Liputan6.com, London - Dua maskapai terbesar Inggris, British Airways (BA) dan British Caledonian (BCal), resmi menyepakati merger senilai 237 Pound Sterling. Kesepakatan besar ini akan menciptakan kekuatan baru dalam industri penerbangan, siap bersaing dengan para raksasa maskapai asal Amerika Serikat.
Ketua BA, Lord King, menyebut penggabungan ini sebagai “kesempatan langka yang tak akan terulang untuk membangun maskapai penerbangan Inggris yang mampu menaklukkan dunia.”
Advertisement
Jika rencana ini terealisasi penuh, BA dan BCal akan menguasai sekitar 70% pasar penerbangan Inggris, dengan omzet tahunan gabungan hampir mencapai 4 miliar Pound Sterling serta mempekerjakan sekitar 46.000 staf. Menariknya, kedua belah pihak memastikan bahwa tidak akan ada pemutusan hubungan kerja wajib akibat merger ini.
Kesepakatan ini sudah disetujui oleh dewan direksi British Caledonian yang dipimpin Adam Thomson. Saat ini, sekitar 40% saham BCal telah dijaminkan kepada BA. Tak lama setelah pengumuman ini, saham BA melonjak 10 pence ke angka 170 pence, dikutip dari BBC, Rabu (16/7/2025).
Dampak positif lain muncul bagi industri dirgantara domestik. British Aerospace diperkirakan akan diuntungkan karena BA berniat mengalokasikan anggaran 1 miliar Pound Sterling untuk membeli pesawat baru buatan Airbus, yang sebelumnya hanya digunakan secara eksklusif oleh BCal.
Namun, merger besar ini memunculkan sejumlah kekhawatiran. Sejumlah perusahaan penerbangan kecil dan anggota parlemen oposisi mendesak agar kesepakatan ini diajukan ke Komisi Monopoli dan Merger untuk ditinjau. Di parlemen, Kenneth Clarke selaku juru bicara perdagangan pemerintah mengatakan sudah mengetahui proposal ini sejak pekan lalu. Ia menyebut Direktur Jenderal Kantor Perdagangan Adil, Sir Gordon Borrie, akan segera mengkaji kasus ini dan melaporkannya kepada Menteri Perdagangan, Lord Young, dalam beberapa minggu ke depan.
Secara bisnis, BCal memang tengah mengalami masa sulit. Tahun lalu, maskapai ini membukukan kerugian 25 juta Pound Sterling, sebagian besar akibat kehilangan bisnis di Amerika Selatan senilai 6 juta Pound Sterling pasca Perang Falklands. Situasi kian diperburuk ketika serangan udara AS ke Tripoli tahun lalu memaksa penutupan jalur penerbangan menguntungkan ke Libya.
Sejak didirikan sebagai maskapai carter pada 1961, BCal berkembang pesat, termasuk lewat merger dengan British United Airways pada 1970. Saat ini BA dan BCal memiliki 13 destinasi bersama. Namun, melalui merger ini, BA akan memperoleh akses ke 20 rute baru serta memperkuat dominasinya di dua bandara utama Inggris, Gatwick dan Heathrow.
Langkah besar ini diharapkan dapat memperkokoh posisi Inggris dalam peta persaingan maskapai global, sekaligus membuka babak baru dalam industri penerbangan tanah Britania.