Pengusaha Cerutu di Jember Tak Gentar Hadapi Tarif Dagang Donal Trump, Ini Alasannya

Pengusaha cerutu di Jember tak mau ambil pusing soal kebijakan dagang internasional yang dikenal sebagai ‘Tarif Trump’ yang disinyalir akan berdampak pada ekonomi Indonesia, termasuk urusan ekspor cerutu.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 14 Juli 2025, 04:00 WIB
Agusta Jaka Purwana (pakai kursi roda) di pabrik cerutu miliknya (Istimewa)

Liputan6.com, Jember - Pengusaha cerutu di Jember tak mau ambil pusing soal kebijakan dagang internasional yang dikenal sebagai ‘Tarif Trump’ yang disinyalir akan berdampak pada ekonomi Indonesia, termasuk urusan ekspor cerutu

Hal itu disampaikan Agusta Jaka Purwana, salah satu pengusaha cerutu Jember. Menurutnya, kebijakan yang dikenal sebagai Tarif Trump ini diperkirakan tidak akan terlalu berdampak pada kinerja ekspor cerutu Indonesia. 

Sebab, Amerika Serikat bukanlah pangsa pasar utama bagi cerutu Indonesia. 

“Selama ini produk cerutu Indonesia lebih banyak dikirim ke Eropa dan Australia,” katanya Sabtu (12/7/2025).

China yang merupakan musuh Amerika Serikat dalam perang dagang kali ini, juga merupakan salah satu pangsa pasar produk cerutu Indonesia.

Selain karena pangsa pasar, cerutu diyakini tidak akan terpengaruh kebijakan yang disebut Tarif Trump itu karena faktor karakteristik konsumennya. 

Agusta menjelaskan, cerutu merupakan produk dengan konsumen masyarakat kelas atas dan terkait dengan gaya hidup. Sehingga berapapun harganya, tetap akan dibeli. 

“Jember sebagai penghasil tembakau Basuki Na-Oogst (BNA) selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia. Jadi, kami tetap optimis jalur ekspor cerutu tak akan kehilangan arah mata angin,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia akhirnya gagal melobi Pemerintah Amerika Serikat untuk membatalkan atau menurunkan rencana tarif resiprokal. Sehingga mulai 1 Agustus 2025 mendatang, komoditas ekspor Indonesia yang akan masuk ke Amerika Serikat akan dikenakan kenaikan tarif bea masuk sebesar 32 persen. 

Nasib Indonesia berbeda dengan Vietnam yang berhasil melobi Donald Trump sehingga berhasil terhindar dari kebijakan tarif ekspor resiprokal. 

 

Simak Video Pilihan Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya