Diogo Jota, Seorang Pemain Tim!

"Saya pikir saya adalah pemain tim." Kalimat itu dilontarkan Diogo Jota dalam wawancara pertamanya sebagai pemain Liverpool sebagaimana dikutip dari talkSPORT

oleh Asad ArifinDiperbarui 04 Juli 2025, 13:56 WIB
Pemain depan Liverpool asal Portugal, Diogo Jota melakukan selebrasi setelah mencetak gol saat pertandingan putaran ketiga Piala Liga Inggris melawan West Ham United di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris pada 25 September 2024. (Paul ELLIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta "Saya pikir saya adalah pemain tim." Kalimat itu dilontarkan Diogo Jota dalam wawancara pertamanya sebagai pemain Liverpool sebagaimana dikutip dari talkSPORT. Sederhana, merendah, dan mencerminkan sosoknya yang bersahaja.

Namun seiring berjalannya waktu, kalimat tersebut justru menjadi representasi paling tepat untuk menggambarkan kariernya di Anfield: seorang penyerang dengan jiwa kolektif, yang mencetak gol tak sekadar untuk kejayaan pribadi, tapi untuk kebanggaan bersama.

Kini, ketika kabar duka datang begitu mendadak, kepergian Jota dan saudaranya dalam kecelakaan lalu lintas, kata-kata itu bergema lebih dalam.

Diogo Jota bukan sekadar 'pemain tim', tapi bagian tak terpisahkan dari identitas Liverpool selama lima tahun terakhir. Sosok yang bekerja dalam diam, namun menyumbang kilau dalam setiap peluang yang ia cipta dan konversi menjadi gol.


Insting Gol di Balik Kerendahan Hati

Pemain Liverpool, Diogo Jota melakukan selebrasi setelah mencetak gol kedua timnya ke gawang Union Saint-Gilloise pada laga Grup E Liga Europa 2023/2024 yang berlangsung di Anfield, Inggris, Jumat (6/10/2023) dini hari WIB. Liverpool menang dengan skor 2-0. (AFP/Oli Scarff)

Tidak mudah menilai karakter Jota hanya dari permukaan. Ia bukan tipe pemain flamboyan yang penuh selebrasi mewah atau kutipan kontroversial. Namun, di balik wajah kalem dan senyum simpelnya, tersembunyi penyerang yang mematikan, tajam seperti pisau bedah di saat paling genting.

Sejak mencetak gol dalam debut kandangnya melawan Arsenal pada September 2020, Jota menandai dirinya sebagai pemain yang muncul ketika dibutuhkan.

Gol-golnya tidak sekadar mengubah skor, tapi mengubah momentum. Dalam laga Liga Champions melawan Atalanta, ia mencetak hattrick, di kandang lawan, dalam kompetisi paling elit Eropa. Tidak semua pemain bisa mencatatkan prestasi seperti itu di awal kariernya bersama klub besar.

Pada musim 2021/22, ia menjadi penentu dalam semifinal Carabao Cup, mencetak dua gol ke gawang Arsenal. Di final, meski tidak mencetak gol, ia mengeksekusi penalti dengan tenang dan presisi. Ia bukan pemain panggung, tapi seseorang yang membuat panggung itu bersinar.


Kekuatan Mental yang Tak Tertandingi

Penyerang Liverpool asal Portugal #20, Diogo Jota (C), merayakan gol kedua bersama rekan setimnya selama pertandingan Grup E Liga Eropa UEFA antara Liverpool dan Royale Union Saint-Gilloise di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut pada tanggal 5 Oktober 2023. Liverpool memenangkan pertandingan dengan skor 2-0. (Oli SCARFF/AFP)

Yang membuat Diogo Jota unik bukan hanya statistik atau torehan trofi. Tapi keteguhan hatinya. Mantan gelandang Liverpool, Danny Murphy, dengan penuh hormat menyoroti bagaimana Jota selalu bangkit dari cedera, berulang kali.

Cedera pergelangan kaki, cedera hamstring, dan berbagai masalah fisik lainnya tak pernah membuatnya larut dalam keputusasaan. Ia kembali, lebih kuat, lebih lapar, dan tetap rendah hati.

Lanjut Baca:

“Ketika Anda melihat sikap pemain itu, saya rasa itu menunjukkan banyak hal tentangnya,” ujar Murphy dalam wawancara bersama talkSPORT. Jota tidak pernah merajuk saat dicadangkan. Ia tidak pernah mengeluh ketika harus bermain di luar posisi idealnya. Ia mengemban tugas dengan penuh komitmen, entah sebagai penyerang tengah, sayap kiri, atau bahkan turun membantu pertahanan. Inilah esensi dari pernyataannya: pemain tim.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya