Liputan6.com, Jakarta Bulan Suro, yang bertepatan dengan Muharram dalam kalender Hijriah, adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Pada bulan ini, banyak amalan di bulan Suro yang dianjurkan untuk dilakukan, baik dari perspektif Islam maupun tradisi Jawa.
Advertisement
Mulai dari puasa Muharram hingga memperbanyak taubat, amalan di bulan Suro ini bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan, membersihkan diri, dan memohon keberkahan dari Allah SWT.
Dijelaskan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam buku Latha’if al-Ma’ārif (Beirut, 1997: 67), beliau menjelaskan bahwa, Puasa yang paling utama setelah Ramadhān adalah puasa di bulan Allah Muharram. Ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Muharram sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah puasa.
Selain puasa, terdapat berbagai amalan di bulan Suro yang bisa dilakukan untuk meraih keutamaan bulan Muharram dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya, Rabu (25/6/2025).
Keutamaan Bulan Suro atau Muharram
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Salah satunya adalah sebagai bulan yang disucikan. Selain itu, Muharram juga menjadi penanda awal tahun baru Hijriah, yang merupakan momen penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri.
Keutamaan lain dari bulan Muharram adalah terdapatnya hari Asyura (tanggal 10 Muharram), yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan yang tinggi. Pada hari ini, banyak peristiwa penting terjadi, seperti penyelamatan Nabi Musa AS dari kejaran Fir'aun. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
Selain itu, bulan Muharram juga menjadi momentum untuk meningkatkan amal ibadah lainnya, seperti sedekah, silaturahmi, dan memperbanyak doa. Dengan melakukan amalan di bulan Suro ini, diharapkan umat Islam dapat meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.
Amalan di Bulan Suro Beserta Dalilnya
Sujumlah amalan sunnah yang bisa dikerjakan di bulan Muharram adalah puasa awal Muharram, puasa Tasua, puasa Asyura, mengupas kepala anak yatim, bersedekah, dan memperbanyak istighfar.
Berikut masing-masing uraian amalan di bulan Suro lengkap dengan dalilnya:
1. Menegakkan Shalat
Mengisi bulan Muharram dengan memperbanyak ibadah kepada Allah adalah salah satu bentuk penghambaan yang dianjurkan.
Salah satu bentuknya adalah menegakkan salat, baik yang bersifat wajib lima waktu maupun menambahkan amalan sunah seperti salat tahajud, dhuha, atau rawatib. Saah satunya sholat tahajud.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ
Artinya: “Dan pada sebagian malam lakukanlah salat tahajjud sebagai (ibadah) tambahan bagimu…”
Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah SWT untuk menjalankan tahajjud sebagai ibadah tambahan, bukan kewajiban fardhu . Tafsir dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI menegaskan bahwa kalimat “tahajjad” berarti shalat malam usai tidur di sepertiga malam terakhir, dan diposisikan sebagai tambahan utama setelah salat wajib
Momentum awal tahun Hijriah menjadi titik refleksi yang tepat untuk memperbaiki kualitas salat, menjaga kekhusyukan, serta menambah kedisiplinan dalam menunaikannya secara tepat waktu.
2. Puasa Tasua
Selain pada awal Muharram, umat muslim juga dianjurkan untuk mengerjakan puasa pada tanggal 9 Muharram atau dikenal dengan puasa Tasua. Puasa ini dianjurkan sebagai bentuk penyelisihan terhadap tradisi kaum Yahudi, yang hanya berpuasa pada hari Asyura saja.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, tatkala Rasulullah SAW, Abbas, "Wahai, Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani." Maka, beliau bersabda, "Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan." Ibnu Abbas berkata, "Tahun berikutnya belum datang, namun Rasulullah Saw. meninggal terlebih dahulu." (HR. Muslim).
Berikut adalah niat puasa Tasua:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَسُعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.
Arab Latin: Naiwaitu shauma tasu'aa-i sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala."
3. Puasa Asyura
Puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini merupakan salah satu puasa yang sangat dianjurkan di bulan Muharram.
Puasa Asyura dikerjakan sebagai bentuk penghormatan terhadap kemenangan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir'aun. Beberapa hadits menjelaskan keutamaan puasa ini, antara lain hadits dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka Allah SWT memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan, barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka ia diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah dan 10.000 pahala orang mati syahid. Barang siapa mengusap kepala anak-anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Barang siapa memberi makan kepada orang mukmin yang berbuka puasa di hari Asyura, maka seolah-olah ia memberi makan seluruh umat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka."
Puasa Asyura 2025 jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025. Adapun niat puasa Asyura adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُرَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.
Arab Latin: Naiwaitu shauma 'aasyura sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala."
4. Puasa Ayyamul Bidh
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada bulan Hijriah. Puasa ini merupakan salah satu amalan saleh yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap bulan, termasuk di bulan Muharram.
Dalam sejumlah hadits, Rasulullah SAW menekankan keutamaan puasa Ayyamul Bidh. Salah satunya tertuang dalam wasiat beliau kepada sahabat Abu Hurairah RA:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّاامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْر
"Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulan (ayyamul bidh), mengerjakan sholat Dhuha, dan mengerjakan shalat Witir sebelum tidur." (HR Bukhari no 1178)
Amalan di Bulan Suro Tentang Berbuat Baik
5. Mengusap Kepala Anak Yatim
Menunjukkan kasih sayang kepada anak yatim, termasuk dengan mengusap kepala mereka, merupakan bentuk perhatian yang sangat dianjurkan di bulan Muharram, terutama pada hari Asyura. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya, disebutkan bahwa seseorang yang mengerjakan amalan tersebut akan ditingkatkan derajatnya. Rasulullah SAW bersabda:
"...Barang siapa mengusap kepala anak-anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat..."
6. Memberi Makan Orang Mukmin yang Berbuka Puasa
Masih dari hadits dari Ibnu Abbas, amalan saleh lainnya yang dianjurkan di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura (10 Muharram), adalah memberi makan orang mukmin yang berbuka puasa. Amalan ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti berbagi takjil, mengundang teman atau keluarga untuk berbuka bersama, atau bersedekah makanan kepada orang yang membutuhkan.
7. Memperbanyak Istighfar
Di bulan Muharram, umat muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak permohonan ampun kepada Allah SWT. Salah satu bacaan istighfar yang paling utama dan sangat dianjurkan adalah sayyidul istighfar.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR. Bukhari no. 6.306)
Berikut ini bacaan sayyidul istighfar:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ.
Arab Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A-'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu-u laka bini'matika 'alayya wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.
Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah Menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji- Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada- Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu."
8. Menggunakan Celak Mata dengan Itsmit
Menggunakan celak atau eyeliner dari batu itsmit saat hendak tidur merupakan sunah yang pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Kandungan dalam celak itsmit dipercaya dapat memperjelas penglihatan serta merangsang pertumbuhan bulu mata. Bahkan Rasulullah pernah menganjurkan memakai celak, berikut bunyi haditsnya:
عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ النَّوْمِ، فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ، وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ
Artinya: "Bercelaklah dengan itsmid, karena ia dapat menerangkan pandangan dan menumbuhkan bulu (mata)," (HR At Tirmidzi).
9. Memperbanyak Taubat
Berdasarkan firman Allah dalam QS An-Nūr (24):31, Allah memerintahkan seluruh orang beriman untuk bertaubat, “...dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman agar kalian beruntung.”
Ayat ini menegaskan pentingnya taubat sebagai bentuk pembersihan jiwa, terlebih di bulan-bulan suci seperti Muharram yang termasuk Asyhurul Hurum.
Dalam buku Al-Tawbah: The Concept of Repentance in Islam oleh Muhammad Al-Ghazali (2001), dijelaskan bahwa taubat yang sungguh-sungguh adalah kunci kembali kepada fitrah manusia dan penentu keberhasilan spiritual seorang Muslim.
Dalam hadis riwayat Imam Ahmad yang dikutip dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, Rasulullah SAW bersabda, “Beruntunglah orang yang mendapati dalam catatan amalnya istighfār yang banyak” (Musnad Ahmad, 1985). Hadis ini menjadi pengingat untuk memperbanyak istighfār, terutama di bulan-bulan haram yang dimuliakan.
10. Menghindari permusuhan & tindakan dosa
Allah SWT mengingatkan dalam QS At-Taubah (9):36: “Janganlah kamu menzalimi dirimu sendiri pada bulan-bulan itu (bulan haram)”.
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam ayat tersebut, di mana umat Islam dilarang melakukan kezaliman, termasuk permusuhan dan konflik.
Dalam jurnal Etika Islam dalam Menjaga Ukhuwah Islamiyah oleh Ahmad Taufik (2020) yang dimuat di Garuda.kemdikbud.go.id, dijelaskan bahwa menghindari pertikaian merupakan bagian dari menjaga ukhuwah dan stabilitas sosial dalam masyarakat muslim.
Buku Al-Akhlaq karya Ahmad Amin (1983) menjelaskan bahwa menghindari dosa serta menjaga kesabaran terhadap sesama manusia adalah pilar penting dalam pembentukan moral dan peradaban Islam.
11. Menjaga Akhlak Mulia & Sikap Amanah
Buku Al-Akhlaq menyebutkan bahwa akhlak seperti kejujuran, amanah, dan keadilan muncul dari nurani manusia, menjadikannya kebutuhan mendasar dalam pendidikan karakter.
Amanah sebagai wujud taqwa, menurut artikel di situs Kementerian Agama (2019) Rasulullah SAW termasuk teladan dalam amanah dan kejujuran, dan umat Islam diperintahkan untuk meneladani sikap tersebut sebagai bentuk implementasi iman dan kesalehan sosial.
Peristiwa Sejarah Islam di Bulan Muharram
1. Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah
Peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam yang terjadi pada 1 Muharram tahun 1 Hijriyah adalah Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Momen ini menjadi tonggak awal penanggalan kalender Hijriyah yang ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Berdasarkan artikel dalam Jurnal Al-A’raf dari Garuda Kemdikbud, hijrah ini bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga simbol transformasi sosial dan spiritual umat Islam menuju kebebasan beribadah.
Sumber pemerintah seperti baznas.go.id juga menekankan keutamaan 1 Muharram sebagai awal tahun baru Islam yang sarat dengan semangat perubahan dan pembaruan diri.
2. Keselamatan Nabi Musa dari Kejaran Fir‘aun (Asyura)
Peristiwa penting lainnya adalah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israel dari kejaran Fir‘aun yang terjadi pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura). Rasulullah SAW kemudian melaksanakan puasa sebagai bentuk syukur dan menganjurkan umat Islam untuk ikut berpuasa.
Sebagaimana disebutkan dalam pa-kudus.go.id, puasa Asyura menjadi salah satu syariat yang dijalankan Rasulullah sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadan.
Jurnal Al-A’raf juga mengutip bahwa perintah puasa Asyura diambil dari tradisi para Nabi terdahulu, terutama Nabi Musa AS yang bersyukur kepada Allah setelah selamat dari ancaman Fir‘aun.
3. Taubat Nabi Adam AS Diterima pada Hari Asyura
Dalam berbagai literatur Islam klasik, disebutkan bahwa taubat Nabi Adam AS diterima Allah SWT pada hari Asyura. Keyakinan ini berkembang di kalangan Sunni dan dijadikan salah satu alasan mengapa tanggal 10 Muharram dianggap suci.
Dalam penelusuran dari jurnal Garuda, hal ini dimaknai secara simbolis bahwa bulan Muharram menjadi bulan permohonan ampun dan rekonsiliasi ruhani (Sutarto, 2019).
4. Keluarnya Nabi Nuh AS dari Bahtera
Disebutkan pula bahwa pada tanggal 10 Muharram, Nabi Nuh AS bersama para pengikutnya keluar dari bahtera setelah banjir besar surut. Hal ini dimaknai sebagai hari keselamatan dan pertolongan Allah terhadap kaum yang beriman.
Informasi ini juga dikuatkan oleh pa-kudus.go.id, yang mencantumkan kisah para Nabi sebagai penanda sejarah keagamaan dalam bulan suci Muharram.
5. Nabi Ibrahim AS Selamat dari Api Raja Namrud
Dalam riwayat lainnya, Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari kobaran api yang dibuat Raja Namrud juga dikaitkan dengan bulan Muharram. Ini menjadi simbol kekuatan iman dan pembelaan Allah terhadap para Rasul-Nya.
Referensi terkait peristiwa ini juga ditemukan dalam berbagai tafsir klasik yang dikaji ulang dalam jurnal keislaman nasional, meskipun tak seluruhnya dijadikan dalil hukum ibadah.
QnA Seputar Bulan Muharram
Q: Mengapa puasa Asyūra sangat dianjurkan?
A: Karena hadis Muslim menjelaskan puasa 10 Muharram dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu.
Q: Apakah boleh puasa sepanjang bulan Muharram?
A: Ibnu Rajab menegaskan boleh; bulan ini merupakan bulan puasa mutlak terbaik setelah Ramadhan.
Q: Mengapa puasa 9 dan 10 Muharram dianjurkan?
A: Untuk tidak meniru persis tradisi Yahudi yang hanya berpuasa 10 Muharram.
Q: Mengapa Muharram disebut bulan suci?
A: Karena merupakan salah satu empat bulan haram di Al-Qur'an dan Nabi menegaskan pentingnya menjaga kemuliaannya.
Q: Apa peristiwa bersejarah utama pada 1 Muharram?
A: Hari dimulainya Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madīnah, pembuka kalender Hijriyah.
Q: Mengapa dilarang berperang di bulan Muharram?
A: Karena Al-Qur’an dan hadis melarang perbuatan zalim dan perang saat empat bulan haram, termasuk Muharram.