Liputan6.com, Jakarta Syarat sah sholat, memahami dan melaksanakan tata cara wudhu yang benar menjadi kewajiban setiap muslim. Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa wudhu memiliki hikmah sebagai bentuk kesiapan spiritual dan kesegaran jasmani untuk melakukan hubungan langsung dengan Allah.
Perintah wudhu diterangkan dalam Al Quran Surat al Maidah ayat 6:
Advertisement
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah.
Namun, masih banyak yang belum memahami cara ambil air wudhu yang benar sesuai dengan tuntunan syariat. Berikut Liputan6.com ulas lengkap tentang cara wudhu dan penjelasannya dirangkum dari berbagai sumber, Minggu (6/7/2025).
Pengertian Wudhu
Wudhu adalah salah satu bentuk penyucian diri dalam ajaran Islam yang dilakukan dengan cara membasuh anggota tubuh tertentu dengan air, sebagai syarat sahnya beberapa ibadah seperti salat. Kata wudhu berasal dari bahasa Arab al-wuḍūʼ (الوضوء) yang berarti kebersihan atau kesucian.
Menurut Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, wudhu didefinisikan sebagai "penggunaan air pada anggota tubuh tertentu yang dimulai dengan niat, sesuai dengan ketentuan syariat" (Nawawi, Al-Majmu’, Juz 1, Dar al-Fikr). Wudhu tidak hanya memiliki makna fisik, tetapi juga spiritual, sebagai simbol kesiapan diri untuk menghadap Allah dalam ibadah.
Dalam literatur fikih, wudhu disebut sebagai bagian dari ṭahārah (bersuci), dan termasuk dalam ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang ketentuannya bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa rekayasa logika manusia.
Dalam jurnal "Konsep Thaharah dalam Islam dan Implementasinya dalam Kehidupan Muslim" oleh M. Syukri (Jurnal Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, 2017), dijelaskan bahwa wudhu bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi juga mengandung nilai kesehatan dan kebersihan pribadi. Ia menyatakan bahwa wudhu berperan dalam membentuk kesadaran spiritual dan sosial, serta memiliki dampak psikologis dalam menumbuhkan ketenangan sebelum ibadah.
Cara Wudhu yang Sah dan Benar Sesuai Tuntunan Nabi
Wudhu adalah syarat sahnya salat. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus sesuai dengan tuntunan syariat sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.
1. Niat
Langkah pertama dalam wudhu adalah niat. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa niat adalah membedakan antara ibadah dan aktivitas biasa. Niat cukup di dalam hati, tanpa perlu dilafalkan secara lisan.
"Niat adalah syarat sahnya wudhu, menurut jumhur ulama." (Al-Majmu’, Imam Nawawi)
2. Membaca Basmalah
Setelah niat, disunnahkan membaca "Bismillah". Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah, Rasulullah bersabda:
“Tidak sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah padanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Meskipun sebagian ulama menganggapnya sunah, mayoritas menyatakan hal ini penting untuk kesempurnaan wudhu.
3. Membasuh Kedua Telapak Tangan
Langkah berikutnya adalah membasuh kedua tangan sampai pergelangan sebanyak tiga kali. Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar menyebutkan bahwa ini adalah sunah muakkadah yang selalu dilakukan Nabi.
4. Berkumur dan Memasukkan Air ke Hidung
Berkumur (madmadah) dan memasukkan air ke hidung (istinsyaq) juga merupakan sunah yang sangat dianjurkan. Dalam Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan kedua praktik ini dalam wudhunya.
5. Membasuh Wajah
Membasuh wajah adalah rukun wudhu yang tidak boleh ditinggalkan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 6:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah wajahmu..."
Pembasuhan wajah dimulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala hingga dagu, dan dari telinga kanan ke telinga kiri.
6. Membasuh Kedua Tangan hingga Siku
Langkah selanjutnya adalah membasuh kedua tangan sampai siku. Dalam Kitab al-Umm karya Imam Syafi’i, dijelaskan bahwa membasuh tangan termasuk rukun yang harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari ujung jari sampai siku.
7. Mengusap Sebagian Kepala
Mengusap kepala dilakukan sekali. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah hanya mengusap sebagian kepala, bukan seluruhnya. Pendapat ini juga dipegang oleh Imam Malik dan Imam Ahmad.
8. Membasuh Kedua Kaki sampai Mata Kaki
Membasuh kaki termasuk rukun wudhu. Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 6, Allah juga memerintahkan untuk membasuh kaki sampai mata kaki. Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering menekankan pentingnya membasuh sela-sela jari kaki.
9. Tertib
Tertib atau berurutan sesuai dengan urutan dalam ayat Al-Qur’an dan hadis adalah syarat sah wudhu menurut jumhur ulama. Ini juga ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’.
Dasar Hukum Wudhu
Dasar hukum wudhu bersumber dari Al-Qur’an, Hadis Nabi SAW, serta ijma' ulama.
- Al-Qur’an
Landasan utama wudhu terdapat dalam Surat Al-Maidah ayat 6, yang berbunyi:
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai ke kedua mata kaki..." (QS. Al-Maidah: 6)
Ayat ini dijadikan dasar utama dalam penetapan wudhu sebagai syarat sah salat. Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan perintah yang bersifat wajib dalam pelaksanaan wudhu (Asy-Syafi’i, Al-Umm, Dar al-Ma’rifah).
- Hadis Nabi SAW
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak akan diterima salat salah seorang di antara kalian bila ia berhadats sampai ia berwudhu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dalil yang kuat atas kewajiban wudhu sebelum melakukan ibadah tertentu, khususnya salat. Dalam Sahih Muslim, Imam Muslim mengumpulkan banyak hadis tentang praktik wudhu yang dilakukan Nabi secara terperinci, mulai dari niat hingga urutan anggota tubuh yang dibasuh.
- Ijma' Ulama
Para ulama sepakat bahwa wudhu adalah syarat sah salat, sebagaimana dikaji dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rusyd. Ia menuliskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang wajibnya wudhu sebelum salat bagi yang berhadats (Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Dar al-Ma’rifah).
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi dalam Wudhu
Wudhu merupakan syarat sah dalam melaksanakan ibadah shalat. Namun, masih banyak umat Muslim yang melakukan wudhu dengan keliru tanpa disadari. Kesalahan ini bisa berasal dari kurangnya pemahaman terhadap syariat atau kelalaian dalam praktik sehari-hari.
1. Melewatkan Sela Jari
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa kelalaian dalam meratakan air ke seluruh anggota wudhu merupakan kesalahan yang sering terjadi. Imam Nawawi menyebutkan bahwa bagian yang paling sering terlewat adalah sela-sela jari tangan dan kaki, serta lipatan-lipatan tubuh seperti siku dan tumit. Beliau menekankan pentingnya ta'ammul (kesungguhan) dalam memastikan air membasahi seluruh bagian yang wajib.
2. Mengusap Kepala Tidak Sempurna
Kesalahan lainnya adalah mengusap kepala secara tidak sempurna. Dalam buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa sebagian orang hanya menyentuhkan tangan ke rambut tanpa mengusap seluruh kepala sebagaimana diperintahkan. Padahal, dalam hadits sahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengusap seluruh kepala dari depan ke belakang dan kembali lagi ke depan.
3. Berlebihan Menggunakan Air
Menurut Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, terdapat kesalahan berupa berlebihan dalam penggunaan air saat wudhu. Meskipun wudhu merupakan bentuk penyucian diri, Islam melarang sikap berlebihan, bahkan dalam menggunakan air untuk bersuci. Rasulullah SAW sendiri berwudhu dengan air yang sangat sedikit, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim.
4. Lupa Niat
Dalam jurnal ilmiah “Kesalahan dalam Praktik Wudhu dan Implikasinya terhadap Kesahihan Shalat” yang ditulis oleh Siti Nurhayati (Jurnal Ilmiah IAIN Pontianak, 2020), disebutkan bahwa niat yang tidak dilafalkan dalam hati sebelum membasuh wajah merupakan bentuk kelalaian yang berdampak pada keabsahan wudhu. Banyak masyarakat melafalkan niat secara lisan tanpa memusatkan niat di dalam hati, padahal niat adalah amalan batin yang tempatnya di dalam hati.
5. Kesalahan mengusap telinga
Jurnal tersebut juga mencatat kesalahan mengusap telinga secara terpisah dari kepala, padahal menurut mayoritas ulama, termasuk yang dijelaskan dalam al-Mughni karya Ibnu Qudamah, telinga termasuk bagian dari kepala dan disunnahkan untuk diusap bersamaan.
Buku “Ensiklopedi Fikih Praktis” karya Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahtani juga mencantumkan beberapa kesalahan praktis lainnya, seperti:
- Tidak tertib dalam urutan wudhu.
- Tidak membasuh wajah dengan sempurna, terutama bagian bawah dagu dan sisi pelipis.
- Membasuh tangan hanya sampai pergelangan, bukan hingga siku.
Kesalahan-kesalahan ini, jika tidak diperbaiki, bisa menyebabkan wudhu menjadi tidak sah dan berdampak pada tidak sahnya ibadah shalat.
Manfaat Kesehatan dari Wudhu
Wudhu, sebagai bagian penting dari praktik ibadah umat Islam, tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menyimpan manfaat kesehatan yang terbukti secara ilmiah maupun dalam literatur klasik Islam. Pembasuhan anggota tubuh tertentu secara teratur ternyata membawa dampak positif bagi tubuh manusia.
