Tren Vaping Anak Muda Meningkat, Media Sosial Jadi Jalur Tekanan Teman Sebaya

Studi ungkap, anak muda yang punya teman pengguna vape, 15 kali lebih mungkin ikut mencoba.

oleh Dyah Puspita WisnuwardaniDiterbitkan 09 Juli 2025, 20:00 WIB
Ilustrasi kecanduan gadget. (Photo Copyright by Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Orangtua menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam mengawasi pergaulan anak di era digital ini. Dahulu, kelompok pertemanan remaja hanya sebatas lingkungan sekolah atau sekitar rumah. Kini, pengaruh teman sebaya bisa datang dari mana saja, lewat layer ponsel dan media sosial.

Penelitian baru asal Australia mengingatkan bahwa media sosial memperbesar dampak peer pressure di kalangan anak muda, terutama terkait tren berbahaya seperti vaping.

Tren Vaping: Tekanan Teman Sebaya Makin Nyata

Sebuah studi yang dipublikasikan di Nicotine and Tobacco Research menganalisis data dari 20.800 remaja Amerika antara 2015 hingga 2021. Hasilnya? Anak muda yang punya teman pengguna vape, 15 kali lebih mungkin ikut mencoba.

“Kami menemukan bahwa meskipun proporsi teman yang merokok menurun, memiliki teman yang menggunakan vape tetap umum,” ujar Giang Vu, kandidat PhD di University of Queensland, dalam siaran pers.

Fakta ini memperlihatkan bagaimana media sosial berperan sebagai etalase tren, sekaligus saluran tekanan sosial. Pada 2015, tercatat 31,6% anak muda memiliki teman yang menggunakan vape. Angka ini memang turun menjadi 22,3% pada 2021, namun tetap menjadi sinyal bahaya.

Konten Digital: Vaping Jadi Tren ‘Keren’

Media sosial seringkali menggambarkan vape seolah gaya hidup modern yang ‘lebih sehat’ dibanding merokok konvensional. Sayangnya, narasi ini jauh dari fakta.

“Dalam banyak video, vape digambarkan sebagai tren dan pilihan gaya hidup yang lebih sehat jika dibandingkan dengan merokok, tetapi ini adalah pesan yang berbahaya,” tegas Gary Chung Kai Chan, rekan penulis studi tersebut, dilansir New York Post.

Menurut Chan, perlu regulasi lebih ketat di media sosial agar konten glamorisasi kebiasaan berbahaya tidak mudah dikonsumsi remaja. Ia menekankan pentingnya kebijakan, serta kampanye edukasi yang terarah untuk menekan angka vaping di kalangan anak.

 

Vape dan Zat Berbahaya Lainnya: Remaja Makin Tak Sadar Risiko

Yang lebih mengkhawatirkan, tren penggunaan zat berbahaya tidak berhenti di vape nikotin saja. Penelitian pendamping yang diterbitkan di American Journal of Preventive Medicine menyoroti peningkatan jumlah remaja yang mencoba THC, CBD, dan kanabinoid sintetis.

Jack Chung, kandidat PhD di National Center for Youth Substance Use Research, University of Queensland, menjelaskan, “Kami melihat peningkatan di semua produk antara tahun 2021 dan 2023, tetapi mengkhawatirkan melihat peningkatan kanabinoid sintetis, di mana vaping meningkat dua kali lipat pada orang muda berusia antara 11–15 tahun.”

Lebih ironis lagi, banyak anak bahkan tidak menyadari apa yang mereka hisap. “Sangat mengkhawatirkan melihat semakin banyak remaja yang tidak yakin tentang zat yang mereka vaping—1,8% remaja pada tahun 2021 tidak yakin apakah mereka telah menggunakan kanabinoid sintetis, meningkat menjadi 4,7% pada tahun 2023,” ujarnya.

Padahal, kanabinoid sintetis punya risiko tinggi: bisa memicu kerusakan paru-paru, gangguan jantung, hingga kematian mendadak.

 

Peran Orang Tua Masih Jadi Pelindung Terkuat

Kabar baiknya, di tengah derasnya arus peer pressure digital, peran orang tua tetap terbukti jadi faktor protektif. Data studi tersebut menunjukkan bahwa ketidaksetujuan orang tua bisa menurunkan kemungkinan vaping hingga 70%.

Maka, mengawasi aktivitas online anak bukan lagi sekadar memantau gadget, tetapi juga menjadi ruang diskusi yang sehat. Komunikasi terbuka mengenai bahaya vaping, tren zat adiktif, dan tekanan teman sebaya perlu dilakukan sejak dini.

Bagi orang tua, inilah panggilan untuk tak lagi menganggap sepele apa yang anak lihat di timeline-nya. Saat grup chat, video daring, atau influencer dengan mudah memengaruhi pilihan gaya hidup remaja, keterlibatan keluarga menjadi pagar terkuat agar mereka tidak terjebak bahaya tersembunyi di balik gemerlap media sosial.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya