja yang saya ingat terakhir," ujar Ervin, mengenang. Sementara buat ibu korban Etty Ragane, Erika adalah anak manis yang penurut dan sedikit cerewet. "Dibilang apa-apa [Erika] nurut. Dia juga suka ngomong. Sebab itu ibu-ibu bilang dia cerewet," ujar Etty. Kesedihan juga dirasakan teman-teman dan guru-guru di sekolah Erika. Untuk menghormati Erika, pihak sekolah mengosongkan kursi tempat korban biasa duduk.

Sementara itu, polisi yang menyelidiki kasus ini mendapat petunjuk yang cukup penting. Menurut teman sekolah korban, Yonanda, sepulang sekolah Erika dijemput Jemi menggunakan sepeda motor. "Dia naik motor ke [arah] belakang [sekolah]," tutur Yonanda. Keterangan ini diperkuat sejumlah sahabat Erika lainnya. Polisi pun menggerebek rumah Jemi yang terletak tak jauh dari lokasi korban ditemukan. Saat itu Jemi tak berada di tempat, namun polisi menemukan sejumlah barang bukti yang menguatkan keterlibatan tersangka antara lain helm motor.

Tak lama berselang, tersangka yang dikenal dengan nama Jemi Korslet ditangkap di sebuah pangkalan ojek di perempatan jalan antara Bitung dan Manado berkat informasi warga. Di hadapan polisi, Jemi mengakui semua perbuatannya. Jemi menuturkan, awalnya korban diajak mampir ke rumahnya. Erika pun mau saja diajak karena sudah mengenal tersangka. Saat itulah tragedi berawal. Setelah memerkosa, pria beristri empat itu membanting berulang kali tubuh korban yang pingsan hingga tewas. Lantas, Jemi mengambil karung di belakang rumah untuk membungkus mayat Erika. Korban dibawa ke tempat sampah dan dibakar hingga terbelah dua.

Kematian Erika tak hanya memilukan hati keluarga, tapi sesama pengungsi. Saat mendengar pembunuh Erika ditangkap, para pengungsi mendatangi Kepolisian Resor Bitung. Mereka menuntut polisi menyerahkan tersangka untuk diadili secara adat. Untunglah, kejadian yang tak diinginkan bisa dicegah setelah pintu gerbang markas polisi dijaga ketat. Karena tidak bisa masuk, para pengungsi akhirnya berorasi di halaman Mapolres [baca: Pengungsi Maluku Utara Menyerbu Polresta Bitung].

Perbuatan sadis Jemi pun tak hanya disesalkan hati keluarga korban dan para pengungsi. Tapi, juga keluarga tersangka. Bahkan, ayah tersangka Wanta Koagow berharap anaknya ditahan sejak dulu. Sebab, anaknya memang kerap membuat ulah. Enambelas tahun silam, Jemi juga pernah memperkosa seorang bocah dan membunuhnya. Tak jelas penyebabnya, polisi tidak menindak Jemi.

Bukan itu saja, dua bulan sebelum membunuh Erika, Jemi menusuk kepala ayahnya. "Dia tusuk pa [kepala] kita. Kita lapor polisi, tapi tidak ada realisasi. Kalau polisi tanggap waktu itu, mungkin nggak jadi peristiwa ini," ujar Wanta, kesal. Menurut Wanta, anak pertamanya itu sering bertindak kasar sejak mengalami kecelakaan lalu lintas saat masih remaja. "[Sepulang] dari rumah sakit, tingkah lakunya lain. Kalau ada masalah sedikit dia mengamuk," ujar Wanta.(ZAQ/Tim Derap Hukum)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya