Liputan6.com, Jakarta - Sandal jepit─barang "sederhana" nan cantik yang sedang digarap banyak produsen fesyen mewah─akhirnya debut di landasan pacu. Salah satu yang membawanya adalah Prada, saat memeragakan koleksi mereka di Milan Fashion Week Menswear Spring/Summer 2026 pada 22 Juni 2025.
Di runway pekan mode bergengsi itu, melansir ABC, Kamis (3/7/2025), para model berlenggak-lenggok dengan sandal kulit terbuka baru dari Prada. Namun, ribuan kilometer jauhnya di India, show itu disambut dengan "ketidakpercayaan," karena desainnya dianggap mirip dengan alas kaki tradisional mereka.
Advertisement
Ratusan komentar mengejek ditinggalkan di unggahan media sosial tentang sandal merek mewah tersebut. Semuanya mengarah pada anggapan bahwa sandal tersebut terlihat "mencurigakan" karena menyerupai Kolhapuri, sandal buatan tangan India yang berasal dari Kolhapur, sebuah kota di negara bagian Maharashtra, India barat.
Di tengah kontroversi itu, Prada akhirnya bahwa desain sandal tersebut terinspirasi sandal India yang berusia berabad-abad. "Kami sangat menyadari pentingnya budaya kerajinan tangan India tersebut," kata mereka dalam sebuah pernyataan.
Belum Pasti Diproduksi
Prada melanjutkan, "Perlu dicatat bahwa, untuk saat ini, seluruh koleksi masih dalam tahap awal pengembangan desain, dan tidak ada satu pun karya yang dipastikan akan diproduksi atau dikomersialkan." Merek mewah Italia itu mengklaim tetap "berkomitmen pada praktik desain yang bertanggung jawab, mendorong keterlibatan budaya, dan membuka dialog untuk pertukaran yang bermakna dengan komunitas perajin lokal India."
Profesor madya dalam desain dan pemasaran mode di Institut Desain MIT India, Arshiya Kapoor, menyebut bahwa tanggapan Prada hanya "di permukaan." "Itu tidak akan menguntungkan perajin atau komunitas yang kerajinannya digunakan," katanya pada ABC.
"Kolhapuri Chappals dibuat oleh komunitas perajin, yang sering kali berasal dari latar belakang terpinggirkan, yang mengandalkan pekerjaan ini sebagai mata pencaharian mereka," imbuhnya.
Pada 2019, pemerintah India secara resmi mengakui sandal Kolhapuri sebagai sandal yang pertama kali dibuat di kota Kolhapur. "Label ini secara resmi mengakui warisan budaya unik sandal ini dan menghubungkannya dengan wilayah tertentu,"ujar Kapoor.
Perampasan Budaya
Menurut Kapoor, pengakuan itu memperkuat anggapan bahwa desain ini milik komunitas perajin lokal yang telah melestarikan kerajinan ini selama beberapa generasi. Ia mengatakan, desain sandal jepit Prada adalah "contoh nyata perampasan budaya."
"Elemen desain, konstruksi, dan estetika keseluruhan hampir seluruhnya diambil dari gaya alas kaki ini dan langsung diterapkan pada sandal baru Prada," ungkapnya. "Mereka adalah merek mewah yang mengambil untung dari kerajinan tradisional India tanpa pengakuan, penghargaan, atau kolaborasi dengan komunitas yang menciptakannya."
Sandal Prada kabarnya dibanderol seharga 1,2 ribu dolar Amerika Serikat (AS) (sekitar Rp19,4 juta) sepasang. Sementara itu, sandal Kolhapuri asli dapat ditemukan di pasar India dengan harga hanya 10 dolar AS (sekitar Rp162 ribu).
Kapoor mengatakan, masalah yang lebih dalam terletak pada hilangnya peluang ekonomi dan pengakuan dari para perajin yang telah menyempurnakan dan melestarikan kerajinan tersebut dari generasi ke generasi. "Para perajin terampil ini bergantung pada desain mereka untuk mencari nafkah," katanya.
Meluas ke Politisi
"Ketika merek global meniru karya mereka tanpa menawarkan kompensasi uang atau kemitraan, hal itu merusak keberlanjutan dan pertumbuhan mereka," tegas Kapoor. Kehebohan daring meluas hingga ke para perajin, bahkan politisi di India.
Seorang anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India, Dhananjay Mahadik, memimpin delegasi perajin yang membuat alas kaki tradisional ini. Mahadik mengatakan bahwa ia telah menyerahkan surat pada Kepala Menteri Maharashtra Devendra Fadnavis, yang mendesak negara bagian tersebut bertindak melawan apa yang mereka anggap sebagai "perampasan budaya dan komersial."
"Kami ingin Prada memberikan identitas Kolhapuri pada produk mereka, dan perajin lokal harus mendapatkan pendapatan," katanya pada media lokal. "Jika Prada memberi kami pesanan, kami dapat memproduksi (sandal) untuk mereka. Merek Kolhapuri akan menjangkau seluruh dunia," ujar dia.
Kamar dagang Maharashtra mengaku telah menulis surat pada bos Prada Patrizio Bertelli tentang kekhawatiran para perajin sandal. Menurut laporan 2017 oleh Kementerian Tekstil India, negara itu memiliki lebih dari tujuh juta perajin, dengan sebagian besar terlibat dalam produksi alas kaki tradisional.