Iran-Israel Perang, Bagaimana Kabar Energi Nuklir di Indonesia?

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono, mengatakan wacana pengembangan energi nuklir di Indonesia masih berada pada tahap awal.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 25 Juni 2025, 17:15 WIB
Ilusrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. (Foto: batan.go.id)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono, mengatakan wacana pengembangan energi nuklir di Indonesia masih berada pada tahap awal.

"Untuk nuklir sendiri, saya rasa ini masih tahap awal. Beberapa lembaga pemerintah sedang mempertimbangkan hal ini," kata Thomas dalam Interview pada Energy Transition Summit Asia: Driving regional and global energy transformation, di Jakarta, Rabu (25/6/2025).

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah belum menetapkan kebijakan final terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Saat ini, pemerintah masih menunggu peta jalan (blueprint) yang sedang disusun oleh kementerian dan lembaga teknis terkait, terutama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Kita tunggu hingga mereka menyusun blueprint, dan bersama Kementerian ESDM kita bisa merumuskan cara menghadapi tantangan tersebut," ujarnya.

Menurut Thomas, keterbukaan terhadap berbagai sumber energi merupakan bagian dari strategi nasional untuk membangun ketahanan dan kemandirian energi dalam jangka panjang.

 

Indonesia Perlu Campuran Energi yang Fleksibel

Tangki penyimpanan air yang terkontaminasi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi milik Tokyo Electric Power Company (TEPCO) di Okuma, Prefektur Fukushima, Jepang, 20 Januari 2023. Setelah 12 tahun bencana nuklir yang dipicu oleh gempa bumi besar dan tsunami, para pekerja di PLTN Fukushima Daiichi bersiap untuk membuang air limbah yang sudah diolah ke laut. (Philip FONG/AFP)

Lebih lanjut, Thomas menilai bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis sumber energi. Dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar, Indonesia membutuhkan campuran energi (energy mix) yang fleksibel, termasuk mempertimbangkan opsi nuklir.

"Indonesia harus terbuka terhadap berbagai teknologi dan campuran energi. Negara kita terlalu besar, baik dari sisi populasi, wilayah, maupun geografi. Jadi, kita perlu melihat campuran energi yang beragam," ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa keterbukaan terhadap teknologi nuklir bukan berarti langsung implementasi. Pemerintah tetap mengedepankan aspek kehati-hatian, keselamatan, dan efisiensi, terutama karena teknologi ini membutuhkan investasi awal yang sangat besar dan memiliki risiko terkait limbah radioaktif.

 

Tawaran Negara Lain ke Indonesia

Pembuangan limbah nuklir dari PLTN Fukushima Daiichi menjadi sebuah langkah kontroversial, namun merupakan tonggak sejarah bagi perjuangan Jepang menghadapi persediaan air radioaktif yang terus meningkat. (Kyodo News via AP)

Thomas juga menyebutkan bahwa saat ini sejumlah negara telah menyampaikan ketertarikan untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan teknologi nuklir.

Di antaranya adalah Prancis, Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa lainnya. Namun, diskusi-diskusi tersebut masih berada di level konseptual dan belum masuk dalam tahap kebijakan resmi.

"Tapi saya tahu ada beberapa negara yang sedang berdiskusi, termasuk Prancis, negara-negara Eropa, Amerika Serikat, bahkan Kanada. Kemarin saya bicara dengan Duta Besar Kanada, dan mereka menekankan keunggulan teknologi nuklir mereka. Tapi semua itu masih dalam tahap konsep, belum menjadi kebijakan resmi," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya