Liputan6.com, Toraja Utara Peringatan perjuangan Pahlawan Nasional asal Tana Toraja, Pongtiku, digelar dalam sebuah syukuran besar bertajuk The Legend of Pongtiku 2025. Acara ini berlangsung pada Kamis (10/7/2025) di kompleks adat Tongkonan Tirik Lada, Tondon Pangala’, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sejak pukul 11.00 Wita, ratusan warga, tokoh adat, tokoh nasional, serta diaspora Toraja dari berbagai daerah memadati lokasi kegiatan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Panitia The Legend of Pongtiku bersama Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Pongtiku dalam sejarah perjuangan bangsa.
Advertisement
Mengusung tema "The Legend of Pongtiku 2025", acara tersebut tidak hanya menjadi seremoni budaya, tetapi juga momentum reflektif atas nilai-nilai keberanian, kepemimpinan, dan semangat perlawanan yang diwariskan Pongtiku dalam menghadapi kolonialisme Belanda di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).
Salah satu tokoh nasional yang hadir adalah Direktur Trantib Otorita IKN, Brigjen Pol. Frans Barung Mangera, yang juga merupakan putra daerah Toraja. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa peringatan seperti ini bukan hanya peristiwa budaya, tetapi juga edukasi kebangsaan.
“Pongtiku bukan sekadar pahlawan bagi Toraja, tetapi simbol keberanian dan martabat bangsa. Meneladani jejaknya adalah cara kita menjaga warisan perjuangan yang otentik dan bermartabat,” kata Frans Barung..
Menurutnya, sejarah lokal seperti perjuangan Pongtiku merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter bangsa. Ia mengajak generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya dan identitas sejarahnya.
“Perjuangan Pongtiku adalah narasi tentang integritas, harga diri, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Nilai-nilai itu relevan di segala zaman,” ujar Frans Barung.
Ketua Umum PMTI Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus memimpin langsung prosesi penghormatan adat. Sedangkan pelaksanaan teknis dikomandoi oleh Ketua Panitia Luther Palimbong didampingi Sekretaris Panitia Yohanis YP. Panitia mengajak peserta mengenakan busana adat Toraja sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai luhur peninggalan Pongtiku.
Selain prosesi adat dan orasi kebangsaan, acara juga diisi pertunjukan seni budaya Toraja, napak tilas perjuangan Pongtiku, dan ritual adat di kompleks Tongkonan Tirik Lada sebagai simbol kehormatan bangsawan di wilayah Pangala’.
Jejak Perjuangan Pongtiku
Pongtiku lahir pada 1846 di Pangala’, wilayah yang kini masuk dalam Kabupaten Toraja Utara. Ia berasal dari kalangan bangsawan dan menjabat sebagai To Pangala’, gelar pemimpin adat di daerah tersebut.
Pada masa kolonial Belanda, Pongtiku dikenal sebagai tokoh perlawanan yang keras menolak dominasi asing, baik secara politik, ekonomi, maupun budaya. Ia memimpin perlawanan rakyat Toraja melawan Belanda, terutama antara tahun 1906 hingga 1907.
Strategi gerilyanya membuat Belanda kewalahan. Pongtiku menolak sistem pajak kolonial dan mempertahankan kedaulatan lokal. Namun dalam suatu pengepungan yang diwarnai pengkhianatan, ia berhasil ditangkap dan dibuang ke Makassar. Dalam pelariannya, Pongtiku gugur pada 10 Juli 1907.
Jenazahnya dimakamkan secara adat di tebing batu kawasan Buntu Kesu’, Toraja, tempat pemakaman megah yang dikhususkan untuk kaum bangsawan. Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Pongtiku berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 71/TK/2002 tanggal 6 November 2002.
Kini, Pongtiku dikenang sebagai simbol perjuangan yang tak kenal kompromi melawan ketidakadilan, serta menjadi inspirasi bagi generasi bangsa untuk menjaga integritas, martabat, dan cinta tanah air.
Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: