Suara Nelayan dan Isyarat Alam dari 'Udan Salah Mongso', Pertanda Apa?

Dalam pandangan budaya Jawa, terutama dalam naskah-naskah seperti Serat Centhini dan Babad Mataram, kejadian udan salah mongso selalu menjadi penanda bahwa terjadi ketidakseimbangan antara manusia dan alam

oleh HendroDiterbitkan 04 Juli 2025, 10:00 WIB
Sarpan (54), nelayan Pantai Sadeng, Gunungkidul, duduk di antara perahu-perahu yang tertambat karena cuaca tak menentu. Hujan yang turun di musim kemarau membuat laut selatan sulit diprediksi. bagi masyarakat Jawa, fenomena ini dikenal sebagai udan salah mongso.

Liputan6.com, Gunungkidul - Langit kelabu dan ombak yang menggulung tinggi tak lagi asing bagi Sarpan (54), nelayan Pantai Sadeng, Gunungkidul. Sudah lebih dari 20 tahun ia mengarungi lautan selatan, namun dalam beberapa bulan terakhir, laut yang dulu ramah perlahan berubah menjadi medan penuh ketidakpastian.

“Dulu musim kemarau ya kemarau, sekarang malah sering hujan. Angin juga gak tentu arah, bikin takut kalau maksa berangkat,” ujar Sarpan.

Ia menceritakan, perubahan cuaca belakangan ini membuat hasil tangkapan menurun drastis. Ikan-ikan sulit diprediksi datangnya. Jika sebelumnya ia bisa membawa pulang 50 hingga 100 kilogram ikan dalam sekali melaut, kini seringkali pulang dengan hanya beberapa kilo, kadang bahkan tanpa hasil.

“Sekali berangkat, bensin dan bekal tetap keluar. Tapi pulangnya bisa enggak bawa apa-apa. Kalau terus begini, kita nelayan kecil bisa habis,” katanya lirih.

Fenomena ini bukan hanya dirasakan Sarpan. Banyak nelayan lain di kawasan pesisir selatan Jawa merasakan dampak perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Hujan yang turun di musim kemarau, badai yang datang tiba-tiba, dan perubahan arus laut menjadi tantangan baru yang sulit diprediksi.

BMKG membenarkan bahwa saat ini wilayah DIY dan sekitarnya mengalami anomali cuaca. Curah hujan tak lagi bisa ditebak, dan suhu permukaan laut mengalami peningkatan. Hal ini memengaruhi migrasi ikan dan pola angin musiman yang selama ini menjadi pegangan para nelayan.

Namun, bagi sebagian masyarakat Jawa, fenomena ini bukan sekadar gangguan iklim atau cuaca ekstrem. Ini adalah sebuah isyarat alam. RM. Kukuh Hertriyasning, kerabat Keraton Yogyakarta dan pemerhati budaya Jawa, menyebut gejala ini sebagai “udan salah mongso” hujan yang turun tidak pada musimnya.

“Alam mencoba bicara, tapi sering kali manusia tidak mendengarkan,” ujar RM. Kukuh saat ditemui di Ndalem Benawan, Yogyakarta.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Udan Salah Mongso dalam Naskah Kuno

Menurutnya, dalam pandangan budaya Jawa, terutama dalam naskah-naskah seperti Serat Centhini dan Babad Mataram, kejadian udan salah mongso selalu menjadi penanda bahwa terjadi ketidakseimbangan antara manusia dan alam.

Ia mencontohkan bagaimana pada masa peralihan kekuasaan di era Sultan Agung, hujan turun di musim kemarau hingga menyebabkan gagal panen dan munculnya wabah. Leluhur kita tidak hanya mengamati cuaca, tapi juga mencatat relasi antara perubahan alam dan moral manusia.

“Ketika manusia mulai serakah, menambang sembarangan, merusak hutan, mencemari laut, maka jagad akan memberi sinyal. Salah mongso itu salah satunya,” ujarnya.

Bagi Kukuh, udan salah mongso bukan hanya peristiwa alam, tapi teguran halus semesta. Teguran agar manusia kembali pada harmoni dan tidak merasa sebagai penguasa atas alam, melainkan sebagai bagian dari sistem semesta yang saling terhubung.

Fenomena ini, jika dilihat dari dua sisi yaitu dari mata nelayan yang berjuang di laut dan dari pandangan budaya yang diwariskan leluhur, menggambarkan satu hal yang sama. Dimana alam sedang gelisah. dan gelisahnya alam, pada akhirnya, selalu berbalik kepada manusia.

“Perubahan pola musim bukan hanya berdampak secara simbolik dan filosofis, tetapi juga nyata dirasakan oleh masyarakat pesisir selatan jawa, termasuk nelayan di Pantai Sadeng, Gunungkidul,” dia menjelaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya