Kepala Banggar Said Abdullah: Kompensasi Energi untuk Kelompok Mampu Harus Dihentikan

Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah meminta anggaran RAPBN 2026 dialihkan ke subsidi yang lebih tepat sasaran demi keadilan sosial dan efisiensi anggaran negara.

oleh Nayla ShabrinaDiperbarui 14 Juli 2025, 15:59 WIB
Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. (Foto: Istimewa)
Liputan6.com, Jakarta -

Ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah, menegaskan perlunya penghapusan kompensasi energi untuk kelompok masyarakat mampu.

Menurut Said, anggaran kompensasi yang mencapai hampir Rp150 triliun seharusnya bisa dialihkan ke subsidi energi yang lebih tepat sasaran, utamanya untuk masyarakat kecil dan sektor produktif.

"Kompensasi untuk kelompok atas seharusnya sudah ditiadakan. Nilainya hampir Rp150 triliun,” tegas Said dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Banggar bersama pemerintah di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (14/7/2025).

"Harusnya ini diarahkan ke subsidi, tapi subsidi yang tepat sasaran,” imbuhnya. 

Politikus PDI Perjuangan itu menilai selama ini pemberian kompensasi justru dinikmati kelompok mampu, terutama dalam konsumsi BBM dan listrik. Ia mendorong pemerintah memperbaiki skema subsidi agar lebih berkeadilan.

Lebih lanjut, Said juga menyinggung soal posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Karena itu, menurutnya, anggaran pertahanan juga perlu ditingkatkan agar Indonesia bisa berkontribusi lebih besar dalam menjaga stabilitas kawasan.

“Kita ini negara non-blok, tidak ke Barat atau ke Timur. Tapi kita aktif menjaga perdamaian dunia. Seharusnya pertahanan negara kita lebih kuat dari negara lain,” ujar Said.

Peningkatan Produktivitas

Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah. (c) Istimewa

 

Rapat Panja Banggar tersebut membahas proyeksi anggaran dalam RAPBN 2026, termasuk arah kebijakan subsidi dan kompensasi energi, serta penguatan sektor strategis seperti pertahanan dan ketahanan energi nasional.

Sejumlah prioritas dibahas, mulai dari peningkatan produktivitas dan stabilitas harga pangan, kesejahteraan petani dan nelayan, hingga kemandirian energi nasional melalui percepatan pengembangan biodiesel. 

Selain itu, program perlindungan sosial juga diperluas, salah satunya dengan penambahan jumlah penerima manfaat program MBG menjadi 82,9 juta orang.

Tak hanya itu, pembahasan juga menyentuh isu pemerataan layanan kesehatan berkualitas, serta penguatan peran desa, UMKM, dan koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat.

Contoh Infografis Hemat Energi (Hemat Energi di Rumah). Sumber : www.kominfo.go.id/

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya