1.000 Kucing Liar di Kota Bandung Jadi Sasaran Sterilisasi Tahun Ini

Program tersebut telah berjalan dan akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh kelurahan.

oleh Dikdik RipaldiDiterbitkan 08 Juli 2025, 03:00 WIB
Dokter hewan melakukan sterilisasi kucing peliharaan di Radhiyan Pet and Care, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (20/6/2022). Dinas KPKP DKI Jakarta dan klinik hewan dan komunitas pecinta kucing menggelar pemeriksaan hewan peliharaan seperti vaksin rabies dan sterilisasi secara gratis menyambut HUT ke-495 Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Bandung - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung menargetkan sterilisasi 1.000 kucing liar hingga akhir tahun. Diklaim sebagai upaya pengendalian populasi agar tak mengganggu kenyamanan lingkungan.

Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengeklaim, program tersebut telah berjalan dan akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh kelurahan. 

“Sekarang kita ada program sampai seribu ekor, target sampai akhir tahun. Jadi ini pengendalian jumlah kucing liar khususnya, yang memang di Bandung cukup besar,” ujar Gin Gin lewat siaran pers.

Dalam pelaksanaannya, DKPP akan menyisir wilayah kota untuk menangkap kucing liar. Setelah ditangkap, kucing-kucing tersebut akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan prosedur sterilisasi.

Jika dinyatakan sehat pasca-sterilisasi, mereka akan dilepas kembali ke habitat asalnya. Gin Gin menambahkan, tindakan ini merupakan bagian dari strategi pengendalian populasi tanpa harus menghilangkan kucing liar dari lingkungan.

Keberadaan kucing liar yang tidak terkontrol selama ini menjadi sorotan warga, terutama karena meningkatnya keluhan soal kebersihan lingkungan. Kebiasaan masyarakat yang gemar memberi makan kucing liar di tempat umum turut dituding menjadi pemicu lonjakan populasi.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengimbau warga agar bijak dalam memperlakukan kucing liar. Ia menyampaikan bahwa kebiasaan memberi makan kucing liar di ruang publik, meski bermaksud baik, justru dapat memunculkan dampak negatif.

“Belum ada penelitian mengenai dampak positif maupun negatif memberi makan kucing liar, tetapi secara kebiasaan, dampak paling terlihat adalah lingkungan jadi kotor,” ujar Farhan.

Menurutnya, makanan yang tidak habis dimakan kucing biasanya tidak dibersihkan, sehingga mengotori lingkungan, terutama di pinggir jalan. Ia menekankan bahwa meskipun makanan tertentu dapat larut saat hujan, sisa-sisa tersebut tetap berkontribusi pada pencemaran lingkungan.

Lebih jauh, Farhan mengingatkan bahwa memberi makan kucing liar tanpa pengelolaan yang baik juga membuat populasi mereka tetap tinggi. Oleh karena itu, ia menyarankan agar warga yang peduli terhadap kucing lebih baik memeliharanya di rumah.

“Bapak Ibu, nyaah kucing sok dipiara di rumah, nanti diperiksakan ke kita agar kucingnya menjadi kucing-kucing yang sehat dan baik lah,” tuturnya. Dengan program ini, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat menciptakan keseimbangan antara kepedulian terhadap hewan dan kelestarian lingkungan kota. 

 

Simak Video Pilihan Ini:

Bebas Rabies

DKPP Kota Bandung mengklaim, sepanjang Januari hingga Juni 2025, Kota Bandung dinyatakan nol kasus rabies berdasarkan data nasional. Namun demikian situasi itu belum bisa dikatakan kota Bandung bebas Rabies.

“Dari data nasional, Kota Bandung dinyatakan tidak ditemukan kasus rabies. Istilahnya nol kasus. Tapi memang belum bisa dikatakan bebas rabies karena penyakit ini sifatnya bisa menyebar antarwilayah, bahkan melalui udara,” ujar Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, Sabtu (21/6/2025).

Meskipun tidak ada kasus yang tercatat, Gin Gin menegaskan bahwa pengawasan terhadap lalu lintas hewan tetap menjadi perhatian utama. Hal ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit zoonosis, termasuk rabies dan penyakit menular lainnya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Lalu lintas hewan ini menjadi faktor penting. Kita perlu memastikan hewan-hewan yang masuk ke Kota Bandung dalam kondisi sehat, dan itu memerlukan keterlibatan dokter hewan dan petugas otorisasi veteriner. Mereka berperan dalam deteksi dini dan penolakan terhadap hewan yang berisiko menularkan penyakit,” katanya.

Gin Gin juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar upaya pencegahan rabies dan penyakit hewan menular lainnya bisa lebih optimal

"Kolaborasi lintas sektor agar upaya pencegahan rabies dan penyakit hewan menular lainnya," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya