Setelah 45 Tahun Tewas dalam Kudeta, Presiden Liberia Akhirnya Dimakamkan

Mengapa Presiden William Tolbert baru dimakamkan setelah puluhan tahun? Berikut penjelasannya.

oleh Benedikta Miranti T.VDiterbitkan 02 Juli 2025, 11:00 WIB
Ilustrasi pemakaman. Foto: Unsplash.

Liputan6.com, Monrovia - Empat puluh lima tahun setelah dibunuh dalam kudeta militer berdarah, mantan Presiden Liberia William Tolbert akhirnya menerima pemakaman simbolis bersama 13 menteri kabinetnya yang turut dieksekusi. Upacara negara ini dianggap sebagai langkah berani menuju rekonsiliasi nasional dan penyembuhan luka sejarah.

Pada 12 April 1980, Tolbert digulingkan dan dibunuh dalam kudeta militer yang dipimpin oleh Sersan Samuel Doe, mengakhiri dominasi politik lebih dari seabad oleh kelompok minoritas Americo-Liberian, keturunan budak kulit hitam yang dibebaskan dari Amerika Serikat.

Hanya 10 hari setelah kudeta, 13 menteri kabinet Tolbert diadili secara cepat oleh pengadilan militer dan dieksekusi secara brutal di pantai dekat barak militer di Monrovia. Tidak satu pun dari jasad mereka pernah ditemukan hingga saat ini.

Namun, dalam upacara yang digelar Selasa (1/7/2025), masing-masing dari mereka menerima penghormatan kenegaraan dengan penyerahan bendera nasional kepada keluarga serta tembakan salvo 21 kali.

Presiden Liberia saat ini, Joseph Boakai, turut hadir dalam upacara tersebut, menggambarkannya sebagai "momen refleksi nasional" yang penting bagi upaya penyatuan bangsa. 

"Ini bukan hanya pemakaman, tetapi awal dari penyembuhan," kata Boakai, seperti mengutip BBC, Rabu (2/7). 

Yvette Chesson-Gibson, putri dari mantan Menteri Kehakiman Joseph Chesson yang ikut dieksekusi, menyatakan bahwa luka keluarga korban tetap terasa meski telah berlalu puluhan tahun.

"Ini adalah awal dari penutupan, tapi rekonsiliasi bukan sebuah peristiwa tunggal," ujarnya.

Pemakaman Simbolis

Ilustrasi meninggal, kematian, makam, kuburan. (Photo by Quick PS on Unsplash)

Sebelum pemakaman ini, para korban hanya dikenang melalui sebuah batu nisan yang memuat nama-nama mereka, di mana para presiden sebelumnya memberi penghormatan tahunan. Namun, saat lokasi itu digali tahun ini, tak ditemukan satu pun sisa jasad manusia.

Samuel Doe sendiri juga mengalami kematian tragis pada 1990 saat tertangkap oleh kelompok pemberontak. Ia pun baru dimakamkan kembali secara simbolis di kampung halamannya minggu lalu, juga atas instruksi Presiden Boakai.

Jarso Maley Jallah, menteri yang memimpin program pemakaman ulang, mengatakan bahwa ini adalah bentuk pengakuan terhadap sejarah kelam Liberia.

"Kita harus mengakui masa lalu jika ingin melangkah maju sebagai bangsa," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya