Liputan6.com, Jakarta - Penjualan mobil listrik Tesla di pasar China mengalami penurunan pada kuartal kedua (Q2) 2025. Berdasarkan data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), Tesla mencatatkan penjualan domestik sebanyak 128.803 unit, turun 11,7% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Meski penjualan dalam negeri menurun, ekspor Tesla dari pabrik Shanghai justru menunjukkan tren positif. Selama Q2 2025, perusahaan asal Amerika Serikat ini berhasil mengekspor 62.917 unit kendaraan listrik, naik 5,1% dibanding tahun sebelumnya dan mengakhiri tren penurunan ekspor yang telah berlangsung selama enam kuartal berturut-turut.
Advertisement
Secara bulanan, penjualan Tesla di China tercatat meningkat tajam pada Juni 2025. Total 61.484 unit terjual, naik 59,3% dari Mei dan meningkat tipis 3,8% dibanding Juni tahun lalu. Ini merupakan capaian bulanan tertinggi kedua Tesla sepanjang tahun ini.
Tesla saat ini memproduksi dua model di China, yakni Model 3 sedan dan Model Y SUV. Pada 1 Juli lalu, Tesla menaikkan harga Model 3 Long Range AWD sebesar 10.000 yuan (sekitar Rp22 juta), seiring dengan peningkatan spesifikasi seperti jarak tempuh tambahan hingga 40 km dan akselerasi 0-100 km/jam dalam 3,8 detik. Sementara itu, Model Y AWD juga mendapat tambahan jarak tempuh 31 km tanpa perubahan harga.
Persaingan dengan Xiaomi
Namun, persaingan di pasar kendaraan listrik China semakin ketat. Xiaomi, perusahaan teknologi yang sebelumnya dikenal lewat produk smartphone, kini mulai serius menggarap segmen mobil listrik. Pada 26 Juni, Xiaomi merilis SUV listrik keduanya, YU7, yang langsung mencetak 240.000 pesanan dalam 18 jam. Model ini diprediksi menjadi pesaing kuat Model Y di sisa tahun 2025.
Sebelumnya, Xiaomi hanya menjual sedan listrik SU7 yang diluncurkan pada Maret lalu, dan telah mengirimkan lebih dari 25.000 unit pada Juni.
Dengan persaingan yang semakin sengit dan pemain baru yang agresif, Tesla diperkirakan akan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan posisinya di pasar mobil listrik terbesar di dunia ini.