Menjaga Kebersihan
Dalam kitab "Ath-Thibb an-Nabawi" karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dijelaskan bahwa wudhu merupakan salah satu cara menjaga kebersihan tubuh yang direkomendasikan oleh Nabi Muhammad SAW. Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa wudhu membersihkan anggota tubuh dari debu dan kotoran yang menempel serta menjaga sirkulasi darah tetap lancar, khususnya ketika dilakukan lima kali sehari.
Merangsang Saraf Parasimpatik
Penelitian modern juga mendukung manfaat kesehatan dari wudhu. Sebuah studi berjudul "Effect of Islamic Prayer (Salat) on the Human Body" oleh Prof. Dr. Hossam El-Din Khalil yang diterbitkan dalam Journal of Religion and Health (Vol. 58, 2019), menyatakan bahwa praktik wudhu membantu merangsang sistem saraf parasimpatik, yang berperan dalam relaksasi tubuh. Air yang menyentuh wajah, tangan, dan kaki menstimulasi ujung-ujung saraf sehingga menghasilkan efek menenangkan.
Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Manfaat lainnya ditemukan dalam buku "Healing with the Medicine of the Prophet" karya Imam Ibnul Qayyim. Dalam buku ini, disebutkan bahwa wudhu secara tidak langsung meningkatkan daya tahan tubuh. Proses pembasuhan area seperti hidung dan mulut mencegah penumpukan kuman dan virus, sehingga membantu mencegah infeksi saluran pernapasan.
Membersihkan pori-pori
Lebih jauh, dalam jurnal "International Journal of Health Sciences" (IJHS, 2017) oleh Dr. Raed A. Al-Kattan, ditemukan bahwa praktik wudhu dapat mengurangi risiko penyakit kulit. Air yang membasahi kulit secara teratur menjaga kelembapan alami serta membersihkan pori-pori dari partikel berbahaya yang dapat menyebabkan iritasi atau infeksi.
Meningkatkan fleksibilitas otot
Sementara itu, sebuah riset dalam Journal of Physical Therapy Science (Vol. 29, 2017) oleh peneliti Jepang, Hiroshi Matsushita, menyimpulkan bahwa aktivitas berulang seperti wudhu mampu meningkatkan fleksibilitas otot tangan dan kaki serta memperbaiki sirkulasi darah lokal. Gerakan membasuh dengan tekanan ringan pada otot secara teratur memberikan efek serupa dengan terapi relaksasi ringan.
Menenangkan Jiwa
Dalam perspektif kesehatan mental, buku "Islamic Medicine: The Key to a Better Life" oleh Yusuf Al-Hajj Ahmad menekankan bahwa wudhu memiliki efek menenangkan jiwa. Proses ritual ini menciptakan momen hening dan reflektif yang mampu menurunkan kadar stres dan kecemasan.
QnA Seputar Wudhu
1. Apakah wudhu bisa menjadi penggugur dosa kecil?
Ya, wudhu tidak hanya untuk bersuci sebelum salat, tetapi juga menghapus dosa-dosa kecil. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang Muslim berwudhu, maka dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir.” (HR. Muslim)
Jadi, wudhu adalah amalan ringan namun besar manfaatnya.
2. Apakah boleh berbicara saat berwudhu?
Boleh, tetapi makruh (lebih baik dihindari) karena wudhu adalah ibadah yang dianjurkan dilakukan dengan khusyuk dan tenang. Jika berbicara untuk keperluan mendesak, hukumnya tetap diperbolehkan dan tidak membatalkan wudhu.
3. Apakah boleh wudhu sambil memakai masker wajah atau skincare?
Jika masker atau skincare menghalangi air menyentuh kulit, maka wudhu tidak sah, dan wajib membersihkan wajah dari penghalang tersebut. Jika hanya skincare tipis (seperti moisturizer) yang meresap ke kulit dan tidak menghalangi air, maka wudhu tetap sah.
4. Apakah wudhu perlu jika sudah mandi besar?
Jika mandi besar dilakukan dengan niat mengangkat hadas besar dan dilakukan dengan tata cara meratakan air ke seluruh tubuh, maka wudhu tidak perlu lagi setelahnya. Namun, jika ingin salat setelah mandi, disunnahkan untuk tetap berwudhu agar mendapatkan keutamaan sunnah.
5. Mengapa wudhu dapat membantu menenangkan hati?
Selain membersihkan tubuh, wudhu juga membersihkan hati dan menenangkan pikiran. Air wudhu yang mengenai wajah dan tangan membantu tubuh menjadi lebih segar. Selain itu, wudhu mengajarkan mindfulness sebelum beribadah, sehingga hati menjadi lebih tenang saat menghadap Allah.