Liputan6.com, Bandung - Badawang merupakan kesenian tradisional berupa boneka raksasa dari Jawa Barat. Kesenian ini sekilas mirip ondel-ondel dari Betawi.
Mengutip dari laman Direktorat Jenderal Kebudayaan, tak diketahui secara pasti kapan lahirnya badawang. Namun, konon badawang sudah ada sejak masa kolonial.
Advertisement
Hal ini merujuk pada istilah badawang yang juga kerap disebut sebagai seni memeniran. Etimologi memeniran mengacu pada julukan Meneer. Pada masa penjajahan Belanda, julukan Meneer diberikan untuk seorang tuan atau petinggi Bangsa Belanda dengan perawakan tinggi besar.
Badawang disebut sebagai een pop ter grootte en van de gedaante van een mensch (vgl. bebegig). Artinya, badawang adalah boneka yang memiliki ukuran dan bentuk seperti seorang pria.
Dalam definisi tersebut, penamaan badawang merujuk atau memiliki persamaan dengan bebegig. Bebegig adalah boneka yang memiliki bentuk dan ukuran mirip seseorang dan kerap hadir dalam parade atau sebagai orang-orangan sawah.
Dalam bahasa Sunda, badawang berarti sesosok manusia tinggi besar. Selain digunakan sebagai nama kesenian, badawang juga digunakan sebagai nama ragam hias pada rumah. Bernama badawang sarat, hiasan ini bebentuk ikan besar. Dengan demikian, awal mula kemunculan seni badawang kemungkinan besar mengarah pada upaya peniruan sosok Meneer yang biasanya berbadan besar.
Berat kepala badawang bisa mencapai 30 kilogram. Kerangka tubuh dan tangannya terbuat dari bahan kayu, rotan, bambu, plastik, dan besi plat.
Pada bagian penyangga kerangka boneka dilapisi kain yang cukup tebal. Dengan lapisan kain tersebut pemain dapat menyangga berat boneka dengan nyaman. Pemain badawang biasanya berjumlah sekitar empat hingga sembilan orang. Setiap pemain wajib menghafalkan karakter badawang yang dimainkannya.
Selain pemain badawang, diperlukan juga sekitar tiga orang pemain untuk menjalankan bendi atau kuda, 16 nayaga, satu sinden, dan satu dalang. Keseluruhan jumlah personel tidak bersifat baku, disesuaikan oleh besar atau tidaknya sebuah helaran badawang. Musik pengiring badawang sama seperti musik pengiring pencak silat. Terdakang alunan musik ditambah dog-dog dan bedug.
Simak Video Pilihan Ini:
Lagu yang Dimainkan
Adapun lagu-lagu yang dimainkan adalah Golempang dan Padungdung. Saat ini, lagu-lagu kawih juga digunakan, seperti lagu Rayak-Rayak, Kembang Beureum, termasuk lagu-lagu dangdutan yang sedang populer.
Seni badawang kerap dikolaborasikan dengan seni tradisional lainnya, seperti seni reak yang juga mengusung boneka sebagai pemeran utama. Selain itu, ada juga seni tari keurseus dan tari-tarian Sunda lainnya.
Kesenian badawang banyak dipentaskan di wilayah Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pementasan ini tercatat pada 20 Mei 1961, bertepatan dengan HUT ke-16 Kodam Siliwangi dan Hari Kebangkitan Nasional ke-53.
Kesenian Badawang biasanya ditampilkan sebagai bagian dari acara helaran dari pertunjukan benjang dan arak-arakan lainnya. Pertunjukannya berupa iring-iringan helaran. Badawang biasanya berjumlah lebih dari empat dengan ragam variasi kostum boneka yang berbeda.
Awalnya, kesenian ini tersebar di setiap kabupaten dan kota di Jawa Barat. Namun, kini kesenian badawang hanya berada di Kabupaten Garut, Sumedang, serta kabupaten dan kota Bandung. Dalam perkembangnya, badawang lebih menonjolkan unsur kamonesan (keterampilan) memainkan boneka karena lebih banyak disukai penonton. Beberapa figur badawang yang sudah dikenal masyarakat adalah Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng.
Mereka beraksi dengan menggerakkan mulut boneka yang seolah-olah sedang bicara. Mereka juga menampilkan atraksi menari, melambaikan tangan, hingga bersorak.
Penulis: Resla