Liputan6.com, Jakarta - Perempuan prasejahtera di berbagai daerah terus menunjukkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk maju. Dengan sentuhan pelatihan dan pendampingan, mereka tidak hanya mengembangkan usaha, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di lingkungannya.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Gumi Indang Siswati, nasabah PNM Mekaar asal Bogor yang kini mengembangkan usaha batik pewarna alam dengan merek Batik Bumi Ku.
Advertisement
Usaha ini dirintis sejak 2017 setelah dirinya terkena pemutusan hubungan kerja. Berbekal semangat belajar, ia mendalami pelatihan membatik selama satu tahun penuh, hingga akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri.
Tak hanya berfokus pada produksi, Gumi kini aktif mengajar batik ke sekolah-sekolah di Bogor. Rumah batiknya juga kerap menjadi tujuan kunjungan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ingin belajar langsung tentang proses membatik alami.
“Saya berterima kasih kepada PNM Mekaar karena diberi kesempatan menjadi narasumber dalam Program PKU, sehingga bisa berbagi ilmu kepada nasabah lainnya yang ingin mengembangkan usaha batik khas Bogor. Selain itu, saya juga mendapat kesempatan mengikuti studi banding ke Padang,” ujarnya.
Di berbagai daerah, para ketua kelompok nasabah hadir sebagai sosok inspiratif. Mereka bukan hanya sesama pelaku usaha, tetapi juga menjadi panutan yang membantu anggota kelompok saling mendukung, belajar, dan tumbuh bersama.
Pemberdayaan yang dilakukan tidak berhenti pada pembiayaan. Nasabah juga dibekali pelatihan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan, serta difasilitasi studi banding lintas daerah untuk memperluas wawasan dan jejaring.
Program pelatihan seperti Membina dan Memberdaya (Mba Maya) menjadi salah satu ruang belajar dan berbagi antaranggota kelompok, yang mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin lokal dari komunitas nasabah sendiri.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary mengatakan bahwa kegiatan kelompok yang kuat dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas.
“Kami percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana di desa. Para ketua kelompok memiliki peran penting dan kami dampingi agar mereka bisa tumbuh dan menjadi contoh di lingkungannya,” katanya.
Hingga kini, PNM telah hadir di 6.165 kecamatan di seluruh Indonesia. Melalui pendekatan menyeluruh dan pelibatan aktif para nasabah, langkah-langkah kecil dari desa terus tumbuh menjadi kekuatan besar dalam memperkuat ekonomi keluarga dan membangun masa depan yang lebih baik.