Menatap Masa Depan Pertahanan: Indonesia Bahas Modernisasi Jet Tempur

Lebih dari sekadar modernisasi alutsista, rencana penggunaan mesin F110 juga membawa peluang strategis bagi penguatan industri pertahanan nasional.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Juli 2025, 20:29 WIB
Indonesia akan membeli jet tempur F-15EX besutan Boeing Company. (kemhan.go.id)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Indonesia tengah memprioritaskan modernisasi sistem pertahanan nasional, seiring dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Salah satu langkah strategis yang kini tengah dibahas adalah peningkatan armada jet tempur, dengan mengkaji kemungkinan akuisisi pesawat F-15EX produksi Boeing.

Jika rencana tersebut disetujui, Indonesia akan menerima mesin F110 dari GE Aerospace—mesin tunggal yang memenuhi syarat operasional untuk F-15EX tanpa memerlukan rekayasa tambahan maupun penyesuaian waktu. Ini akan menjadi kali pertama mesin tersebut dikirim ke Indonesia, memperkuat langkah negara kepulauan terbesar di dunia dalam menjamin keamanan jangka panjangnya.

“Dengan pemerintahan baru yang lahir dari pemilu tahun lalu, Indonesia memosisikan diri sebagai aktor penting di kawasan dan dunia. Modernisasi militer menjadi bagian dari upaya strategis untuk memastikan stabilitas dan kesejahteraan berkelanjutan,” ujar General Manager Defense & Systems Asia Pasifik, GE Aerospace Youngje Kim, Jumat (5/7/2025).

Mesin F110, Siap Hadapi Tantangan Masa Depan

Diproduksi sejak 1984, mesin F110 dikenal sebagai salah satu mesin jet militer paling andal dan tahan lama. Tercatat lebih dari 11 juta jam terbang di berbagai pesawat tempur seperti F-15 dan F-16 milik militer AS dan 16 negara sekutu lainnya. Bahkan, F110 kini digunakan oleh pesawat tempur generasi kelima Türkiye, TAI Kaan.

 

Time on Wing Terbaik

General Manager, Asia Pasifik, Defense dan Systems GE Aerospace Youngje Kim. (Dok GE Aerospace)

Seiring dengan kebutuhan zaman, 92% komponen mesin ini telah mengalami peningkatan desain. Inovasi mencakup material baru, pelapisan, hingga proses manufaktur dan inspeksi yang lebih canggih.

Tak hanya itu, mesin F110 mencatatkan time on wing (jam terbang sebelum servis tak terjadwal) terbaik di kelasnya—menandakan tingkat keandalan yang tinggi, bahkan dalam kondisi ekstrem seperti lingkungan maritim dan panas tropis.

Dari sisi perawatan, arsitektur Shop Replaceable Unit (SRU) memungkinkan 90% pemeliharaan dilakukan di fasilitas tingkat menengah yang bisa dibangun di Indonesia. Hal ini akan memperkuat kemandirian operasional TNI AU serta menekan biaya pemeliharaan dalam jangka panjang.

“Mesin ini dirancang untuk tahan 40 hingga 50 tahun ke depan. Dengan teknologi dan efisiensi yang ditawarkan, F110 sangat cocok mendukung visi jangka panjang pertahanan udara Indonesia,” tambah Youngje.

Kemitraan Teknologi untuk Kemandirian Pertahanan Nasional

Lebih dari sekadar modernisasi alutsista, rencana penggunaan mesin F110 juga membawa peluang strategis bagi penguatan industri pertahanan nasional. GE Aerospace, yang telah menjalin kerja sama lebih dari 30 tahun di Indonesia, berkomitmen untuk terus mendukung kemajuan teknologi dan kapasitas lokal.

Selama ini, GE telah memasok mesin untuk berbagai keperluan—mulai dari patroli maritim, pengawasan, hingga transportasi udara. Perusahaan asal Amerika Serikat itu juga terlibat dalam transfer teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang pertahanan.

“Dengan membuka akses terhadap teknologi kelas dunia dan memperkuat kemitraan lokal, Indonesia tidak hanya meningkatkan kapabilitas militer, tetapi juga membangun fondasi industri pertahanan yang kuat dan berkelanjutan,” jelas Youngje.

Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat kedaulatan nasional, menciptakan keamanan jangka panjang, dan memastikan perdamaian serta kesejahteraan bagi generasi mendatang. GE Aerospace menyatakan siap berkolaborasi lebih jauh dengan pemerintah dan pelaku industri dalam negeri demi masa depan pertahanan Indonesia yang tangguh.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya