Liputan6.com, Bandung - Kampung Tegal Panjang RT 02/RW 03, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dijadikan lahan relokasi tempat tinggal korban terdampak bencana gerakan tanah di Kampung Cihonje RT1/ RW 6, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar beberapa waktu lalu.
Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Muhammad Wafid, luas lahan relokasi itu mencapai 1 hektar dan akan dipergunakan untuk 35 rumah terdampak bencana gerakan tanah.
Advertisement
"Lokasi lahan relokasi berjarak kurang lebih 750 meter ke arah timur laut dari lokasi bencana gerakan tanah. Lokasi lahan relokasi ini tergolong datar hingga landai sehingga pengupasan lerengnya tidak terlalu berat," ujar Wafid dalam keterangan tertulisnya, Bandung, Selasa (1/7/2025).
Wafid mengatakan area rencana lahan relokasi berada pada kebun campuran. Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, status tanah lokasi lahan relokasi merupakan tanah milik Desa Sukamaju.
Untuk fasilitas yang kini tersedia di lahan relokasi tersebut yaitu jaringan listrik dan air, dekat dengan jalan dan kantor balai desa.
"Lahan memiliki kemampuan daya dukung yang cukup baik dan layak bagi bangunan ringan (low-risk buildings) sebagaimana diperlukan bagi pembangunan hunian tetap atau lahan relokasi," ungkap Wafid.
Wafid menuturkan pada saat pemeriksaan lahan relokasi tidak dijumpai longsoran lama atau paleo landslide dan longsoran baru. Lokasi lahan relokasi juga jauh dari gawir maupun tebing, lembah maupun alur sungai.
Wafid menjelasakan penataan saluran drainase atau saluran air di lahan relokasi, dianjurkan dibuat dengan saluran kedap air atau menggunakan pipa agar tidak mengerosi bagian bawah lereng.
"Tidak mengembangkan lahan basah, kolam penampungan air di sekitar permukiman untuk menghindari penjenuhan yang dapat memicu gerakan tanah. Pembuangan tanah hasil kupasan dan penimbunan tidak boleh secara sembarangan karena akan meningkatkan erosi pada lokasi ini," kata Wafid.
Wafid menegaskan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM hanya menyampaikan potret potensi bencana geologi, dalam hal ini bencana gerakan tanah dan tidak berhak melarang dan mengijinkan pembangunan pada lahan relokasi di lokasi ini.
Untuk itu PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM sangat merekomendasikan dalam pembangunan harus menyesuaikan dan memperhatikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RT/RW) Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Kondisi Teknis Daerah Lahan Relokasi
Wafid menyebutkan kondisi (morfologi) lokasi lahan relokasi di Kampung Tegal Panjang RT 02/ RW 03, Desa Sukamaju pada pemukiman berupa lereng landai dengan kemiringan (1⁰ - 4⁰). Lokasi bencana berada pada ketinggian 250 meter diatas permukaan laut (mdpl).
Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi lahan relokasi litologi batuan gunung api tua berupa breksi gunungapi bersusunan andesit basal (Qvb). Kondisi tanah pelapukan berwarna coklat kemerahan dengan ukuran butir lempung pasiran. Ketebalan tanah pelapukan 4 - 6 meter.
"Secara stratigrafi dibawahnya berupa Formasi Nyalindung (Tmn) yang terdiri dari batupasir glaukonit, batulempung, napal, napal pasiran, konglomerat, breksi dan batugamping (Effendi, dkk, 1998)," jelas Wafid.
Untuk kondisi keairan di sekitar lokasi lahan relokasi ini kedalaman muka air tergolong dalam yakni lebih dari 15 meter.
Pemboran disekitar lahan relokasi menunjukan air didapat pada kedalama sekitar 25 meter. Warga menggunakan air tanah dari sumur bor dan mata air untuk kebutuhan sehari-hari.
"Tataguna lahan dilokasi lahan relokasi berupa kebun campuran dan ladang atau tegalan. Pada saat ini lokasi lahan relokasi ditanami singkong atau ketela dan pohon pisang," sebut Wafid.
Wafid mengungkapkan berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi sklaa 1 : 50.000(PVMBG), lokasi lahan relokasi di Kampung Tegal Panjang RT 02/ RW 03, Desa Sukamaju berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah.
Artinya lanjut Wafid, daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Namun jika lokasi lahan relokasi tersebut didetailkan lagi ke dalam skala yang lebih detail lagi berdasarkan penyelidikan lapangan mempunyai kerentanan gerakan tanah rendah karena lerengnya landai dan kurang dari 4 derajat.
Pengungsi Cikembar Didatangi Wapres RI
Dilansir kanal Regional, Liputan6, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sempat meninjau kondisi warga terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cihonje Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi.
Informasi dihimpun, Wapres Gibran menuju lokasi di didampingi Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin, BNPB, BPBD Provinsi Jawa Barat, Forkopimda Provinsi Jawa Barat, dan Forkopimda Kabupaten Sukabumi.
Gibran menyambangi para pengungsi di dua posko, yaitu SD Negeri 2 Tegalpanjang dan posko di Kantor Desa Sukamaju. Dirinya juga turut membagikan buku tulis, mainan, susu, makanan, serta bantuan logistik lainnya. Setelah itu Gibran meninjau lokasi pergerakan tanah di Kampung Cihonje.
"Baru saja bapak Wakil Presiden Republik Indonesia datang ke sini memberikan bantuan baik moril, arahan, memberikan bantuan materiil, memberikan perintah langsung kepada saya kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk mengatasi sampai tuntas,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Jumat (6/12/2024).
Suharyanto mengatakan, Wapres sempat menanggapi kondisi kebersihan di dalam tenda pengungsian. Serta memberi perhatian kepada anak-anak karena kegiatan pembelajaran yang terganggu.
Bantuan Terkendala Akses
Sementara, Plt Kepala Pelaksana BPBD Jabar Anne Heramdianne Adnan menuturkan, beberapa titik lokasi bencana masih terkendala akses listrik dan infrastruktur jalan yang rusak.
"Masih ada beberapa yang memang belum bisa diakses dan dari sisi komunikasi dan listrik ini masih banyak yang putus ini yang menjadi permasalahan," ujar Anne.
Beberapa akses jalan utama yang rusak akibat longsor dan ambruk membuat proses evakuasi dan distribusi bantuan kepada warga terdampak memerlukan waktu cukup lama.
"(Jembatan) terputus ini juga kita ga bisa langsung evakuasi karena alat berat ga bisa masuk ketika jembatannya putus jadi jembatannya dulu yang harus diperbaiki," ungkapnya.
Masih kata Plt Pelaksana BPBD Jabar, untuk menjangkau lokasi terisolir pihaknya menyalurkan bantuan logistik ke daerah-daerah melalui jalur darat dengan kendaraan roda dua dan sungai.
"Sekarang adalah pertama kita data pengungsi kita upayakan logistik permakanan bisa masuk ke daerah pengungsi contohnya mungkin ke daerah Simpenan kan putus," tuturnya.
"Ini kita upayakan menggunakan perahu pertama kita nggak bisa akses walaupun kita gunakan perahu kita kerja sama dengan relawan BPBD kabupaten kota, TNI-Polri ini juga sedang terus kita lakukan seperti itu," sambung dia.
Berdasarkan data yang diperoleh BPBD Jawa Barat hingga Jumat (6/12) pukul 08.00 WIB, sejauh ini jumlah korban jiwa bertambah menjadi 5 orang yang berusia dari 11 tahun hingga lansia.
"Untuk korban saat ini yang meninggal dunia yang tercatat ada lima orang meninggal dunia itu berada di Kecamatan Simpenan, kemudian Ciemas. Tujuh orang sampai saat ini belum ditemukan itu ada di Simpenan, Gegerbitung, Tegal Buleud, Pabuaran," tutupnya.