Begini Dampak Serius bagi Indonesia Jika Selat Hormuz Lumpuh

Indonesia akan hadapi beberapa dampak jika harga minyak dunia melonjak karena krisis di Selat Hormuz.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 24 Juni 2025, 13:45 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat energi dari Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, menilai Indonesia akan terkena imbas serius jika penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran berlangsung lama.

Sebab, hampir seluruh pasokan minyak Indonesia berasal dari impor, dan harga di pasar global akan sangat menentukan biaya energi dalam negeri.

"Jika harga minyak dunia melonjak tajam akibat krisis di Selat Hormuz, Indonesia sebagai negara importir bersih akan menghadapi beberapa dampak, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri," kata Iwa kepada Liputan6.com, Selasa (24/6/2025).

Penutupan Selat Hormuz bukan persoalan sepele. Jalur ini menjadi penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab ke pasar internasional. Diperkirakan sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia mengalir melalui selat ini setiap harinya.

Dia menuturkan, jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama mulai dari beberapa minggu hingga berbulan-bulan pasar energi akan memasuki masa turbulensi.

Alhasil, negara-negara pengimpor akan mencari pasokan dari sumber lain yang lebih mahal dan jauh, sehingga turut mendongkrak harga.

"Hal ini akan menyebabkan penurunan pasokan minyak global, yang dapat memicu kenaikan harga minyak dunia. Dan tentunya Indonesia yang akan mendapatkan dampaknya. Potensi harga minyak dunia mencapai USD 100-130 per barel," ujarnya.

BBM Naik dan Inflasi Tak Terhindarkan

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Bagi Indonesia, dampak utamanya akan terasa pada kenaikan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi. Selain itu, biaya transportasi dan logistik juga akan terdampak, yang kemudian akan memicu kenaikan harga barang dan jasa di berbagai sektor.

Ia juga mengingatkan, beban subsidi energi bisa membengkak jika pemerintah tidak segera mengantisipasi. Hal ini bisa menekan fiskal negara dan memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang tidak populer seperti penyesuaian harga BBM.

"Perlu dilakukan langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya, seperti diversifikasi sumber energi dan meningkatkan efisiensi energi," ujar dia.

 

Perlu Strategi Jangka Panjang

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Menghadapi kondisi ini, Iwa mendorong pemerintah agar tidak hanya bersikap reaktif, tetapi segera menyiapkan strategi energi jangka panjang.

Ia menyarankan beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan, seperti diversifikasi sumber energi, termasuk mengembangkan energi baru dan terbarukan, peningkatan efisiensi energi di sektor industri dan transportasi, optimalisasi sumber daya alam dalam negeri, serta percepatan eksplorasi dan produksi migas nasional.

Iwa juga menekankan pentingnya investasi di sektor energi domestik dan insentif bagi inovasi teknologi energi terbarukan sebagai upaya jangka menengah dan panjang.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya