Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan tiga jemaah haji Indonesia masih hilang setelah operasional penyelenggaraan haji 2025 resmi ditutup. Segala upaya dilakukan untuk menemukan ketiganya, yakni Nurimah Mentajim dari Kloter PLM 19, Sukardi dari Kloter SUB 79, dan Hasbullah dari Kloter BDJ 07.
Yang terbaru adalah meminta DNA keluarga jemaah yang hilang. "Karena ada beberapa jenazah di sana, kami akan minta DNA keluarganya yang hilang itu. Nanti kita akan cocokkan, siapa tahu di antara yang hilang itu ada di antaranya di sana," kata Menag dalam jumpa pers seusai penutupan operasional penyelenggaraan haji 1446 H/2025 M, di Jakarta, Senin (14/7/2025).
Advertisement
Kesulitan utama menemukan ketiga jemaah haji yang hilang adalah karena kondisi ketiganya yang mengalami demensia. Sementara, seluruh identitasnya ditinggal di hotel sebelum ia menghilang, termasuk gelang ataupun nusuk yang sebenarnya ada teknologi chip untuk melacak identitas yang bersangkutan.
"Kalau yang enggak punya identitas sama sekali, gelang-gelangnya pun dilepas, paspornya enggak bawa, kalung-kalungnya pun, identitasnya sudah enggak dibawa, ditaruh di kamarnya, (susah melacaknya)," terang Menag.
Mengapa Jemaah Haji Demensia Bisa Lolos Istithaah?
Menag kembali menyatakan bahwa ketiga jemaah haji Indonesia yang hilang itu mengidap demensia. Orang dengan kondisi demensia bahkan tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Kondisi itu ternyata sudah dialami jemaah tersebut sejak di tanah air. Lalu, mengapa mereka bisa lolos istithaah kesehatan?
"Mungkin pada saat dites, diwawancara dengan dokter, dia dalam keadaan sedang baik-baik. Tapi begitu ada panas 50 derajat, di luar negeri, membuat itu kambuh kembali penyakitnya," jawab Menag.
Ia menyatakan para petugas di Arab Saudi bekerja sama dengan polisi dan pihak-pihak terkait masih terus mencari ketiganya. Menag mengatakan upaya pencarian tidak ada batas waktu. Batasnya, sambung dia, kalau ditemukan sudah wafat. "Buktinya ada seorang jemaah haji 2024 itu masih terbaring di rumah sakit di Madinah, kita pun tetap memberikan perhatian," imbuhnya.
"Insya allah kita berdoa semoga bisa ditemukan, apakah dia dalam keadaan masih hidup maupun juga dalam keadaan lain," kata Menag.
Minta Tolong Menteri Haji Arab Saudi
Sebelumnya, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus mencari tiga jemaah haji yang hilang dengan meminta bantuan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Abdul Fattah Mashat saat berkunjung ke kantor Daker Makkah, akhir pekan lalu.
"Bahkan kami menyampaikan hal ini sekaligus minta bantuan saat kunjungan Wakil Menteri Haji dan Umrah ke kantor misi haji Indonesia di Daker Makkah," kata Kepala Bidang Perlindungan Jemaah (Kabid Linjam) Harun Arrasyid di Makkah, Selasa, 1 Juli 2025.
Sejumlah tempat yang sudah ditelusuri antara lain Jabal Khandamah, Jabal Tsur, kamar mayat RS An-Noor Makkah, sejumlah tempat di sekeliling hotel tempat tinggal jemaah haji Indonesia, kawasan Arafah dan Muzdalifah, dan perbatasan Makkah dan al-Lith. Pencarian juga dilakukan dengan mengecek rekaman CCTV.
"Kita juga berkoordinasi dengan unsur kesehatan, KKHI Makkah, pihak KJRI, dan beberapa kantor polisi di wilayah Makkah," kata Harun.
"Kita juga terus berkoordinasi intensif dengan ketua kloter PLM 19, SUB 79, dan BDJ 07," imbuhnya.
Minta Tolong Syarikah hingga Datangi Kantor Imigrasi Arab Saudi
Upaya lain yang dilakukan mencari jemaah haji hilang, lanjut Harun, bersurat ke masing-masing syarikah penyedia layanan jemaah. Tujuannya, meminta mereka ikut serta proaktif dalam membantu pencarian ketiga jemaah tersebut.
"Kami bersama tim setiap hari melakukan penyisiran di berbagai tempat, termasuk wilayah Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya," paparnya. "Kami juga melakukan kunjungan ke Imigrasi Syumaisy guna mengecek keberadaan tiga jemaah tersebut," ujarnya.
Berikut identitas ketiga jemaah haji Indonesia yang hilang di tanah suci:
1. Nurimah Mentajim (80), jemaah kelompok terbang 19 Embarkasi Palembang (PLM 19). Nurimah dilaporkan pergi dari hotel 614 dan tak kembali lagi sejak 28 Mei 2025 atau dua hari setelah tiba di Makkah.
2. Sukardi (67), jemaah kelompok terbang 79 Embarkasi Surabaya (SUB 79). Sukardi dilaporkan pergi dari hotel 813 dan tak kembali lagi sejak 29 Mei 2025 atau dua hari setelah tiba di Makkah.
3. Hasbullah (73), jemaah kelompok terbang 7 Embarkasi Banjarmasin (BDJ 07). Hasbullah dilaporkan meninggalkan hotel 709 pada Selasa dini hari, 17 Juni 2025.