Indonesia Jajaki Kerja Sama Teknologi WTE dalam Forum Internasional di Tiongkok

Keterlibatan delegasi Indonesia dalam forum ini menjadi langkah awal penting untuk membuka peluang kerja sama dalam alih teknologi, pelatihan SDM, dan pengembangan kebijakan terkait pengelolaan sampah dan energi terbarukan.

oleh Tim NewsDiperbarui 15 Juli 2025, 12:50 WIB
Pengembangan teknologi waste-to-energy (WTE) di Indonesia kembali menjadi sorotan dalam forum internasional 11th Waste to Energy Technology Equipment Conference & 1st ISWA Beacon Conference on WTE yang digelar di Xi’an, Tiongkok, pada 1–4 Juli 2025.

Liputan6.com, Jakarta - Peluang pengembangan teknologi waste-to-energy (WTE) di Indonesia kembali menjadi sorotan dalam forum internasional 11th Waste to Energy Technology Equipment Conference & 1st ISWA Beacon Conference on WTE yang digelar di Xi’an, Tiongkok, pada 1–4 Juli 2025.

Acara ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara para pemimpin industri, akademisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara terkait pengelolaan sampah modern berbasis energi. Salah satu perusahaan yang berperan besar dalam penyelenggaraan konferensi ini adalah SUS Environment, penyedia teknologi insinerasi sampah terbesar di dunia yang juga merupakan salah satu dari tiga investor global utama dalam proyek WTE.

Dalam kesempatan ini, SUS Environment memfasilitasi kehadiran delegasi Indonesia yang terdiri dari perwakilan tiga kementerian strategis: Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Perencanaan Kewilayahan, Kementerian Keuangan, serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Delegasi Indonesia terlibat aktif dalam sesi panel diskusi, presentasi teknologi, serta kunjungan lapangan ke fasilitas pengolahan sampah milik SUS di Xi’an.

Chairman SUS Environment, Long Jisheng, dalam presentasinya menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah dan energi.

“Kami berharap konferensi ini dapat menjadi titik awal kolaborasi yang lebih dalam antara Tiongkok dan Indonesia dalam bidang pengelolaan sampah modern,” ujarnya.

Selain Long Jisheng, dua pimpinan senior lainnya dari SUS Environment turut menjadi pembicara utama. Chief Technology Officer Jiao Xuejun memaparkan perkembangan teknologi terkini di sektor WTE, sementara Rotating CEO Fang Wei menyampaikan pengalaman perusahaan dalam penerapan teknologi pintar untuk pengelolaan limbah kota.

 

Hasilkan 2 Miliar kWh Listrik

Salah satu agenda penting dalam forum ini adalah kunjungan ke fasilitas WTE SUS Gaoling yang berlokasi sekitar 30 km dari pusat kota Xi’an. Fasilitas ini melayani lima distrik dengan total populasi lebih dari 2,6 juta jiwa dan mengolah hingga 2.250 ton sampah per hari.

Sejak beroperasi pada Januari 2020, fasilitas ini telah memproses 4,14 juta ton sampah dan menghasilkan lebih dari 2 miliar kWh listrik.

Dari sisi lingkungan, fasilitas Gaoling dinilai berhasil mengurangi emisi karbon dengan menggantikan penggunaan gas alam untuk pemanas ruangan di lebih dari 30.000 rumah tangga. Konversi energi ini setara dengan pengurangan konsumsi batu bara sebanyak 43.000 ton dan berdampak positif terhadap pengurangan polusi udara.

Fasilitas ini juga menerapkan teknologi emisi ultra rendah yang sesuai dengan standar Tiongkok dan Uni Eropa, serta mengintegrasikan sistem digital twin dan kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan efisiensi dan keamanan operasional.

Keterlibatan delegasi Indonesia dalam forum ini menjadi langkah awal penting untuk membuka peluang kerja sama dalam alih teknologi, pelatihan SDM, dan pengembangan kebijakan terkait pengelolaan sampah dan energi terbarukan.

SUS Environment menyatakan kesiapan untuk mendukung Indonesia dalam mengadopsi teknologi WTE, termasuk melalui kemitraan dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta.

“Dengan pengalaman teknis yang terbukti, kami siap menjadi mitra strategis dalam mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia,” tambah Long Jisheng.

Infografis Serba-serbi Rumah Ramah Lingkungan. (Liputan6.com/Triyasni)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya