Kololi Kie, Ritual untuk Menenangkan Gunung Gamalama oleh Masyarakat Ternate

Persiapan ritual ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kaum perempuan menyiapkan perlengkapan sajen, sementara laki-laki bertugas menyiapkan transportasi dan logistik.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 02 Juli 2025, 02:00 WIB
Pesona keindahan Gunung Gamalama di Ternate. (Dok: Instagram @dhaniswanardi)

Liputan6.com, Maluku - Setiap tahun, masyarakat Ternate melaksanakan ritual kololi kie sebagai bentuk penghormatan terhadap Gunung Gamalama. Tradisi kololi kie bertujuan untuk menenangkan Gunung Gamalama dan memohon perlindungan dari bencana.

Mengutip dari berbagai sumber, kololi kie terbagi dalam dua bentuk pelaksanaan. Ritual ini melibatkan pengelilingan gunung baik melalui laut maupun darat.

Kololi kie mote ngolo dilakukan dengan mengelilingi pulau menggunakan perahu kora-kora, yang melibatkan puluhan pendayung dengan pakaian adat lengkap. Sementara kololi kie mote ngiha merupakan prosesi darat yang melewati lereng Gunung Gamalama dengan berjalan kaki.

Kedua prosesi ini selalu diiringi pembacaan doa dan mantra oleh pemangku adat. Peserta ritual diwajibkan mengenakan pakaian berwarna putih sebagai.

Persiapan ritual ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kaum perempuan menyiapkan perlengkapan sajen, sementara laki-laki bertugas menyiapkan transportasi dan logistik.

 

Ziarah

Ritual kololi kie mencakup ziarah ke makam leluhur dan ulama besar Kesultanan Ternate. Kegiatan ini juga diiringi pembacaan doa oleh keturunan kesultanan.

Puncak acara berupa persembahan sajen dari hasil bumi seperti pisang, kelapa, dan beras ketan di titik-titik strategis sekitar gunung. Prosesi ini dipimpin jou se gapi, pemangku adat tertinggi masyarakat Ternate.

Dalam pelaksanaannya, pemilihan waktu didasarkan pada perhitungan kalender tradisional Ternate yang mempertimbangkan fase bulan dan musim. Biasanya ritual dilakukan pada bulan-bulan tertentu yang dianggap suci dalam tradisi setempat.

Masyarakat Ternate memandang Gunung Gamalama merupakan entitas spiritual yang memiliki kekuatan. Kepercayaan ini berakar pada sejarah panjang interaksi masyarakat dengan gunung yang telah beberapa kali meletus.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya