Liputan6.com, Jakarta - Sentimen pasar global pekan ini dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan, dan rencana Presiden Donald Trump untuk memberlakukan tarif tinggi pada sejumlah negara mitra dagang.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kombinasi dua isu tersebut membuat investor semakin waspada terhadap arah kebijakan moneter dan risiko ketegangan dagang.
Advertisement
Ia menilai bahwa kejutan dari data Non-Farm Payrolls dan ancaman tarif akan memberikan tekanan ganda terhadap pasar. Pelaku pasar kini berada dalam posisi menimbang ulang ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, sekaligus mencermati perkembangan perang dagang.
"Para investor kini memperkirakan laju pelonggaran moneter oleh Federal Reserve akan menjadi kurang agresif," kata Rully dikutip dari laman Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Senin (7/7/2025).
Menurut Rully, situasi ini bisa menciptakan volatilitas tinggi dalam perdagangan saham, obligasi, dan nilai tukar, terutama bagi negara-negara yang masuk dalam daftar target tarif AS.
Hal ini berpotensi mendorong investor melakukan rebalancing portofolio dan beralih sementara ke aset aman seperti emas atau obligasi negara maju, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Data Ketenagakerjaan AS
Menurutnya, data ketenagakerjaan AS untuk bulan Juni mencatatkan hasil yang lebih baik dari konsensus pasar. Non-Farm Payrolls meningkat sebanyak 147.000, melampaui ekspektasi analis yang hanya 110.000. Selain itu, tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%, mencerminkan kekuatan sektor tenaga kerja di tengah tekanan inflasi.
"Data pasar tenaga kerja AS untuk bulan Juni menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, dengan Non-Farm Payrolls meningkat sebanyak 147.000—di atas konsensus 110.000—dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%. Kejutan positif dalam penciptaan lapangan kerja dan penurunan pengangguran ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Treasury," jelasnya.
Akibatnya, probabilitas pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan Juli turun menjadi hanya 5%, sementara kemungkinan pemangkasan suku bunga pada bulan September juga menurun tajam menjadi 67,4%, dari 94,6% di akhir Juni.
Ancaman Tarif Trump Kembali Bayangi Perdagangan Global
Di saat pasar masih mencerna data tenaga kerja, Presiden Trump meningkatkan ketegangan perdagangan dengan mengumumkan rencana untuk mengirim pemberitahuan tarif resmi kepada mitra dagang utama AS, mengancam akan memberlakukan tarif hingga 70% pada sejumlah impor mulai 1 Agustus 2025.
Negara-negara mitra dagang memiliki waktu hingga 9 Juli untuk merundingkan kesepakatan dengan AS guna menghindari tarif tinggi ini, namun sejauh ini baru tercapai beberapa kesepakatan parsial dengan Inggris, Vietnam, dan gencatan senjata dengan Tiongkok.
Negara-negara yang menjadi target termasuk Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Indonesia, dan Swiss, meskipun Gedung Putih belum merinci produk atau sektor mana yang akan paling terdampak.
"Perkembangan ini menambah ketidakpastian dalam prospek ekonomi global, karena pasar mempertimbangkan dampak dari potensi sikap The Fed yang kurang akomodatif serta risiko meningkatnya hambatan perdagangan. Hal ini akan berpengaruh kepada sentimen pasar selama sepekan," pungkasnya.