Makna Lagu Chop Suey dari System of A Down: Keras Namun Sarat Makna tentang Kematian Berbalut Keyakinan dan Perjuangan Diri

Bukan sekadar lagu metal biasa, “Chop Suey” yang dirilis System of A Down (SOAD) pada 2001 menyimpan lirik yang dalam dan puitis, menyentuh tema kematian, persepsi sosial, hingga pencarian spiritual. Yuk kita selami makna lagu ini secara mendalam.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 27 Juni 2025, 09:00 WIB
Grup musik System of a Down difoto di Irving Plaza di New York pada tanggal 9 Mei 2005. Dari kiri adalah Daron Malakian, Serj Tankian, John Dolmayan dan Shavo Odadjian. Album baru System of a Down "Mezmerize" dirilis di Columbia. (Foto AP/Jim Cooper)

Liputan6.com, Jakarta LaguChop Suey” yang dirilis System of A Down (SOAD) pada 2001 bukan sekadar lagu metal biasa. Di balik gebukan drum eksplosif dan riff gitar yang agresif, tersimpan lirik yang dalam dan puitis, menyentuh tema kematian, persepsi sosial, hingga pencarian spiritual.

Gitaris Daron Malakian, yang menulis lagu ini bersama vokalis Serj Tankian, pernah menjelaskan bahwa “Chop Suey” menggambarkan bagaimana masyarakat menilai kematian seseorang berdasarkan penyebabnya.

“Lagu ini tentang bagaimana ketika seseorang meninggal, orang-orang akan menilainya tergantung bagaimana ia meninggal. Misalnya, jika saya mati karena overdosis, orang akan bilang saya pantas mendapatkannya karena saya memakai narkoba. Karena itu ada lirik ‘Angels deserve to die’,” ungkap Daron soal makna lagu ini, mengutip songfacts.com.

Judul asli lagu ini sebenarnya adalah “Suicide”, namun label Columbia Records meminta agar judul tersebut diubah agar lebih ramah radio. Nama “Chop Suey” pun dipilih—sebuah permainan kata dari “Suey-cide”. Kata ini juga mengacu pada hidangan Cina campuran yang terdiri dari berbagai bahan—cerminan dari gaya musik SOAD yang penuh campuran genre dan energi liar.

Lirik lagu ini menyiratkan nuansa spiritual, terutama di bagian bridge yang menyebut: “Father, Father, Father, do you commend my spirit? Father, why have you forsaken me?”

Lirik ini merujuk pada kutipan Alkitab, terutama dari Injil Lukas 23:46 dan Yesaya 49:14, yang memberikan nuansa religius dan eksistensial yang mendalam. Rick Rubin, produser album Toxicity, menyebut bagian ini sebagai "emosional, megah, dan sangat berat".


Lahirnya Lagu Legendaris Lewat Kejadian Ajaib

Serj Tankian, dari kiri, Daron Malakian, John Dolmayan, dan Shavo Odadjian, dari System of a Down, berpose di ruang pers pada acara tahunan ke-25 KROQ Almost Acoustic Christmas di The Forum pada hari Sabtu, 13 Desember 2014, di Inglewood, California. (Foto oleh John Shearer/Invision/AP)

Menariknya, bagian lirik ikonik tersebut muncul secara tak terduga. Dalam podcast The Joe Rogan Experience, Rubin mengungkap bahwa Tankian sempat buntu menulis lirik bagian bridge.

Rubin pun menyarankan untuk mengambil sebuah buku dari rak, membuka halaman acak, dan mengambil frasa pertama yang terlihat. Hasilnya adalah bagian lirik yang kini menjadi klimaks emosional lagu.

“Itu seperti keajaiban,” kata Rubin. “Konteksnya memang tak selalu nyambung dengan keseluruhan lagu, tapi justru itu yang membuatnya keren.”


Lagu Keras yang Menyentuh Banyak Kalangan

Vokalis System of a Down Serj Tankian, kanan, gitaris Daron Malakian, kiri, dan drummer John Dolmayan, tengah, tampil di Konser $2 Bill MTV2 di Webster Hall di New York, Selasa, 22 November 2005. Band tersebut tampil untuk mendukung rekaman terbaru mereka, "Hypnotize." (Foto AP/Henny Ray Abrams)

“Chop Suey” menjadi single pertama dari album Toxicity dan menjadi terobosan terbesar bagi System of a Down. Meski berasal dari komunitas Armenia-Amerika di Los Angeles dan awalnya hanya dilirik sebagai band “niche”, SOAD justru berhasil menembus pasar global dan menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi boyband kala itu.

Lanjut Baca:

Namun, kesuksesan lagu ini sempat terhenti setelah tragedi 11 September 2001. Meski tidak ada kaitan langsung dengan aksi teror, radio-radio Amerika menghentikan pemutaran lagu ini karena dianggap terlalu agresif untuk suasana duka nasional saat itu. Lirik “I cry when angels deserve to die” dianggap terlalu sensitif. Namun setelah situasi mereda, lagu ini kembali mengudara dan tetap menjadi anthem bagi generasi muda.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya