Pembocor Rahasia AS `Menghilang` di Hong Kong

Edward Snowden diketahui check out dari tempatnya menginap, Hotel Mira Senin sore, lalu raib.

oleh Elin Yunita KristantiDiterbitkan 11 Juni 2013, 15:33 WIB
Apa yang diungkapkan Edward Snowden menggegerkan Amerika Serikat. Mantan pekerja CIA itu menguak penyadapan yang dilakukan Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang bekerja sama dengan sejumlah raksasa internet yang berbasis di AS. Dengan memanfaatkan 9 server raksasa.

Snowden kini tak berada di AS, ia lari ke Hong Kong. Namun, kabar terakhir menyebut ia "menghilang". Seperti dimuat BBC, Selasa (11/6/2013), pria 29 tahun itu diketahui check out dari tempatnya menginap, Hotel Mira sore hari, lalu raib, keberadaannya tak diketahui. Meski demikian, diduga kuat ia berada di salah satu kota terpenting di China tersebut.

Dari pengakuan yang ia lontarkan pekan lalu, seluruh AS dan dunia tahu bahwa NSA menyadap dan mengumpulkan jutaan informasi rekaman pembicaraan telepon dan memonitor data internet.

Alasan kuat di balik perbuatannya yang berani itu, Snowden mengaku, "Adalah kewajibannya membebaskan orang lain dari ketertindasan."

"Aku tak mau hidup dan tinggal di dunia, di mana apapun yang aku lakukan dan kuucapkan direkam," kata dia, yakin.

Namun, tindakannya itu tentu saja tak direstui oleh Pemerintah AS. Juru bicara  Direktur Intelijen Nasional mengatakan tindakan Snowden dirujuk ke Departemen Kehakiman sebagai kasus kriminal.

Sementara, petisi diunggah ke situs Gedung Putih, meminta agar tindakan Snowden diampuni. Ada lebih 30 ribu orang yang membubuhkan tanda tangan.

Snowden tiba di Hong Kong 20 Mei 2013 lalu. Dan meski China dan AS punya perjanjian ekstradisi, tak mudah mengembalikannya ke AS. Bisa jadi berbulan-bulan, bahkan mungkin dihalangi oleh China.

Identitas Snowden terkait skandal penyadapan dikuak media Inggris, Guardian, atas permintaannya.

Program PRISM

Snowden menguak program bernama PRISM, yang merupakan upaya penyadapan dengan memanfaatkan 9 server di perusahaan internet terbesar dunia saat ini.

Perusahaan yang terlibat itu antara lain Microsoft, Google, Yahoo, Facebook, PalTalk, YouTube, Skype, AOL dan Apple. Dropbox juga disebut masuk dalam rencana perusahaan yang akan segera tergabung dalam program itu.

Dengan demikian bisa dibayangkan bahwa penyadapan itu akan meliputi beragam informasi. Baik itu audio, video, foto, email, dokumen, dan daftar komunikasi, akan disadap oleh NSA.

Apa yang diungkapkan Snowden bisa jadi benar. Paling tidak, bisa dipercaya. Sebab, ia adalah mantan asisten teknis untuk Badan Intelijen AS (CIA) dan kini bekerja sebagai kontraktor pertahanan di Booz Allen Hamilton.

Dilansir dari laman The Guardian, Senin (10/6/2013), Snowden juga telah bekerja di NSA selama 4 tahun terakhir. Snowden pun ditempatkan di sejumlah kontraktor luar negeri, termasuk Booz Allen dan Dell. "Saya tak berniat menyembunyikan identitas saya karena saya tahu saya tak melakukan kesalahan apapun," ucap Snowden.

Dan ia sudah tahu konsekuensi tindakannya. Semua pencapaian yang telah didapat pun akan ikut dikorbankan. Itu termasuk gaji US$ 200.000 atau sekitar Rp 1,96 miliar per tahun, rumah di Hawaii yang ditempatinya bersama sang pacar, karir yang gemilang, tentunya juga keluarga.

"Saya bersedia mengorbankan semuanya karena saya dalam kesadaran penuh tak ingin pemerintah AS menghancurkan privasi, kebebasan internet, dan kebebasan secara mendasar dari tiap manusia di seluruh dunia yang saat ini diawasi melalui mesin penyadap yang dibangun secara rahasia," tuturnya. (Ein/Mut)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya